Jumat, 06 November 2015

Surat untuk Hilal - Grha Sabha Pramana

SURAT UNTUK HILAL

                Hilal, apa kabar?

            Rasanya aneh sekali ya kalau kutanyakan kabarmu. Setelah hari itu aku mulai berpikir untuk mengobrol juga denganmu. Meski tidak lewat lisan, tapi lewat tulisan. Hari itu aku ingin mulai bercerita banyak kepadamu? Kau tidak keberatan bukan?

            Oh ya, malam itu aku datang ke sebuah gedung besar di kampusku. Bisa dibilang si gedung pusat dari kampus bernama Universitas Gadjah Mada. Gedung Grha Sabha Pramana. Untuk apa aku bercerita tentang ini. Gedung ini megah? Sudah banyak yang bilang begitu. Jadi tak perlu kujelaskan padamu kan, Hil?

            Aku ingin bercerita kepadamu tentang sore itu.
            ***

            Pemuda itu datang. Ia telah berlari dari kedai sup buah di tepi jalan. Maksudku berlarinya dari parkiran, kalau dari tempat itu si ia memacu kencang tunggangan warna hitam miliknya.

            Waktu telah menunjukan pukul setengah lima lebih 5 menit. Pemuda itu mengirinya dirinya telat. Ternyata dia memang telat. Sayangnya, yang terlihat dari pemuda itu hanyalah segelintir orang. Beberepa laki-laki di sebelah kanan dan terdapat seorang perempuan yang duduk di sisi yang lain.

            Sosok yang ia kenal. Seorang yang ingin sekali pemuda itu tanyai banyak hal. Cerita perjalanan ke luar negerinya. Materi dari agenda yang tak bisa pemuda itu datangi sedangkan perempuan itu datang.

            Apakah pemuda itu dengan mudah bertanya, Hil? Tidak. Harus berpikir berulang kali bagaimana caranya ia bisa bertanya. Konyol, hil? Iya. Pemuda itu juga tidak tahu mengapa hanya untuk bertegur sapa dan bertanya kabar ia mengeluarkan keringat dingin. Masih butuh bagaimana berinteraksi dengan orang.

            Pemuda itu mendekat. Menyilakan kedua tangan di atas meja. Menyandarkan dagu di atasnya.

            “Bagaimana tugas bulananmu?”

            Pertanyaan itu melayang tapi salah sasaran. Ia keluar dari kerongkongan, tapi arahnya tidak tertuju ke dirinya. Malahan justru ke orang di depannya. Itu pun diucapkan dengan intonasi tidak jelas.
            ***

            Bagaimana pendapatmu mengenai cerita fiktif itu? Bagus penulisannya? Sudah improve kah pembelajaran dalam merangkai kata? Oh ya, yang paling penting bagaimana harusnya yang pemuda itu lakukan.

            Pernah tidak Hilal komunikasi dengan orang lain via chat? Kau bisa akrab dengan orang lain namun ketika kau bertemu orangnya secara langsung kau hanya membisu. Seperti dua orang asing yang terpaksa bertemu. Hening. Kaku.

            Aku lupa, dulu kau tidak memakai itu ya, Hil? Makanya kau begitu dikenal oleh kawan-kawanmu karena kau begitu menyukai yang namanya perjumpaan. Kau begitu menghargai sebuah senyum dari obrolan.


            Oh iya, yang disini sedang merenung. Hilal disana sedang apa ya?

0 komentar:

Posting Komentar