Minggu, 07 Oktober 2018

Sabtu, 22 September 2018

Lingkaran Setan


Lingkaran Setan

Anda merasa cemas ketika harus menghadapi seseorang dalam kehidupan Anda. Kecemasan tersebut membuat Anda tidak berdaya dan mulai bertanya mengapa Anda bisa begitu cemas. Sekarang, Anda mulai cemas karena menjadi cemas. Oh tidak! Kecemasan itu berlipat ganda! Sekarang Anda cemas tentang kecemasan Anda, yang menyebabkan lebih cemas. Cepat, whiskey… mana whiskey?

Anda gampang kesal terhadap hal paling bodoh tanpa tahu alasannya. Dan fakta bahwa Anda mudah sekali marah membuat Anda semakin sering marah. Dan kemudian, ketika mulai reda, Anda menyadari bahwa selalu marah-marah membuat Anda menjadi seseorang yang berpikiran dangkal dan kejam, dan anda benci akan hal itu; Anda sangat membencinya sehingga Anda marah pada diri sendiri. Sekarang lihat diri Anda: Anda marah pada diri Anda yang marah-marah karena mudah marah. Ah, persetanlah! Mana dinding, rasakan tinjuku!

Atau Anda begitu khawatir tidak bisa selalu melakukan hal dengan benar sehingga Anda menjadi khawatir betapa besar kekhawatiran Anda. Atau Anda merasa begitu bersalah atas setiap kesalahan yang Anda buat sehingga Anda mula merasa bersalah tentang betapa bersalahnya Anda. Atau Anda sedih dan kesepian begitu sering sehingga membuat Anda bahkan lebih sedih dan kesepian hanya karena memikirkannya.

Selamat datang di Lingkaran Setan. Anda bisa mengalaminya beberapa kali atau lebih. Mungkin sekarang Anda sedang mengalaminya: “Tuhan, saya berada dalam Lingkaran Setan-saya seorang pecundang karena mengalaminya. Saya harus berhenti. Oh Tuhan, saya merasa seperti seorang pecundang karena menyebut diri saya seorang pecundang. Saya harus berhenti memanggil diri saya seorang pecundang. Aduuh, kurang asem! Kenapa saya malah mengucapkannya lagi! Nah, ‘kan? Saya sungguh pecundang! Argh!

Senin, 23 Juli 2018

Mony



Mony adalah seekor monyet. Ia suka makan apa saja, selama itu bisa digigit, dikunyah dan ditelan. Tentu Mony tidak suka batu, karena ia pernah mencobanya dan yang ada malah giginya hampir patah ketika menggigitnya.

Mony juga awalnya mau makan rumput, tapi ketika ia memakannya, semua kawan dan monyet dewasa memandangnya dengan tatapan heran dan tidak percaya, jadilah Mony tidak mau makan rumput lagi meskipun sebenarnya ia suka. Rumput bukan makanan monyet, hal itulah yang ia terus percaya. Hingga pada suatu hari, Mony sesekali mencoba menelan rumput kembali, tapi ia muntahkan seketika. Padahal rumput yang sama dan tentunya rasa yang sama.

Suatu hari, ayah Mony pulang dari hutan di seberang lautan dengan membawa buah yang beraneka ragam. Pisang, semangka, buah naga, anggur, kelengkeng, manggis, tebu, dan lain-lainnya. Jumlahnya memang tidak banyak, tapi ayahnya juga membawa bibit segala jenis buah yang ia bawa.

Dari itu semua, Mony sangat menginginkan pisang. Ia ingin segera mencicipinya, buah yang menurut para monyet di hutan tersebut adalah buah terlezat di dunia. Dan karena semua monyet bilang seperti itu, jadilah Mony percaya bahwa kelezatan pisang tiada tara. Mony tak ingin mencoba buah-buah lainnya yang selama ini belum pernah ia rasakan rasanya. DI pikrannya, hanya pisang, tak perlu yang lain.

“Mony, sayang. Sabar, Nak. Itu pisangnya belum matang, masih hijau begitu. Sabar ya, mending Mony simpan dulu beberapa hari biar matang dulu.”

Mony menahan air ludahnya berkali-kali.

“Baiklah, Pisang yang terbaik adalah pisang yang bisa dimakan!” Mony menyerah. Ia menyimpan sendiri pisangnya, menengoknya berkali-kali, menunggu pisang yang berwarna hijau untuk menguning.

Dua malam berikutnya, beberapa anak monyet di hutan tersebut dilanda sebuah penyakit. Penyakit yang kata tetua Monyet akan sembuh hanya bila diberi obat berupa pisang yang baru matang.

Melihat kondisi anak-anak monyet yang begitu parah dan menggigil, akhirnya Ibu Mony menawarkan pisangnya untuk dijadikan obat. Selang beberapa saat, anak-anak tersebut berangsur membaik.

“Terima kasih pisangnya, ya. Saya tidak tahu lagi bagaimana jadinya bila Ibu Mony tidak memberi pisang kepada anak-anak saya!” ujar Ibu anak-anak monyet tersebut penuh terima kasih.

Ibu Mony hanya tersenyum, di benaknya sekarang merasa bingung dengan pisang yang sudah habis. Pisang yang ditunggu-tunggu oleh anaknya, Mony.

“Ibu, pisang Mony mana?” Tangisnya pecah saat ia tidak bisa menemukan pisang yang selama ini ia nantikan. Ia sudah mencari kesana-kemari, tapi tidak kunjung ketemu juga.

“Pisangmu Ibu jadikan obat, Nak. Anak-anak monyet sebelah sakit parah, dan pisang yang baru matanglah yang jadi obatnya.”

“Tapi kan, Bu?” Tangisnya semakin keras, dari sudut matanya bercucuran air mata,  sambil memukul-mukulkan tangannya ke tanah. Mony menangis, untuk waktu yang cukup lama sampai ayahnya pulang.

Ibu Mony menceritakan semuanya kepada ayah.

“Mon, lihat mata ayah.”

Mony menoleh, masih dengan tangis yang cukup keras.

“Kan pisang itu juga buat kesembuhan teman-teman Mony juga, kalau teman-teman Mony sakit, ntar Mony mainnya sendirian dong. Kan nggak enak kalau mainnya sendirian doang.”

Suara tangisnya berkurang.

“Yang paling penting, Mony menangis meraung-meraung seperti ini. Apa cuma pisang itu yang Mony punya?” tanya Ayah Mony sambil mencoba untuk menyuapi sepotong semangka kea rah mulut Mony.

“Mony belum pernah makan semangka, kan?”

Mata Mony yang basah karena tangis, kali ini berbinar. Ia belum pernah makan semangka sebelumnya, dan tidak menyangka kalau rasa manis dan berair dari semangka bisa seenak itu. Ayah Mony kemudian menyuapi buah-buahan lain, dan Mony takjub dengan rasa-rasanya. Apalagi kelengkeng dan tebu. Ia tidak pernah berpikir, bahwa sesuatu yang berbentuk seperti tongkat itu bisa ia gigit dan mengeluarkan rasa manis yang luar biasa.

“Mony masih punya banyak hal lain, kan? Dan yang paling penting, ayah membawa hadiah ini. Bibit-bibit yang Mony makan tadi. Dari bibit ini, Mony bisa menanamnya sendiri dan Mony akan dapat buah yang lebih banyak lagi dari ini kalau Mony benar-benar merawatnya.”

Mony, mengangguk. Pisang yang ia tangisi, sudah tidak lagi ia pikirkan. Ia kini justru merasa bersemangat untuk segera menanam bibit-bibitnya.

Mony adalah seekor monyet, ia suka makan apa saja yang menurutnya dan terkadang ia suka makan rumput juga seperti sedia kala. Tak peduli bagaimana tanggapan monyet lain melihatnya. Ketika suka, ia akan bilang suka. Ketika tidak suka, ia akan bilang tidak suka.


 
Gambar dari sini

Minggu, 08 Juli 2018

Pamitan

Bukan menghilang, tapi hanya pindah rumah.
Bukan berhenti, tapi hanya sejenak menghela nafas.
Bukannya bosan, hanya saja sedang mencari teman.
Rumah ini adalah kosan, sedangkan yang ingin kudiami sekarang berupa kontrakan.

Jadilah pindah kesini,
http://www.anaksenja.com

Mampirlah di waktu senggangmu ke rumah kami,
Meskipun bukan cemilan yang disuguhkan, hanya cerita-cerita yang semoga bisa menggantikan renyahnya bakwan yang baru matang.

Minggu, 04 Februari 2018

Minggu, 26 November 2017

Pitnah

"Pitnah itu ketika kau bilang ddiriku malas menulis. Padahal aku bukannya malas, hanya saja menurutku waktu terbaik untuk menuliskan ide brilian itu besok, besoknya lagi, lagi dan lagi. Bukan hari ini."





- Tulisan sederhana ini bisa menang di event grup FLP Jogja bertemakan “Pitnah”, mungkin karena waktunya yang sedikit kali ya, jadi yang senior belum buka grup dan ikutan lombanya.

Jago dan Lemah

Angin masih kuat berhembus, menggoyangkan dedaunan dari pohon bambu dan kelapa di sebelah rumah. Debu-debu turut beterbangan, sesekali membentuk miniatur pusaran beliung yang membuat sampah plastik dan daun berputar-putar. Angin itu masih berhembus kuat, hingga menggoyang-goyangkan pintu kamar dimana ada seorang lelaki yang tengah berbaring di kasur lesehannya.
Lelaki yang sedang memegangi gawai putihnya, mengetikkan pesan ke seorang kawan. Ia bertanya apakah ada masukan atau komentar terkait tulisan yang ia buat.

“Sori banget, baik cerbung, fabel maupun novel ini nggak dapat feelnya. Aku hanya melihat orang dewasa yang kekanakan. Bukan anak kecil dengan segala dunianya. Kalau baca tulisanmu, sorry to say, Flat.”

Pesan-pesan lain pun masuk, seolah saling berebut masuk ke gawai putih itu.

“Intinya, aku suka ide-ide ceritamu. Tapi delivery-nya nggak dapat. Kau jago di ide, tapi justu lemah di penyampaian dan gimana agar bisa membangkitkan feel melalui narasi. Ceritamu masuk di akal dan logika, cuman gersang.”

Lelaki itu memejamkan matanya barang sejenak. Berusaha menikmati hembusan angin yang masuk ke kamarnya.

“Mungkin saja aku terlalu terbuai dengan kalimat ini. Menulislah sebanyak-banyaknya. Ntar juga kau bakalan bisa dengan sendirinya.”

“Kalimat itu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Yang kutahu pasti, kalau kau tidak pernah menuliskannya sama sekali, kau tidak akan belajar apa-apa.”