Kamis, 21 April 2016

Rugi Menemukan Permata



Di suatu suatu sore yang cerah, ditemani siluet mentari dengan warna kemerah-merahan. Ihrom memutuskan untuk berjalan-jalan menusuri pantai impian yang berjarak kurang lebih 20km dari tempat tinggalnya.

Sebenarnya kedatangan Ihrom hari itu bukanlah suatu perkara yang begitu penting memang. Ia berusaha ‘menghabisi’ waktu untuk menunggu berbuka dengan sedikit menikmati indahnya pantai yang telah lama terlupa akibat jeratan pekerjaan yang tidak kunjung memiliki waktu jeda. Yap, sebuah perjalanan dimana orang-orang sekarang lebih enak menyebutnya dengan sebutan ‘ngabuburit’. Tak tahu dari bibir siapa kata itu pertama kali terucap. Yang jelas kata itu akan selalu menjadi trend di kala bulan puasa penuh suka cinta mampir dalam hari-hari dunia.

Kicauan burung camar yang saling bersaut-sautan dan juga deburan ombak yang gulungannya saling susul menyusul bak seorang anak kecil yang mengejar kawan ‘jahat’ yang tega menjahilinya. Membuat Ihrom terbenam dalam perasaan takjub hingga ia melupakan apa yang dari tadi mengganggu dan berdendang merdu dalam perutnya. Rasa Lapar

Langkah demi langkah ia gerakan di tepian pantai. Sebuah kilatan cahaya sedikit menusuk pandangannya. Semakin ia dekati, maka semain tajam tikuman dari kilau itu. Dibuka dan disingkirkan batu batu kerikil yang menghalanginya. Sebuah Permata. Permata seukuran kelereng tergeletak persis di hadapannya.

Spontan saja si Ihrom kegirangan bukan main. Mana ada orang yang tidak ada angin tidak ada hujan tiba tiba menemukan permata? Bagaikan jalan-jalan menemukan durian runtuh secara tiba tiba. Dan yang ditemukan jauh lebih berharga dari pada satu keranjang penuh durian.

Pemuda tanggung ini memiliki kenalan yang senang mengoleksi permata. Mavia namanya. Nama yang aneh memang, seaneh hobinya pula. Tanpa pikir panjang si Ihrom membawanya ke rumah Mavia yang kebetulan lokasi nya tidak jauh dari tempat kejadian perkara.

Tawar menawar antara Ihrom dan Mavia berjalan alot. Bagaimana tidak, barang yang mereka perjual belikan seharga miliaran rupiah. Kedua pihak tentu tidak ingin merasa dirugikan. Hingga akhirnya penawaran terhenti pada angka 9 milyar. Ihrom menyetujuinya.

Uang sudah di tangan, Ihrom pulang dengan perasaan girang bukan kepalang. Tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapat rejeki nomplok sebanyak 9 milyar. Bahkan memimpikannya pun Ihrom mungkin tidak pernah.

Dalam perjalanan pulang, dalam hati yang berbunga-bunga, melewati jalanan kota yang bising akan suara kendaraan. Tiba-tiba secarik koran terbang dan menempel di mukanya. Persis seperti di film-film drama.

Ada gambar permata  sama persis yang ia temukan tadi. Baik ukurannya, maupun kilaunya. Atau bahkan mungkin memang permata tadi yang dimaksud dalam isi koran.

DICARI, PERMATA SEPERTI GAMBAR. BARANG SIAPA YANG MENEMUKAN, MAKA KAMI AKAN MEMBELINYA SEHARGA 10 MILYAR.

“Sial, aku rugi satu milyar.” desah Ihrom dalam hati yang kesal. Kesenangan tadi sempurna sudah tergantikan perasaan kesal karena ‘kerugian’ yang ia  terima.

*Yogyakarta, 2013. Cerita pertama kali banget yang pernah ditulis.

*Buku Hijau

0 komentar:

Posting Komentar