Minggu, 08 Juli 2018

Pamitan

Bukan menghilang, tapi hanya pindah rumah.
Bukan berhenti, tapi hanya sejenak menghela nafas.
Bukannya bosan, hanya saja sedang mencari teman.
Rumah ini adalah kosan, sedangkan yang ingin kudiami sekarang berupa kontrakan.

Jadilah pindah kesini,
http://www.anaksenja.com

Mampirlah di waktu senggangmu ke rumah kami,
Meskipun bukan cemilan yang disuguhkan, hanya cerita-cerita yang semoga bisa menggantikan renyahnya bakwan yang baru matang.

Minggu, 04 Februari 2018

Minggu, 26 November 2017

Pitnah

"Pitnah itu ketika kau bilang ddiriku malas menulis. Padahal aku bukannya malas, hanya saja menurutku waktu terbaik untuk menuliskan ide brilian itu besok, besoknya lagi, lagi dan lagi. Bukan hari ini."





- Tulisan sederhana ini bisa menang di event grup FLP Jogja bertemakan “Pitnah”, mungkin karena waktunya yang sedikit kali ya, jadi yang senior belum buka grup dan ikutan lombanya.

Jago dan Lemah

Angin masih kuat berhembus, menggoyangkan dedaunan dari pohon bambu dan kelapa di sebelah rumah. Debu-debu turut beterbangan, sesekali membentuk miniatur pusaran beliung yang membuat sampah plastik dan daun berputar-putar. Angin itu masih berhembus kuat, hingga menggoyang-goyangkan pintu kamar dimana ada seorang lelaki yang tengah berbaring di kasur lesehannya.
Lelaki yang sedang memegangi gawai putihnya, mengetikkan pesan ke seorang kawan. Ia bertanya apakah ada masukan atau komentar terkait tulisan yang ia buat.

“Sori banget, baik cerbung, fabel maupun novel ini nggak dapat feelnya. Aku hanya melihat orang dewasa yang kekanakan. Bukan anak kecil dengan segala dunianya. Kalau baca tulisanmu, sorry to say, Flat.”

Pesan-pesan lain pun masuk, seolah saling berebut masuk ke gawai putih itu.

“Intinya, aku suka ide-ide ceritamu. Tapi delivery-nya nggak dapat. Kau jago di ide, tapi justu lemah di penyampaian dan gimana agar bisa membangkitkan feel melalui narasi. Ceritamu masuk di akal dan logika, cuman gersang.”

Lelaki itu memejamkan matanya barang sejenak. Berusaha menikmati hembusan angin yang masuk ke kamarnya.

“Mungkin saja aku terlalu terbuai dengan kalimat ini. Menulislah sebanyak-banyaknya. Ntar juga kau bakalan bisa dengan sendirinya.”

“Kalimat itu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Yang kutahu pasti, kalau kau tidak pernah menuliskannya sama sekali, kau tidak akan belajar apa-apa.”

                

Waktu Luang dan Tulisan

Belakangan, meskipun aku menyakini bahwa waktu paling sempit untuk menulis adalah ketika masa di asrama, pada kenyataannya aku dipaksa mengakui bahwa tulisan paling banyak lahir justru ketika berada di asrama.


Kubertanya dalam hati, jadi apa hubungannya waktu luang dengan banyaknya tulisan yang tercipta? Sampai detik ini pun belum kutemukan jawabannya.

Senin, 09 Oktober 2017

Aku Bukan Mereka


Seingatku, jarang sekali aku membuat sebuah tulisan yang benar-benar ingin saya tuliskan di kepala langsung, tanpa mencari-cari sebuah adegan yang kira-kira tanpa dikatakan dengan gamblang pun maka pesannya bisa tersampaikan lewat cerita yang kukarang tersebut.

Tapi malam ini bukan malam biasa, malam ini berbeda. Entah kenapa hanya hendak bercerita tanpa mengarang, hanya ingin bercerita apa yang ada di kepala.

Malam itu malam Jumat, aku buru-buru ke stasiun ke Pekalongan untuk memenuhi panggilan wawancara perusahaan di Karawang. Yang terpikirkan saat itu, hanya kereta. Bis tak pernah jadi pilihan pertama karena beberapa kali naik bis, perut terasa mual. Bahkan pernah sampai naik bis dari kediri-jogja hanya memejamkan mata, tak berani membuka kelopak karena bis tersebut berasa naik jet di darat. Kecepatan kereta, namun di tengah kota. Ngeri pokoknya.

Nah, kereta Gumarang datang, aku langsung duduk di bangku 17D gerbong 1. Di tempat tersebut sudah ada tiga orang yang menduduki jatah empat kursi berhadap-hadapan. Di sebelah kiriku ada mbak-mbak pakai jaket transcorp pakai masker, di depanku ada dua mas-mas yang sedang menatap layar handphone mereka masing-masing, menurutku mereka berdua juga tidak saling kenal satu sama lain.

Kau tahu kan kalau perjalanan kereta itu bisa jadi memerlukan waktu lama. Lima jam lebih, nah bagian ini yang menjadi kepikiran di sepanjang perjalanan.

“Kok aku tidak bisa mengobrol ya?”

Kalimat tersebut pula yang kukirimkan ke grup nakula.

 “Ya tinggal nanya mau kemana, Jon. Ntar juga pembicarakan bakalan mengalir sendiri.” Yuda membalas chat di grup.

 “Aku juga kadang enggak ngobrol, Jon.” Jawab Ibnu Fajri.

 “Aku yo podo.” Jawab Aqmal. Jujur saja aku tidak menyangka sih Aqmal juga gitu.

Saat itu, aku hening sejenak dan menghembuskan nafas berat. Kemudian kuketikkan lagi alasannya kenapa tiba-tiba nanya tentang mengajak ngobrol teman duduk di kereta kepada grup nakula.

 “Aku itu jujur wae merasa iri kalau baca tulisan-tulisan Yuda, Isti ataupun Putri yang sering dapat sesuatu dari obrolan orang di depan atau sebelah mereka ketika di kereta. Kadang semacam hikmah atau pelajaran dan inspirasi gitu.”

Terus salah satu dari nakula nyeletuk di chat.

 “Kalau Putri wajahnya kayak kamu, Jon. Pasti pada kabur semua.”

Kubaca berulang-ulang, dan hanya dengan mengingatnya saja, membuatku ketawa-tawa sendiri tidak jelas.

Aku membuka kembali handphoneku dan mendengarkan video opening lagu dari anime barakamon. Karena tidak punya headset, kusetel volume rendah dan menempelkan handphone itu ke telinga kiriku.

Aku bukanlah dirimu
Dan kau juga bukan diriku
Karena itulah aku akan menjadi diriku sendiri
Dan kau akan menjadi dirimu sendiri juga
Karena itu kita bertemu dari arah jalan yang berbeda dan bergandengan tangan
Di sana cinta pun bisa terlahir

Sabtu, 15 Juli 2017

*What I Wish I Know When I was Maba*


-Catatan dari seorang mahasiswa biasa-biasa saja-

Kita sudah sering dengar sebuah kiat-kiat dari mereka yang memiliki prestasi gemilang, atau dari seorang kakak yang namanya begitu mentereng, juara di sana-sini, sosok inpiratif dan segala sosok yang membuat kita terkagum-kagum dan layak menjadi panutan. Tapi pernahkah kita mendapatkan nasehat dari seorang mahasiswa yang biasa-biasa saja? Nah karena mungkin ada yang belum pernah, maka saya selaku salah satu tersangka dari mahasiswa biasa-biasa saja tersebut akan sedikit memberikan wejangan (ceileh wejangan). Siapa tahu bagi kalian yang bulan depan sudah menyandang status mahasiswa bisa memberikan secuil manfaat.

Kalau tidak salah sekitar lima tahun yang lalu pertama kalinya menginjakkan kaki di tanah perguruan tinggi. Saat itu jujur merasa bingung banget dan muncul banyak sekali pertanyaan di kepala. Kebingungan kedua yang muncul setelah yang pertama suka rela menginap di sebuah masjid di Semarang saat tes SBMPTN dulu. Dan itu sendirian tak ada kawan (hiks).

Aku kudu piye?* Baiknya kuliah itu ngapain aja? Pokoknya waktu itu pikiran nge-blank dan berharap ada orang yang bisa memberitahuku hal-hal yang baiknya kutahu saat menjadi mahasiswa baru a.k.a maba.

Nah, karena lima tahun lalu aku tidak mendapatkan sosok yang kurindukan itu (ceileh dirindukan), makanya tulisan ini bisa dibilang sebagai balas dendam. Lho kok balas dendam, kak? Iya agar kalian tidak merindu selama itu. (apa sih?).

So, setidaknya ada beberapa poin tentang what I wish I know when I was Maba. Apa yang kuharap aku tahu ketika aku menjadi Maba dulu.

1.      Seriuslah dalam belajar

Kak, nasehatnya kok mainstream banget? Justru karena mainstream itu jadi dulu aku sampai terlupa. Kondisi ketika kuliah bisa dibilang beda jauh dengan ketika sekolah. Pas sekolah, kita bakalan berangkat pagi, pulang agak sore, dari senin sampai sabtu. Guru akan memarahi ketika kita malas atau bandel. Di kuliah? Tidak seperti itu. Kadang ada satu hari yang isinya full kelas (ditambah praktikum) dari pagi sampai mau menjelang maghrib, terus besoknya malah kosong melompong tak ada kelas dan takkan ada tuh dosen yang akan mengejar-ngejarmu untuk belajar.

Lalu apa maksudnya serius dalam belajar? Belajarnya dicicil, dipahami dan diserap, bila perlu ditelan sampai seperti kita ngeh banget kalau rumus persegi itu sisi kali sisi. Tapi ingat ya, dipahami bukan dihafal.

Kak emang tidak bisa ya kita belajar pas mendekati ujian saja, malam sebelum ujian gitu? Bisa, bisa banget. Bisa dapat nilai A malah kalau latihan dari soal-soal tahun sebelumnya. Tapi yakin seminggu dua minggu kemudian ditanyakan perihal materi kalian masih ingat?

Materi di  perkuliahan itu biasanya berantai. Kalau sudah gagal paham di mata kuliah semester 1, maka bakalan puyeng di mata kuliah-mata kuliah semester selanjutnya.

2.      Akrablah dengan dosen, bila perlu dekati anaknya.

Maaf yang kalimat kedua hanya ngawur, hehe. Kak kalau akrab dengan dosen ntar nilainya bakalan dikasih bagus ya, kak? Tidak seperti itu! Dosen itu fair, mau sedekat apapun dengan beliau, kalau kita nggak mudeng, dosen dengan senang hati ngasih nilai dengan huruf seperti orang tertawa a.k.a (D). Tapi intinya, dengan dekat dengan dosen banyak sekali manfaatnya. Kita bisa berkonsultasi, menjadikan beliau pembimbing, ditawari proyek, mendapatkan surat rekomendasi ataupun mendapat wejangan khusus dari pengalaman beliau yang pastinya begitu berharga.

Kak, nantinya dosen kita bakalan banyak banget, kan? Iya betul banget. Dari dosen yang banyak banget itu, setidaknya pastikan ada beberapa dosen yang kau dekat dan beliau mengenalmu dengan baik.

Caranya bagaimana? Aktif di kelas, jadi asisten dosen maupun asisten laboratorium dan tentunya dekati secara personal. (Jangan dekatin anaknya, itu namanya modus)

3.      PDKT beberapa organisasi, habis itu lamar.

Pas masuk awal kuliah, kau PDKT beberapa organisasi tuh. Tapi kalau boleh ngasih saran, pilih organisasi yang sesuai minat dan bakatmu dan perhatikan juga ruang lingkup organisasi tersebut.

Akan ada organisasi tingkat jurusan, tingkat fakultas, tingkat universitas, organisasi daerah asal. Nah lho, dilihat tingkatnya saja sudah ada 4. Padahal di tiap tingkat itu ada anak-anaknya lagi. Banyak kan? Saran saya di tiap tingkat itu minimal satu didaftari untuk fasa maba.

Nah setelah di tahun kedua, fokuslah di 2-3 organisasi saja. Jadilah ‘sesuatu’ di sana. Bisa ketua, sekjend atau posisi penting lainnya. Itu lebih bagus daripada ikut sepuluh (iki lebay) namun tidak jadi apa-apa. Kak organisasi yang lain bagaimana? Tetaplah jadi anggota, tetaplah sering muncul dan berkawan dengan anggota-anggotanya. Tidak dipilih bukan berarti dilupakan, kan?

4.      Buatlah banyak pertemanan, lalu bentuk geng.

Kalau ada kata geng, pikiran kita langsung buruk sih ya? Ingatnya sama geng begal atau geng nero atau geng-geng yang diberitakan negatif di televisi, sih.

Darimana dapat pertemanan? Dari organisasi itu, dari temennya temen, pokoknya ketika selesai kelas, jangan langsung balik kosan terus tidur, mending duduk-duduk sebentar untuk ngobrol-ngobrol.

Setelah punya banyak teman, kan kita otomatis tidak bisa dekat dengan semua orang kan? Nah itulah yang kumaksud sebagai geng. Ada sekumpulan orang yang kau begitu dekat dengan mereka. Ketawa bareng, belajar pas ujian bareng, kadang futsal atau badminton bareng, bisa juga ke pantai bareng.

Banyak juga lho geng belajar bareng pas mau dekat-dekat masa ujian.

Kelihatannya sih sepele, tapi manfaatnya banyak lho.

5.      Buatlah Curriculum Vitae (CV)

Janji deh ini poin yang terakhir, hehe.

Apa itu CV? Sebuah catatan tentang perjalanan hidupmu, apa yang kau lakukan dan apa yang kau raih. Biasanya sih digunain untuk melamar kerja.

Kak, tapi kan aku maba, masa udah diminta buat CV. Belum saatnya kan? Nanti aja pas lulus ketika mau melamar kerja. Iya kan?

Nah, itu juga yang ketika maba dulu aku pikirkan. Ngapain juga buat CV pas awal-awal kuliah. Tapi aku rasa itulah yang paling penting.

Tulislah CV apa yang ingin kau raih dari kau maba sampai lulus nanti. Jadi CV di sini merupakan kumpulan target-target yang ingin kau capai selama empat tahun studimu (normalnya 4 tahun). Misalnya, juara di tingkat nasional, exchange ke luar negeri, conference, jadi ketua di organisasi A, jadi asisten lab dan asisten dosen, pernah mengikuti pelatihan C, menguasai bahasa Arab, Jepang Cina dan masih banyak lagi target-target yang setiap orang pasti berbeda.

Semakin terperinci target di CV masa depanmu. Maka akan semakin bagus.

Lima poin itu dulu ya (akhirnya selesai juga ngetiknya). Nanti kalau terpikirkan poin yang lain lagi, insya Allah saya susulkan di tulisan selanjutnya.

Intinya sih, tulisan ini sebagai catatan dari seorang mahasiswa biasa-biasa saja kepada kalian yang kelak akan menjadi mahasiswa luar biasa yang mengguncang jagat raya.

See you on top, guys! – sambil melambaikan tangan.

Dari : Irkham Maulana – Mahasiswa Biasa Biasa Saja

*Catatan : Judul ini terinspirasi dari judul What I wish I know when I was 20 karya Tina Seelig