Sabtu, 19 Desember 2015

Ikhlas, Menyerah atau Melarikan Diri



                “Mas.”
                “Gimana?”
                “Mata kuliah yang nilainya T itu sksnya dihitung enggak mas?”
                “Duh belum pernah e aku. Mateknya nggak bisa diperjuangkan?”
                “Tak ikhlasin, Mas.”
                “Sudah nembung pejabat jurusan?”
                “Gapapa, Mas”
                “Sudah? Berarti belum?”
                “Kalo KKN sksnya dihitung sampe semester berapa, Mas?”
                “Sampai semester 6 kalo gasalah. Semoga bisa jadi pelajaran ya. Oh iya, ikhlas, menyerah dan melarikan diri itu berbeda. Semoga dimudahkan.”

                “Aamiin”

Duh Bentar Lagi Ujian




                Selamat malam.

Malam minggu mendung seperti ini paling enak masak mie rebus dibubuhi sayur dan telur dadar. Apalagi kalau ada yang berbaik hati tetiba membuatkan dan mengantarkannya ke kamar (ngarep). Setelah tips membuat mie, kami hendak memberikan suatu rahasia lagi kepada kalian. Spesial untuk kalian. Tenang saja bukan tips cara memasak nasi goreng kok.

                Nah berubung tidak ada yang masakin mie, dan esok lusa beberapa dari kita minggu depan, kami dari timsatpecintakucing ingin menyampaikan sesuatu kepada teman-teman. Tapi jangan bilang siapa-siapa karena ini sebuah rahasia besar.

                Kalau kita berpikir yang paling menentukan mudeng atau tidaknya pas ujian nanti adalah belajar keras, itu nggak murni benar sob ternyata. Karena ada faktor lain yang lebih menentukan daripada itu. Nah iya, Faktor itu adalah Doa-Doa kita.

                Jangan salah dulu sob,  pasti ente-ente bilang bakalan tidak masuk akal ya? Nah jawabannya ada pada kata ‘masuk akal’ itu lho malahan.

                Dipikir-pikir usaha kita seperti apa si bisa sampai bangku kuliah hari ini? Benar po murni dari usaha kita? Sebanding po? Nah ketidaksebandingan itu jawabannya adalah doa sob. Usaha dan belajar hanyalah sesuatu yang membuatnya jadi logis.

                Masak iya Allah mau ngasih kita mudeng, padahal kita nggak belajar sama sekali. Kan jadinya nggak logis to? Meski bagi Allah itu gampang tinggal kun. Maka pintarlah kita, tapi kan nanti jadi menurut kita nggakk logis to? Dan kadang kalo digituin malah kita bisa nantinya bilang Allah tidak adil lah, nah dia nggak belajar kok bisa mudeng?

                Allah nyuruh kita buat belajar, berusaha itu biar apa yang akan dihadiahkan kepada diri kita menjad logis, Allah itu pingin jawab-jawab doa-doa kita. Tapi kitanya nggak melogiskan lha njuk piye? Kita ne nggak gelem sinau lho kon pinter piye?

                Iya, semua itu karena doa.

                Kita mungkin tidak akan pernah tahu ada orang yang selalu menangis di setiap malam mendoakan, bagaimana pula kita tahu, di saat itu kita masih tertidur pulas. Orang itu adalah orang tua kita.

                Kita juga mungkin tidak tahu kalau teman-teman dan orang di sekitarmu ikut juga mendoakanmu dalam canda dan tawa mereka, dalam ngakak mereka.

                Untuk itu kawan, mereka yang percaya akan kekuatan doa akan selalu berbuat kebaikan, sekecil apapun itu, karena dengan berbuat baik maka akan semakin banyak manusia mendoakanmu.

                Dan engkau jangan pernah khawatir kawan, jika kau berbuat baik dan tidak ada seorang pun yang melihat kebaikanmu itu, tenang saja, masih banyak malaikat yang peduli dan melihatmu, dan mereka akan mendoakanmu untuk kebaikanmu pula.

                “Belajar keraslah seolah-olah Allah tidak akan membantumu, dan berdoalah semaksimal mungkin seolah-olah belajarmu tidak ada gunanya.”
                Semangat UAS, Maapkeun kami juga ya…

#Fighting4UAS
#Timsatpecintakucing

#katanyaMauDiganti Koala

Jono dan Joni



                Dua pemuda itu tinggal berseberangan. Pintu depan rumah mereka saling berhadapan namun tidak dengan kedua pemiliknya. Karena suatu peristiwa di masa lalu, Jono dan Joni merasa tidak perlu adanya kehidupan yang rukun dan harmonis antara keduanya. Perang dingin antara dua rumah ini sedingin salju yang turun beberapa bulan ini.

                Pada suatu malam, keduanya baru pulang dari bekerja. Melalui jalan yang sama, harusnya mereka bisa berjalan beriringan kalau mau, tapi yang ada mereka berjalan depan belakang seperti orang yang tak saling mengenal. Jalanan gelap gulita, listrik satu kota padam.

                Joni yang berada di posisi belakang mendengar suara gedebuk di depannya. Semacam suara seseorang yang tengah terperosok. Benar yang dia kira, Jono yang sejak dari tadi berjalan di depan sudah basah kuyup tercebur di kubangan danau. Joni bergegas mengambil tongkat kayu dan menjulurkannya ke arah Jono.

                “Aku pikir kau akan meninggalkanku.”
                “Tadinya aku berpikir begitu.”
                “Terus kenapa kau menolongku?”
                “Aku hanya mau berterima kasih.”
                “Terima kasih karena?”
                “Dengan kau terperosok di kubangan itu, kau sudah menolongku untuk tidak terperosok di sana juga. Kalau tidak ada kau di depanku pasti aku yang akan basah kuyup bahkan mungkin tenggelam karena kedinginan. Jadi kita impas ya.”


Kamis, 17 Desember 2015

Untukmu yang Disana



                Tak terasa hari sudah mendekati masa-masa ujian ya. Harusnya aku belajar sekarang, tapi matahari saja belum mau nyempil di permukaan maka kuputuskan untuk sekarang menyapamu saja. Kamu yang hadir dan mewarnai hidupku. Hari-hariku.

                Bagaimana kabar? Sehat kan? Atau jangan-jangan kau sedang sakit? Haduh, menjadi orang yang tidak tahu apa apa tentangmu itu membuatku bingung. Kamu dimana, dengan siapa, sekarang berbuat apa (keinget lagunya kangen band). Penasaran? Jujur iya

                Pagi ini aku hendak mengajukan protes pada dirimu. Boleh? Bahkan jika kau tidak membolehkannya pun kau tetap tidak bisa melarangku.

                ***

                Untuk kau yang sedang membaca tulisan ini, aku merindukan membaca tulisanmu. Tahu apa yang sedang kau pikirkan, tahu apa yang sedang kau rasa. Soalnya aku tidak tahu apakah ada cara lain yang bisa kulakukan untuk tahu kabarmu selain dari mengeja kata per kata yang kau susun. Aku merindukannya, begitu merindukan malahan.

                Kau tahu kenapa? Selain karena dengan begitu aku bisa tahu kabarmu, aku juga tidak mau menulis sendirian. Kalau saitama-sensei bilang dalam anime one punch man, tak ada rival yang kukenal yang bisa kukejar. Hampa. Perasaan debar-debar, gelisah, dan gregetan untuk mengalahkan orang. Aku tidak sedih dikalahkan oleh dirimu, justru bahagia. Aku lebih bersedih ketika tidak lagi bisa melihat dirimu lagi di belakang. Tak lagi bisa mengejarmu karena kau sudah terkejar. Aku hanya tak bisa membayangkan kalau aku kehilangan orang-orang panutan dalam menulis. Dirimu yang telah mengajarkan banyak hal meski kau tak merasa melakukannya.

                ***

                Aku menyukai orang-orang yang menulis, termasuk juga dirimu.
                Dan ada yang lain lagi yang kusuka,
                Mendengar cerita-cerita darimu,
                Mengobrol denganmu


18 Desember 2015
Duduk di atas laptop dengan kipas angin menyala




Rabu, 16 Desember 2015

Itu Urusan yang Lain Lagi



                Senin kemarin kami duduk melingkar, di masing-masing tangan telah  tergenggam sebuah buku panduan bahagia dunia dan akhirat. Membacanya meski belum paham artinya pun sudah suatu kebaikan. Membacanya dan paham mungkin bisa dibilang kebaikan kuadrat. Sedangkan membacanya, memahaminya dan mengamalkannya dalam kehidupan bisa jadi kebaikan pangkat tiga. Semoga bisa masuk ke tingkat tiga meskipun tingkat satu saja masih sering keteteran.

                 Di sana diceritakan bahwa ketika kelak di hari kemudian, kala orang-orang menyalahkan setan akan ‘kesialan’ dirinya tercampakkan dari surga. Apa yang setan jawab?

                “Aku hanya menggodamu, perkara kau ikut atau tidak itu bukan urusanku tapi urusanmu. Aku berlepas tangan darimu.”

                Sebuah cerita sederhana, namun jika boleh disimpulkan seseorang akan dimintai pertanggung jawaban atas apa  yang dilakukannya, dan tak seorang pun menanggung apa yang dilakukan orang lain. Bahkan ketika ‘dia’ disalahkan, dia menjawab itu urusanmu, urusanku hanya menggodamu.

                 Ketika kita mendapat perlakukan buruk dari seserang, misalnya sebuah ‘olok-olokkan’ itu terlihat sebagai sebuah keburukan. Hanya jika dilihat dari interaksi dua orang. Namun ketika kita pecah menjadi unit yang lebih kecil, unit dari tiap individu yang berinteraksi tadi. Maka ada dua urusan.

1.       Orang tersebut mengolokmu, itu urusan pertama.
2.       Responmu terhadap olokan, itu urusan yang lain dan di bagian ini benar-benar seluruh kendalinya ada di tanganmu. Dan di bagian ini pula kita akan dimintai pertanggung jawaban.

Kita bisa saja menanggapinya dengan mengolok-olok balik atau yang serupa dengan itu. Namun itu hanya akan memunculkan urusan ketiga, masalah baru. Dan di detik yang sama, kita bisa juga memutuskan untuk menanggapinya dengan positif. Menganggapnya sebagai pelecut semangat.

Ketika hal ini ia ucapkan, guruku tersebut bermaksud agar diri kita tidak membenarkan apa kesalahan yang telah kita lakukan lantaran ada kesalahan yang lebih besar dilakukan oleh orang lain.

“Elo kenapa nerobos lampu merah dan naik motor lewat trotoar?”
“Haduh, mendingan gua bro. Ini negara sudah banyak koruptor, kalau mau nyalahin orang salahin sono mereka yang telah menghancurkan negeri kita. Salah gue mah sediki,t orang cuma nyerobot lampu merah. Nggak sampai menghancurkan Indonesia, bung.”

***

Jika kita berpikir untuk kesal, marah, merasa tidak adil akan perlakukan orang, ingatlah mantra ini.

Itu urusan yang lain lagi.

Jika dia tidak berbuat baik pada kita, itu urusan dirinya. Urusan kita adalah berbuat sebaik mungkin dan menunjukan kebaikan pada dirinya.
***

Aku hanya menyampaikan ini kepadamu, dan ini urusanku. Kau memperoleh manfaat atau tidak, mau menerimanya atau melemparkannya ke tempat sampah, itu urusanmu.

Urusanku adalah hanya menyampaikan apa yang ku tahu.
Karena aku sayang padamu.


Aula, 14 Desember 2015.
KIP yang aku sempat terkapar.


Selasa, 15 Desember 2015

Orang yang Bertanya



                Janji telah dibuat, sehabis dhuhur dirku akan menemui seorang kakak tingkat untuk meminjamkan buku biru dan buku hijauku. Sebenarnya hari ini tidak ada kuliah karena minggu ini masuk minggu tenang. Tak ada keperluan khusus yang mengharuskanku pergi ke kampus. Tapi entah mengapa aku ingin menemuinya, meminjamkannya. Mengantarkan buku itu untuk dia baca.

                Mungkin ini yang disebut sebagai kebahagiaan penulis. Mereka mereka bisa bahagia bahkan karena alasan sederhana. Tulisan yang dibuat hendak dibaca orang. Pikirnya barangkali dengan itu bisa memberi manfaat bagi kawan. Berharap melalui deretan huruf itulah kebaikan bisa tersampaikan.

                Jam menunjukan pukul setengah satu kurang dan aku memutuskan untuk mampir ke bank guna cetak rekening koran. Pikirku dengan berangkat jam segitu, aku bisa menemuinya tanpa terlambat.

                “Ke bank paling cepat lah, ya”

                Manusia lagi lagi hanya bisa menduga, namun waktu yang akhirnya bicara. Setengah dua baru selesai di bank lantaran mengantri terlalu lama. Sebenarnya tidak banyak, namun karena yang dituju layanan customer service jadinya sungguh tidak bisa terkira berapa menit seseorang bisa menyelesaikan urusannya. (Mulai hari ini aku akan penuhi janji orang dahulu, tanpa mengira-ngira dan menyela dengan agenda lain yang aku pikir ‘masih sempat’ tanpa bisa memastikan kapan selesai agenda selingan tersebut).

                Akhirnya karena mungkin terlalu lama, si kakak tadi bilang ada agenda. Tempat janjian KPFT berpindah ke Masjid Mardliyah dekat Rumah Sakit Sardjito.

                Aku sampai ke tempat yang dimasksud. Diiringi gerimis lembut (hujan deras, tapi butirannya kecil kecil) yang justru membuatku ingin berlama-lama dikeroyok rintik-rintik hujan.

                Aku menyapu pandangan, tak ada kakak tingkat itu sejauh mata memandang. Maka aku memutuskan untuk masuk dalam masjid, duduk bersila di dalamnya, mengeluarkan hape dan bertanya dimanakah posisinya dirinya sekarang. Berdiam di masjid sambil menunggu orang.
                Aku tak akan bercerita banyak tentang kating itu sekarang, mungkin di lain waktu. Namun seperti judul dari tulisan ini, aku ingin bercerita sedikit  tentang ‘orang yang bertanya’.

                HP telah kupencet, pesan sudah tersampaikan. Sembari menunggu balasan, aku mengecek inbox barangkali ada info penting di grup-grup whatsapp. Sibuk bergelut dengan mengusap-usap layar kotak berwarna putih itu.

                “Namamu siapa?” tetiba seseorang laki-laki datang menghampiriku, membungkukkan badan dari depan aku bersila.

                “Irkham Maulana, Pak.”
                “Sudah sholat tahiyatul masjid?”

                Diriku tidak mendengarnya dengan begitu jelas karena rintik di luar sekarang telah berganti guyuran hujan. Kukira dia menanyakan apakah aku sudah sholat dhuhur. Tapi di saat itu juga aku bingung, pasalnya jam sudah menunjuk pukul setengah tiga. Maka aku menanyakan kembali apa yang beliau maksud, takut salah nangkap.

                “Bagaimana, Pak?”
                “Adek sudah sholat tahiyatul masjid?”
                “Belum, Pak.”
                “Yuk sholat tahiyatul masjid dulu gih”

                Aku hanya bisa terpaku. Tutur katanya begitu lembut, terlihat santun. Untuk beberapa detik aku hanya bisa bengong waktu itu. Kututup hape di tangan dan segera kumasukkan ke dalam tas. Bergegas ke tempat wudhu. Dan tak terasa sebuah senyum tersungging dari bibir saya.
                “Untung dia bertanya. Orang yang bertanya.”



Mardliyah, 14 Desember 2015. 14.30

Teman Menyebalkan


               
                Dalam suatu waktu, kita pasti pernah bertemu dengan kawan-kawan yang tampak menyebalkan. Bukankah memang demikian tapi ya, tidak selalu teman yang ada di sekitar kita menyenangkan. Sama seperti pagi begitu cerah bukan jaminan bahwa di sore hari langit akan terang benderang,

                Pagi tadi padahal langit lumayan cerah, namun sorenya Guntur dan kilat tampak menyambar-nyambar. Bahkan di bawah atap pun dinding dan genteng terasa turut bergetar. Sampai beberapa detik kemudian  terasa hp ku juga ikutan bergetar. Kukira hanya efek dari Guntur yang menggelegar, tapi ternyata hp itu menyala dan menampilkan gambar amplop di bagian wallpaper. Sebuah pesan masuk dari seorang kawan.

                “Kalau jadi cetak, irkham minta satu ya”
                “Nggak boleh. Haha”
                “Kok nyebelin sekali kau sekarang :3”
                “Haha, aku anggap itu pujian.

                Dan percakapan-percakapan selanjutnya via sms. Detik itu juga aku membayangan kalau di masa depan aku harap ada handphone yang mampu mengeluarkan tanganku dari layarnya. Mungkin perlu di punch dengan pukulan serius oleh saitama-sensei (akhir-akhir ini selain sebel sama orang ini, juga ngfans sama anime one punch man).

                Tidak hanya satu dua kali. Berulang kali.

                Aku ingin mengirimkan sebuah ucapan terima kasih telah menyebalkan, namun kuurungkan.
                ***

                Terima kasih telah menjadi menyebalkan.
                Setidaknya ada satu impian yang mulai terbuka lebar jalannya.
                Impian yang teramat penting.
                “Menimpukmu dengan sandal jepit yang melayang”



Pogung, 15 Desember 2015
Di suatu sore dengan Guntur dan halilintar