Rabu, 30 Maret 2022

Tempat Sampah

 


 

Sore kemarin, orang-orang kantor mengadakan makan bersama. Kupilih tempat duduk yang sekiranya akan satu kelompok dengan orang-orang yang tidak terlalu doyan makan. Dirimu pasti tahu kan mengapa aku memilih seperti itu? Iya karena agar bisa mencicipi menu lebih banyak dan ekstremnya lagi menghabiskan segalanya yang bisa kulahap.

Hidangan telah tersaji, dengan begitu banyaknya orang yang datang, menu yang dihidangkan adalah menu-menu yang dimakan rombongan. Ikan gurame, sate, sayur kangkung, bakwan, dan tak lupa ayam. Semua orang menyantapnya, bahkan sampai ada yang berpindah ke kelompok meja lain karena memang menu tiap deretan meja berbeda karena perbedaan ‘kasta’.

“Itu gurameh goreng tepungnya tidak dimakan?”

“Enggak, kering soalnya, tidak berkuah atau bersambal basah,”

Semua yang mendengar kalimat itu, ikut mengangguk. Mereka sepertinya terlihat sepakat kalau menu guramehnya akan ‘seret’ di mulut.

Sejak dari tadi aku menyantap makananku dengan sendok dan garpu. Melihat gurameh yang hampir tidak tersentuh dan hanya terpotong secuil, kuambil hand sanitizer di dalam tas lalu kusemprotkan di kedua tangan. Kuraih gurameh yang ‘tidak laku’ itu.

“Kamu doyan dan laper banget ya?”

“Enggak juga, tapi sayang banget kalau tidak ada yang makan,”

“Karena sekarang sudah jadi bapak-bapak, jadi mulai memikirkan tempat sampah ya?”

Kunyahanku terhenti. Iya di saat itu, entah bagaimana seolah aku tetiba berpikir keras dan baru menyadari akan suatu hal. Sesuatu tentang tempat sampah.

“Iya mba, aku cuman sayang saja sama makanannya kalau tidak kumakan, ia hanya akan terbuang di tempat sampah.”

Semakin banyak makanan yang tidak termakan, semakin cepat penuh pula tempat sampahnya. Padahal aku pun agak malas bila harus sering-sering membuang sampah terutama makanan.

Pernah suatu ketika di acara pernikahan kakak perempuan, aku iseng untuk membantu cuci piring di dapur. Dadaku sesak, karena dengan menjadi petugas cuci piring, ternyata akan melihat dengan mata kepala sendiri betapa banyaknya makanan yang terbuang karena para tamu mengambil makanan prasmanan terlalu banyak dari yang bisa mereka habiskan. Rendang, ayam, telur, kentang dan masih banyak lagi.

Padahal makanan tersebut bisa jadi diinginkan oleh orang lain yang sedang kelaparan.

Makanannya juga sedih karena hanya akan terbuang dan dihinggapi lalat tanpa ada kemanfaatan.

Tempat sampah pun jadi terlalu cepat penuh karena kita terlalu berlebihan.

 

Sekarang sedang merasa kaku dalam menulis, mohon dimaklumi ya. . .