Selasa, 23 Februari 2016

Make A Better World



                Layar televisi masih menyala di ruang tengah, menampilkan tontonan kartun-kartun jaman dahulu. Cerita yang sama ketika aku masih kanak-kanak, tentang persahabatan, perjuangan berlari dengan mobil-mobilan, dan banyak kartun lain yang kukira jauh lebih layak untuk ditonton keluarga daripada balap-balapan motor di jalan atau cinta-cintaan. Merasa beruntung karena kartun itu masih ditayangkan kembali meskipun di channel televisi tidak terkenal.

                Gadis kecil itu sedang tengkurap menghapap kertas lebar. Ia daritadi hanya menggigit pensil dan menggores-goreskannya dengan menggoyangkan kepala, membuat ponytailnya ikut bergoyang. Ritual itu ia lakukan kala jeda iklan.

                “Kak Rehan…”

                Laptop yang sedari tadi di pangkuan aku tutup rapat, kugeser tempatku duduk di sebelah Lana. Tampak jelas bahwa adikku yang satu ini sedang bingung akan sesuatu. Buktinya goresan di atas kertas putih itu begitu tidak beraturan. Mau dibilang bola, tapi memiliki sudut, rumah? sangat tidak berbentuk rumah.

                “Gimana Lana? kau dari tadi ngapain gigit pensil gitu.”
                Lana juga beranjak dari posisi tengkurap, menyilakan kaki dan menghadap kakaknya dengan tangan tertahan di kedua lututnya. Ia goyangkan ke depan dan ke belakang mirip ayunan.

                “Huh..”
                “Kak, cita-cita itu apa si kak?”
                “Kok tiba-tiba Lana tanya begitu?”
                “Iya, ibu guru di sekolah ngasih tugas buat menggambar cita-cita kak. Cita-cita polisi, pilot, gitu ya kak?”

                “Tidak salah, tapi tidak semua cita-cita itu polisi dan pilot. Pokoknya kayak lana mau menjadi apa, melakukan apa kalau Lana besar nanti.”

                “Hmm….” Lana hanya manggut-manggut, jempol dan telunjuk ia sandarkan ke dagunya. Sedang perut ia lingkarkan dengan tangan kirinya.

                “Jadi apa cita-citamu?”
                Lana hanya diam saja, ia kemudian kembali ke posisi tengkurap. Mengambil pensil dan kuas. Ia sekarang sibuk menggambar.

                “Lana, kakak ke luar dulu sebentar ya.”
                Lana membalas dengan anggukan mantap.

                ***
                Gadis itu telah tertidur pulas di atas kertas ketika ku pulang. Tangannya masih menggengam pensil warna, pipinya bersandar di atas tangan yang disilangkan.

                “Yuk pindah kamar, di sini dingin.” Kuangkat Lana untuk kupindahkan ke kamarnya. Selembar kertas ikut menempel di pipinya. aku mengambilnya. Tertuliskan sesuatu yang adiknya cita-citakan di sana.

                “Aku akan membuat dunia yang lebih baik dengan mengajak kawan-kawan untuk tidak takut melakukan kesalahan baru tiap harinya. Terutama kakak saya.”


               



0 komentar:

Posting Komentar