Sabtu, 12 Desember 2015

[Perkenalan] Aku Nur Hilal

SEBUAH PERKENALAN

                Nama saya Nur Hilal, kawan-kawanku sering memanggilku dengan Nur atau Hilal. Kadang-kadang mereka seenaknya saja memanggil diriku dengan panggilan Jon. Kalian boleh memanggilku apa saja asalkan itu adalah sebutan yang baik. Kalian boleh memanggilku apa saja asalkan itu bukan menyangkut persoalan fisik. Titik nggak boleh protes.

                Lagian untuk masalah yang bulet ini, lagi sedang diusahakan buat mengurangi isi. Sudah dikurangi porsi makan tiap nangkring di warung banteng dekat rumah. Tapi apa daya, meski porsi setiap makanku sudah kukurangi, namun intensitasnya jadi lebih sering. Aku jadi bingung. Dan aku makan kalau aku bingung.

                Saat ini saya sedang menuntut ilmu di sebuah kota yang ramah penduduknya, tapi semakin panas saja udaranya. Kota pelajar dengan jutaan mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia. Masih terlalu lebar ya? Lebih spesifiknya tinggal di bangunan orange samping sawah. Tepatnya lantai dua di dekat jendela.

                ***

                Pernah nggak membayangkan ada seorang mahasiswa teknik mesin dengan kosa kata yang sering dipakai adalah semerbak wangi dan menanti hujan? Calon engineering yang justru sekarang menyenangi merangkai kata (bukan merangkai mur-baut, poros, nuangin oli, nggeber gas) untuk disampaikan kepada orang. Dia lebih suka untuk bercerita tentang kisah-kisah fiksi buatannya daripada harus dengan detil menjelaskan prinsip hukum termodinamika.

                Pemuda kelahiran pemalang 28 April 1994 ini sekarang merupakan mahasiswa tingkat akhir di jurusannya. Doakan saja tahun depan bisa segera merampungkan KP dan Tugas Akhir untuk ‘pantas’ memakai ‘gaun’ toga wisuda (aamiin). Hobinya adalah makan mie ayam, namun sayang di tanah Yogya, belum ada rasa mie yang mampu menawan hatinya. Dan hal ini pula yang sering membuatnya homesick. Satu karena orang tua, dua karena mie ayam di kampung halaman menurutnya lebih lezat.

                Sangat tidak menyukai apa-apa yang berbau rapat. Seringnya ia hanya menunduk ketika kawan-kawan lain berargumentasi dalam sebuah lingkaran. Bukan karena dia tidak punya ide, tapi duduk dalam lingkaran itu saja sudah membuat dirinya terasa tertindih beban berat di pundak. Tak jarang sehabis rapat ia merasa pusing dan langsung merebahkan badan (ini serius).

                Saking nggak yes banget sama rapat, belum lama ini mentoring KIP (semacam kumpul-kumpul tiap minggu di asrama) memberikan tugas untuk membuat life mapping. Dan kau tahu apa yang dia tuliskan di main goal? Menjadi orang yang paling memberi banyak manfaaat pada orang tanpa rapat dan banyak bicara.

                Mahasiswa Mesin Sastra ini juga memiliki impian lain, yaitu menjadi Ayah Buku. Apa itu Ayah Buku? Intinya Menjadi Penulis – Punya Rumah Baca Kumplit – Dan LSM yang bergerak dalam penyaluran buku ke daerah-daerah tertinggal. Selain itu ia juga mimpi untuk membangun sebuah peternakan yang terinspirasi dari game penggugah semangatnya sampai sekarang, harvest moon. (Tak ada tuh niatan menjadi menteri seperti di video-video tahun lalu).

                Sudah segitu saja ya perkenalan tentang orang yang satu ini. Kan gak enak kalau diceritain semua. Mendingan ketemuin secara langsung.

                Oh iya, orangnya agak pendiam, dan kadang rada terburu-buru juga kalau bicara dengan orang. Soalnya ia grogi-an. Jadi mohon dimaklumi yaa

                Seee yooooou…

Jangan lupa bersyukur ^^
Jangan lupa bahagia ^^

Jumat, 11 Desember 2015

Lubang dan Perlakuan



                Orang bodoh itu mereka yang terjatuh ke dalam lubang kemudian kembali jatuh di lubang yang sama.
                Orang pintar itu adalah mereka yang ketika terjatuh dalam lubang, ia tidak akan jatuh pada lubang itu untuk kedua kalinya.
                Orang bijaksana itu mereka yang tak perlu jatuh ke dalam lubang agar tahu bagaimana menghindari lubang karena belajar dari pengalaman orang lain.
                Dan,

                Orang yang luar biasa adalah mereka yang melihat lubang, dan segera menutupnya lantaran tak ingin orang lain jatuh ke dalam lubang yang masih menganga.


Yogyakarta, 11 Desember 2015, 20.37
Di Sela Sharing Alumni Mas Nasikun yang Luar Biasa

Pintu yang Tertutup



                “Rehan, kau tidak mendaftar di SMA Favorit Kota?”
                “Tidak”

                “Kenapa?” Bukannya nilaimu begitu memuaskan? Bahkan jauh lebih tinggi dari punyaku. Aku saja benar-benar ingin kesana, tapi nilaiku tak memenuhi syarat”

                “Hmm…” Rehan justru tertunduk. Ia mencoba mengatakan sesuatu tapi bibirnya tampak kelu. Hanya terlihat bergetar-getar.

                “Aku juga ingin, teramat ingin malah. Tapi ketika aku membicarakannya kepada orang tuaku, mereka bilang mereka tidak mampu untuk membiayainya. Aku akan mencari di tempat lain saja.” Rehan mengucapkannya dengan begitu pelan, tetap dengan kepala tertunduk.
                ***

                “Han…” Lelaki itu menuntun Rehan ke depan sebuah pintu yang tertutup di sudut ruangan. Sekarang mereka sempurna sudah berdiri menghadap pintu berwarna biru itu.

                “Coba bukalah pintu itu.” Bunyi derit terdengar bersamaan dengan Rehan yang memutar tuas dan memberikan dorongan.

                “Tidak semua pintu yang tertutup itu terkunci.” Dari tangan lelaki itu ia menyodorkan secarik kertas bertuliskan penawaran beasiswa.

Rabu, 09 Desember 2015

TERUKIR ‘NAMA’ ULALA DI SANA



                Aku ingin bercerita kepadamu, sampai sekarang ada dua kelompok yang kuberi nama ULALA. Aku sendiri jujur tidak mengerti apa arti dari kata ini. Namun, terdengar begitu mengenakan saja untuk dijadikan nama grup.

                Ulala yang pertama adalah kelompok menulis yang sekarang ku nggak ngerti kudu dibawa kemana.

Dan ulala yang kedua (ini duluan) kelompok PKM-GT tahun lalu yang berjumlah 5 orang. Ada Adimas Prasetyaji, mahasiswa Tekkim yang hobi sekali dengan penelitian-penelitian. Tak jarang ia terbang ke negeri jauh di sana untuk mempresentasikan hasil karyanya. Yang kutahu dia pernah ke Taiwan. Yang tidak ku tahu? Pasti sudah banyak. Saking ilmiahnya orang ini, tiap paragraf dia akan benar-benar mencarikan sebuah referensi baik dari artikel maupun jurnal. Kalau aku mah belum kuat sampai segitunya -_-a . Saking kerennya, aku minta ajarin untuk bisa menulis, dia tidak bisa. Bukan karena tidak mau, tapi belum ada waktu. Gile sob, selain aktif dalam penelitian dia juga menjadi ketua petroleum UGM.  Salah satu lagi hobinya yang patut dicontoh oleh kita semua. Dia suka banget beli buku untuk kemudian tidak segera dibaca :P
  
              M Faiz Zifa, sebagai seorang kawan lama di SMA dan (sialnya :D ) sempat satu kosan selama hampir dua tahun aku mengenalnya sebagai seorang yang bergigi gingsul :p. Nah pemuda satu ini merupakan mahasiswa magatrika di jurusan TETI UGM. Semangatnya begitu besar di grup ulala ini, semangat untuk datang telat maksudku. Hahaha, aku belum pernah menemukan satu kali pun dia datang tepat waktu dalam tiap perkumpulan. Faiz inilah orang yang terus memberikan warna dalam kelompok ini. Saking berwarnanya, naskah tentang witricity hampir dia kerjakan sendirian. Apa nggak keren tuh, Sob? Hidupnya berubah ketika dia memutuskan menjadi mahasiswa ugm berkarakter :P
                
Ada satu lagi yang unik di kelompok ulala kita. Kalau ketemu orang, dia selalu merendah, diam-diam saja. “Bilang aku mah apa-apa”, dan tahu tahu sekarang sudah bermukim di Eropa. Ngeselin banget lah orang ini emang :P. Lebih ngeselin lagi karena ke Eropanya nggak ngajak-ngajak. Kau penasaran namanya? Fara Nabilla. Mahasiswa TETI (lagi lagi) begitu jago dalam hal presentasi. Selain itu juga, dia juga punya keahlian khusus yang tak satupun dimiliki di antara kita berlima. Cakap sekali kalau milih tempat untuk begadang ngebut tiga naskah sekaligus dalam satu malam. Sampai sekarang, Fara masih betah banget tuh di negeri orang. Semoga aja nggak sampai dua kali puasa, dua kali lebaran.

Tadi aku bilang ada berapa orang dalam ulala ini? Ada lima kan?
                
Kalau kau sedang sedih, gundah gulana, hati terasa mendung padahal langit di luar begitu cerah, nampaknya kau butuh dengan salah satu crew ulala yang satu ini. Sugandhini Cakra Maruti. Dari namanya saja sudah kebayang kan kalau dia punya aliran ninja (cakra :p). Gandhi ini senang sekali mengagetin orang, yah karena kebetulan kita satu jurusan kali ya. Jadi sering berpapasan di lobby atau di halaman parkir. Yang jelas bukan di pintu toilet lah ya -_-. Kalau berpapasannya biasa-biasa aja mah, fine fine saja. Eh lha ini, dia meloncat sambil ketawa riang gitu. Kadang sampai begitu inginnya bereaksi, badanku jadi gemeteran. Saking gemetarnya, malahan aku jadi diam saja. Bingung mau gimana :P. Kalo masalah desain? Gandhi babonnya. Kalau masalah menghibur hati, Gandhi masternya.
                
Sudah segitu saja ya perkenalan tentang ulala yang satu ini. Kan gak enak kalau diceritain semua. Mendingan ketemuin secara langsung deh orang-orang itu, ntar bakal kerasa sensasinya.
               
 Alhamdulillah, ada nama kalian dalam pengumuman pkm-gt kali ini :)
                Saluuuuuutttt, gomenasai kalau saya tidak membantu banyak.



Dia Akan Mencari Jodohnya Sendiri

                
                Di postingan sebelum ini yang berjudul mulai terbiasa. Seorang kawan dekat memberikan respon apa yang kutulis. Meskipun aku bisa mengerti apa yang dia respon tidak seperti apa yang ingin kusampaikan di tulisan itu, tapi tak apa karena aku menemukan hal yang menarik dari sana.

Aku tahu, bahwa diriku kadang merasa bahagia bila tahu tulisan yang kita buat dengan sungguh-sungguh, juga sungguh-sungguh dibaca oleh orang lain. Kata-kata yang kita rangkai, coba sedang dicerna oleh mereka yang membaca tulisan kita. Itu sungguh membahagiakan. Dan kupikir hampir semua yang menulis sesuatu pasti berharap agar tulisannya sampai kepada orang yang dituju. Dan dibaca.

                Dulu, aku memahami seperti itu. Menulis dengan sebaik mungkin, berharap orang lain akan suka membacanya. Mendamba agar orang lain mengerti apa yang ingin kusampaikan tersirat dari susunan kata yang berjejer rapi. Dulu aku sering seperti itu. Dan sama seperti harapan lainnya yang terlanjur disandarkan kepada apa yang di atas bumi, Aku kecewa.

                Aku sering kecewa.

                Sampai pada suatu pagi, saat hendak menyantap kuah soto di depan mulut. Seseorang mengatakan sesuatu perihal jodoh tulisan.

                Ketika kita menulis sesuatu, maka tulisan yang akan kita buat akan berkelana. Mencari jodohnya sendiri. Melalangbuana untuk menemukan siapa yang hendak membacanya. Karena tulisan itu sendiri percaya bahwa dirinya selalu punya pembacanya masing-masing. Setiap tulisan akan menemukan pasang mata yang mau membacanya..

                Dan kau tahu? Meski itu bukan pasang mata orang lain, minimal pasang mata diri kita sendiri. Tulisan yang membuat diri kita serasa bergairah, terhibur, tergugah dan segala emosi lain yang datang ketika kita sendiri membacanya. Dia akan selalu menemukan jodohnya, dan jodohnya adalah kita.

                Aku akan tetap menulis, karena tujuanku menulis adalah untuk menulis. Tanpa perlu khawatir ada orang yang akan membacanya atau tidak.

                Aku akan tetap menulis, sebagai pengingat, penghibur sekaligus untuk bernostalgia mengenang memori-memori lama.

                Aku akan tetap menulis. Menulis dengan bahagia.
                Dan sangat bahagia jikalau kau mau membacanya.

                ***

                Yang disana sedang apa? Menulis yuk, biar aku bisa tahu apa yang sedang kau rasa dan pikirkan dari sana.


                Yogyakarta, 9 Desember 2015
Sehabis pulang tugas kelompok Aeromodelling


Selasa, 08 Desember 2015

Dewi





18 Februari 2015

Murid-murid berpakaian putih abu-abu mulai bermunculan satu demi satu dari pintu kelas. Kursi-kursi di ruangan hampir terisi penuh. Hanya menyisakan kursi kosong milik guru dan satu kursi di bagian murid.

                “Kemana pula tuh Dewi? Sudah jam tujuh kurang lima menit nih, masa nggak datang-datang juga tuh anak. Apa dia terlalu bahagia?” ucap Hani kepada teman-teman yang tengah duduk-duduk lesehan di samping pintu.

                Muncul suara berderit ketika seorang gadis bertas pink membuka pintu dari sisi luar dengan perlahan.

                “Tuh dia orangnya!” seru Hani kegirangan melihat Dewi muncul dari balik pintu. Hani langsung meloncat dan menghampiri sahabatnya tersebut. Menampilkan mata yang seakan menyimpan sejuta pertanyaan untuk ditanyakan kepada Dewi.

                “Cieeee Dewi sudah gede nih ye, sekarang ngerti cinta-cintaan gitu!” goda Hani yang diikuti dengan tawa dari teman-teman yang duduk bersama Hani.

                Yang digoda justru ber-hah tak mengerti sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.

                “Siapa tuh namanya, Doni yang ganteng, kece dan tajir itu ya. Pantas saja dia suka kamu Dew. Secara kau juga cantik, baik, peringkat 1 paralel di sekolah dan kemarin-kemarin baru menang lomba-lomba bikin program gitu. Ah apalah itu namanya. Aku tak mengerti. Kau begitu beruntung bisa berpasangan dengan Doni.”

                Teman-teman riuh dan serempak mengangguk. Tanda sepakat membenarkan apa yang barusan Hani ucapkan. Dulu ketika hari pertama menginjakkan sekolah putih abu-abu, para perempuan takjub dan tak bisa melepaskan pandangan ketika Doni lewat dengan moge berwarna merah darah.

                “Beruntung?” desah Dewi pelan.

***

31 Januari 2014

Para siswa-siswi mulai meninggalkan sekolah, Dewi menatap jam tangan putih di tangan kirinya, tertera angka 14:11 dan 31:01:14. Pengharum ruangan yang tergantung di AC bergoyang-goyang ikut menemani dewi yang tengah sibuk menghadap  laptop di meja.

“Software ini harus segera kuselesaikan, semoga ibu bisa bersabar menunggu anaknya 15 menit lagi” gumam Dewi dengan tawa getir yang dipaksakan.

Dewi bergegas pulang berharap menyantap menu makan siang buatan ibu dengan segera. Namun langkahnya terhenti ketika ia sadar ada seseorang yang sejak dari tadi menunggunya di parkiran sepeda sekolah. Membawa mawar merah yang dibungkus dengan plastik bening di tangan.

“Aku suka kamu Dewi, maukah kau jadi kekasihku?” tiba-tiba Doni mengucapkan kalimat tersebut sambil duduk bersimpuh menyodorkan mawar merah.

“Apa apaan si kamu Don?” sambil menuntun sepedanya ke luar sekolah.
“Kau mau kemana?”
“Ibuku sudah menungguku..”

Maka hari-hari sejak kejadian itu kehidupan Dewi menjadi merasa terganggu. Doni terus menerus mengucapkan aku suka kamu di tiap kesempatan. Saat istirahat dia mengikuti Dewi hingga ke kantin. Membayar penuh apa yang dibeli Dewi di warung tadi. Berteriak di luar kelas saat jam pelajaran sekolah tengah berlangsung, aku suka kamu Dewi.

Pernah suatu ketika Dewi sedang bersepeda sepulang sekolah, tiba-tiba Doni memotong jalan sepeda Dewi dengan motor CBRnya. Bergegas turun dan melakukan hal yang sama dengan kemarin. Menyodorkan mawar merah ditambah sepotong coklat berbentuk hati. Dilihat oleh murid-murid lain yang hendak pulang kerumah ditambah lagi tatapan mata orang-orang yang berlalu lalang di jalan raya. Penembakan, orang-orang menyebutnya.

Dewi justru langsung memutar sepedanya, mengayuh pedal sekuat tenaga sambil menitikkan air mata. Cairan hangat itu membasahi pipi putih bersihnya, jatuh dan langsung menguap lantaran panasnya aspal terpanggang terik matahari.

“Apaan-apaan Doni ini?” Dewi terisak.
***

8 Februari 2015

                Suara gemericik air mancur di halaman sekolah terdengar riuh. Hari minggu suasana sekolah memang begitu lengang, hanya menyisakan satu dua orang yang ditugaskan untuk menyapu ruang kelas. Dewi telah menunggu kedatangan Doni. Berusaha menyudahi tingkahnya yang menyebalkan sejak seminggu terakhir.

                “Ada apa Dewi? Apa kau mau menerima cintaku?”

                “Begini saja, besok kita lomba siapa yang sanggup berangkat pagi duluan ke sekolah. kalau ternyata aku duluan yang datang, maka kau sudahi aku suka Dewi atau aku cinta Dewi yang kau gembar gemborkan. Dan kalau kau yang menang….”

                “Kau akan jadi pacarku?” kedua matanya terbuka lebar, alis terangkat ke atas, sambil mengepalkan tangan mantap.

                Dewi menjulurkan lidah ke luar. Menarik kulit di bawah mata kirinya dengan jari telunjuk. Meskipun dengan wajah yang seperti itu, dia tetap tampak cantik. Lomba ini dipilih karena Dewi tahu bahwa di catatan piket guru, hampir selalu ada nama Doni tertulis di bagian siswa yang telat.
***

9 Februari 2015

                Langit masih gelap, pukul enam pagi ketika Dewi tiba di sekolah. Aroma tanah yang basah menyeruak lantaran semalaman diguyur hujan. Kali ini dia yakin pasti akan menang. Bahkan satpam pun baru membukakan pintu gerbang untuk dirinya tadi.

Dewi bersenandung sembari berlompat-lompat kecil. Memasuki sekolah. menyanyikan lirih lirik bersiap untuk jadi pemenang milik Sheila on 7.

“Akhirnya berakhir sudah penderitanku,” sambil mengusap dada dan menghembuskan nafas panjang.

Tapi apa yang dia lihat sungguh tak terduga. Motor CBR itu sudah berdiri gagah di parkiran sekolah. Si pemilik tidur di dalam kelas memakai seragam sekolah, lengkap dengan topi upacara. Dewi tak menduganya, berusaha untuk langsung menghindar agar tidak terlihat oleh Doni. Tapi si orang yang tidur tadi justru terbangun karena derap langkah Dewi yang buru buru mau kabur.

                “Aku menang kan?” ucap Doni samar samar.
***

Hari-hari menyebalkan

                Maka hari hari sejak hari itu tidaklah sama lagi. Sudah berjalan seminggu sejak kejadian Doni tidur di sekolah demi memenangkan lomba itu.

                Doni selalu menanyakan lewat sms, whatsapp, dan line tentang kabar, Dewi sedang apa, dengan siapa. Namun, Dewi tidak pernah membalasnya kecuali untuk hal yang menurutnya penting. Dewi merasa sebal dengan tingkah polah Doni, di tengah jam pelajaran saat Dewi presentasi makalah, hp-nya tiba-tiba bunyi. sms dari Doni “Sudah sarapan, Yang?”

                “Tolonglah bales smsku wi. Bukankah aku menang lomba itu? Aku jadi gundah gulana kalau tak kau bales pesan-pesan dariku”

                “Oke, Fine. Aku bantu”

Besoknya rona wajah Doni terlihat semakin bersinar. Ia merasa bangga bisa punya kekasih macam Dewi. Setiap pesan yang dikirimkan, selalu dibalas dengan cepat oleh Dewi. Doni merasa diperhatikan, benar-benar diperhatikan.

                ***

18 Februari 2015

                “Dewi, kenapa kau selalu menolak pulang bareng denganku? Bukankah kita pacaran?”
                “Sejak kapan?”
                “Sejak aku menang lomba berangkat pagi itu, kau bilang kalau kau….”

                “Aku mau jadi pacarmu? Yakin kau kalau aku mengatakannya?” Dewi memotong kalimat Doni yang belum selesai diucapkan.

                Seketika Doni mengingat Minggu 8 Februari lalu, memang benar ternyata bahwa Dewi tidak mengatakan apa apa. Dia hanya menjulurkan lidah tanda mengejek dan yang terjadi, Doni berasumsi bahwa hadiah dari kemenangan itu adalah Dewi mau jadi kekasihnya.

                “Tapi kan kau selalu menjawab pesanku, selalu memperhatikanku, bukankah itu tandanya kau juga suka padaku?” tanya Doni dengan perasaan kesal.

                “Itu hanya program. Program Autoreply yang kubuat. Kau tak ingat bahwa aku pernah jadi juara programmer tingkat nasional? Tak sulit untuk membuatnya. Yang kau cinta itu bukan orang, tapi balasan akan pesan-pesanmu. Makanya aku membantumu, membuatkan program yang bisa otomatis menjawab pesanmu dengan singkat dengan jawaban yang telah kusiapkan semuanya.”

                “Hah?” mulut Doni terbuka lebar. Setengah tidak percaya mendengar penjelasan Dewi barusan.

                “Samperin aja Bapakku.”
                *****





Sabtu, 05 Desember 2015

Surat untuk Hilal – Mulai Terbiasa


            Hilal, apa kabar? 

            Rasanya aneh sekali ya kalau kutanyakan kabarmu. Setelah hari itu aku mulai berpikir untuk mengobrol juga denganmu. Meski tidak lewat lisan, tapi lewat tulisan. Hari itu aku ingin mulai bercerita banyak kepadamu? Kau tidak keberatan bukan?

            Sudah hampir satu bulan aku tidak menyapamu, dan malam ini aku datang untuk bercerita tentang suatu hal, Hil.

            Aku Mulai Terbiasa.

            Mulai terbiasa tidak makan? Yang ini tidak mungkin. Terbiasa untuk mengurangi nasi? Bisa jadi, tapi intensitasnya jadi lebih sering meski sedikit-sedikit. Maka tak heran kalau badan ini masih tetap saja bulat. Tai gapapa kan? Katamu yang penting sehat -_-

            Hil.

            Ketika kau bersuara namun tak didengar, apa yang kau rasa? Ketika kau bertanya namun tak ada yang menjawab. Apa yang akan kau lakukan? Dan ketika kau bilang sesuatu dan tak ada yang merespon apakah kau akan bersedih.

            Aku ingin tahu, bagaimana bila kau dalam posisi tak didengar, tak dijawab dan tak di respon dalam suatu kelompok. Untung sekali dulu tak pernah kau kenal yang namanya dunia maya. Dunia yang terasa begitu berisik meskipun tak ada gelombang suara yang bergerak. Dunia dimana kita merasa punya banyak teman, namun kenyataannya kita duduk sendirian sambil memegang hp dengan kedua tangan.

            Tertawa, tanpa ada lawan bicara. Maksudku benar-benar bicara. Bukan berbicara dengan jari.

            Hil.

            Pada mulanya tidak begitu mengenakkan ketika kita bersuara, namun tak ada telinga yang menangkap. Aku kadang sedih hil, kadang juga merasa ada manusia-manusia supel abis dan aku tidak.

            Hil.

            Aku salah, dan aku tahu aku salah. Aku memang tidak sesupel mereka. Manusia biasa yang sekarang justru ingin bercerita banyak denganmu melaui tulisan. Aku tidak sepopuler dirinya. Yang kutahu, bahwa diri ku dan dirinya masing masing berbeda.

            Hil.

            Aku sudah terbiasa.
            Dan aku tidak akan memposting apa apa lagi di sana.

            ***

Apa yang akan kau lakukan jika diposisiku sekarang, Hil?
Di sini begitu ramai dengan pemira, dan tak ada respon terkait buku. Mungkin memang anakmu ini selalu di jalan sendirian.