Selasa, 29 Desember 2015

Allah Maha Romantis #1



Tempo hari UAS mata kuliah polimer, keramik dan komposit diselenggarakan. Materinya begitu banyak, dan harusnya juga waktu yang kupunya untuk belajar juga sangat ban"yak. Jeda antara matakuliah yang diujikan sebelumnya dengan mata kuliah keramik ini satu minggu. Namun, apa boleh buat, menulis 3 naskah cerpen anak (berkali-kali ditulis ulang karena dikomentarin ketinggian, tidak sesuai untuk anak-anak) dan karena ketidakbecusan diriku dalam waktu, membuat satu minggu belajar satu mata kuliah pun terasa kurang. Materi yang kupegang belum lengkap, so aku selingi dengan belajar elemen mesin dua.

Sampai malam sebelum ujian, merasa sangat belum siap. Dua fotokopian materi baru kudapatkan sore harinya, dilanjutkan dengan agenda asrama KIP serasa belum cukup untuk membuatku yakin besoknya bisa lancar jaya.

“Besok aku akan berangkat lebih pagi dan bertanya kepada kawan-kawan.”

Tapi tetap saja, ketika aku berangkat. Banyak yang belum kupahami. Aku berangkat agak pagian. Sekaligus sarapan di tempat langganan.

Jalanan begitu macet di Jalan Kaliurang, ketika sampai di jurusan, aku baru menyadari sesuatu. Telah kuperiksa seluruh isi tas, cek bagian sana, cek bagian lain namun tetap saja tidak kutemukan.

“Kartu ujianku tidak ada, nampaknya tertinggal di asrama.”

***

Rencananya si berangkat pagian agar bisa tanya teman-teman bagian-bagian yang masih belum kumudeng. Tapi perjalanan untuk bolak balik asrama mengambil kartu ujian tidak menyisakan waktu bahkan hanya untuk duduk bersama menunggu jam ujian. Pengawas telah masuk dan seluruh mahasiswa telah berada di ruang ujian.

Aku duduk di bangku luar ruangan sejenak. Membalik-balikkan kertas tanpa benar-benar membaca. Benar-benar hanya membaliknya.

Aku masuk ruangan.

***

Semoga hasil memuaskan, karena serasa tangan digerakkan tanpa kesadaran. Aku menulis jawabannya. Terus menulis jawabannya.

Rumus-rumus yang dipakai tidak benar-benar kuhafal, tapi seolah ingat di posisi mana rumus tersebut berada ketika aku membolak-balikannya.

Sempat ragu-ragu dan ternyata ketika ujian selesai. Rumusnya benar.
***

Seolah Dia ingin berkata padaku.

“Bisa atau tidak bisa kau mengerjakan ujianmu itu bukan perkara sebanyak apa belajarmu, selama apa kau membaca materi dari dosenmu. Tapi perkara apakah Aku mengijinkanmu untuk bisa mengerjakannya atau tidak.

Dia Maha Romantis, tempo hari aku hanya bisa mengatakan Dia Maha Romantis.


29 Desember 2015

Pasca ujian Keramik

0 komentar:

Posting Komentar