Minggu, 10 April 2016

3 Kata Hadiah dari Rehan


9 April 2016

                Malam itu, selepas sholat maghrib, kami melanjutkan agenda kepenulisan seribu mimpi kami. Semua peserta dikelompokkan ke dalam masing-masing peminatan. Dan seperti biasanya, aku memilih cerpen dari empat pilihan.

                Bingung mau menyampaikan apa sebagai materi (dadakan), aku meminta kawan-kawan cerpen kami untuk mengambil selembar kertas dan sebuah pulpen. Kuminta mereka menuliskan 3 kata bebas yang mereka pikirkan.

                Seperti biasa, sebagai jurus andalan aku ingin kami sama-sama menulis dengan menggunakan 3 kata yang tertera. Eits, tapi tiga kata itu bukan dari diri kita masing-masing, tapi apa yang dituliskan oleh kawan kita dan dibagi secara acak.

                Pelangi, Langit dan Matahari. Tiga kata itu yang kuterima dari seorang anak spesial bernama Rehan. Dan ini kembalianku kepadanya meski ia agak kesulitan membaca.
                ***

                Kau tahu matahari? Dari sekian banyak benda di langit, dia adalah makhluk Allah yang selalu ceria. Dan aku punya sebuah cerita tentangnya. Hari dimana matahari meneteskan air mata.

                Pagi itu, matahari berangkat ke sekolah seperti biasa. Ia selalu memaki baju kuning dan tas kuning, warna favoritnya. Tubuhnya besar dan bersinar. Tapi di perjalanan pulang, ia bertemu dengan langit. Kawan kelasnya yang begitu nakal di mata matahari.


                Langit melempari matahari dengan sesuatu yang tidak keras, berwarna gelap, pekat dan hitam. Menimpuk matahari dengan gumpalan awan-awan hitam.

                Matahari menjadi bersedih, karena gumpalan-gumpalan awan itu kini melekat di tubuhnya dan sulit untuk dibuang. Awan gelap yang kini membuat cahaya matahari terhalang. Matahari kini menangis.

                Itulah mengapa tak bisa kau temukan matahari di langit ketika hujan. Karena matahari sedang menangis tertutup oleh awan mendung hitam.
                ***

                “Ibu, Langit telah jahat kepadaku. Ia melempariku dengan gumpalan hitam jelek ini.”
                “Jangan kau bilang begitu. Barangkali Langit tidak bermaksud jahat padamu. Segeralah kau mandi, Nak.”

                Gumpalan hitam itu ikut rontok bersamaan dengan guyuran dari gayung. Matahari yang semula menangis, kemudian tersenyum.

                Ia tak menyangka, di sekitar tubuhnya sekarang muncul sesuatu yang indah dan penuh warna bernama pelangi.



               

                

0 komentar:

Posting Komentar