Minggu, 24 Mei 2015

Tentang : Kebaikan, Roti dan Penjelasan


Ketika kebahagiaan itu tidak terlihat oleh mata
Bukan berarti tidak ada
Mungkin ia persis berada di punggung kita
Bisa dirasa, bisa disentuh
Tapi tidak bisa dilihat

Ketika penjelasan itu tidak tertangkap oleh pikiran
Bukan berarti penjelasan itu tidak ada
Mungkin dia masih bersembunyi
Enggan menampakkan dirinya karena tahu kita belum siap menerimanya
Enggan datang terburu-buru,
Takut menyakitkan buat kita                                

Atau penjelasan itu sebenarnya sudah menunjukan diri di depan kita
Tapi kita tidak benar-benar menghadapkan diri ke wajahnya
Sibuk berpaling mencari penjelasan lain yang memuaskan hati kita
Mencari pembenaran atas apa apa yang menguntungkan kita

Ketika penjelasan itu tidak terlihat oleh mata kita
Mungkin dia terlihat dari jutaan mata lain

Jika kebahagian itu tidak datang
Mungkin karena kita sibuk membandingkan “roti” yang kita punya dengan orang lain
Berkata kepada si Pemberi Roti bahwa roti kepunyaan kita tidak selezat roti mereka
Maka jangan salahkan si Pemberi Roti jika ia mengambilnya lagi
Enggan memberi lagi

Semoga aku bersyukur atas Roti yang tiap hari Ia berikan
Semoga kau bersyukur atas Roti yang tiap hari Ia berikan
Semoga kita bersyukur atas Roti yang tiap hari Ia berikan

Roti terbaik
Roti termanis
Roti terlezat


Yogyakarta, 25 Mei 2015
Konsul Papa
Roti
dan Tentang Syukur



Pembalasan Cacar

Semut-semut merayap di batang rambutan, Berbaris rapi menuju ke arahku. Nampaknya mereka bersekongkol untuk ‘menghabisi’ diriku yang tengah naik ke atas pohon untuk memetik rambutan dengan tongkat dua meter.

“Ibu apa-apaan si? Masak Rohim diminta Ibu memetik rambutan penuh dengan semut gini. Mana tadi wafer delfi yang kubeli sepulang sekolah dilahap habis oleh wawan. Dan ibu bilang apa? oh ya, kamu kan sudah besar, mbok ya ngalah.” gerutu ku sebal sambil menginjakan dahan yang telah melengkung karena menahan beban berat tubuhku.

“Aduh” Aku mengusapkan jidat kepala yang telah memerah karena digigit semut. Belum selesai rasa sakit akibat gigitan itu hilang, seluruh tangan, dan punggungku telah di’kerubungi semut. Mereka nampaknya berpesta ria ‘gemas’ dengan kulitku.

Tak ayal, semua tubuhku penuh dengan bentol merah.

“Ibu, Kak Rohim kena cacar!” teriak wawan adikku dengan ekspresi ketakutan. Cacar memang sempat mewabah di lingkungan kami, dan wawan mendapat pelajaran dari bu guru bahwa jangan dekat dekat orang cacar, nanti bisa ketularan.

Aku justru iseng berlari-lari mengejar wawan, mencoba memeluk dan menempelkan pipi penuh bintik merah ke pipi gembilnya. Yang dikejar justru spontan mendobrak pintu kamar sembari menutup mata dengan bantal.

“Akhirnya aku bisa balas dendam!” aku terkekeh kekeh. 

*Wafer, Tongkat dan Cacar


Sabtu, 23 Mei 2015

Raja, Salak dan Keselamatan Negara

Konon, jauh sebelum istilah hindia belanda diperkenalkan, berdirilah sebuah kerajaan yang dipimpin seorang raja bernama Mutas.

Dia raja tanpa mau mengenakan mahkota.

Sampai suatu hari, Sang Raja memutuskan untuk pergi menemui ibunya. Raja tahu benar bahwa sang bunda sangat gemar akan salak. Maka ia memutuskan membeli beberapa kilogram sebagai buah tangan keluarga. Ditemani oleh anak perempuannya bernama Mila, maka mereka berdua berkendara pulang.

Pakaiannya sederhana, tidak lebih dari kain yang dipakai kebanyakan rakyatnya. Kendaraannya pun tidak  bisa dibilang mewah, hanya seekor kuda kampung berwarna coklat. Maka sepanjang perjalanan, tidak ada satupun yang mengenali mereka berdua, Raja dan Mila.

Di tengah perjalanan, kaki Mila tidak sengaja menendang kantung salak yang terpasangkan di punggung kuda. Kantung plastik hitamnya sobek. Tumpah ruah semua salak.

“Mas, ini dipakai buat bungkus salaknya” tiba-tiba seorang ibu-ibu penjual asongan datang menghampiri, menawarkan beberapa lembar plastik hitam untuk wadah salak. Tentunya ibu tadi tidak tahu kalau laki-laki di depannya sejatinya adalah seorang raja.

Sang Raja memungut beberapa salak yang tercecer di tanah, mengusap-usapnya dan memasukan ke dalam kantong plastik. Menghampiri ibu-ibu asongan yang sibuk menawarkan jajanannya kepada beberapa warga yang lewat.

“Ini Bu buat Ibu”
“Eh tidak usah Mas”
“Monggo Bu, ditampi nggih.”
Ibu-ibu itu menatap bingung, menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal dengan tangan kirinya.

“Ayah apa yang ayah lakukan? Bukankah kita sudah punya plastik di kantung kuda?”
“Ayah sedang menyelamatkan negara Nak”
“Menyelamatkan negara dengan memberi salak kepada pedagang asongan? Bagaimana bisa?”
Sang Raja tersenyum, memandang teduh wajah anak perempuannya itu.

“Nak, ayah memang tidak membutuhkan plastij darinya sebenarnya, karena benar katamu kita sudah punya banyak.”
“Terus?”
“Ayah memberikan sebagian salak kita karena ayah percaya. Kerajaan bisa saja hancur karena senjata, perang. Kerajaan hancur lantaran orang-orang peduli sudah tidak ada lagi. Ayah khawatir, jangan-jangan orang-orang peduli memutuskan untuk tidak peduli lagi lantaran kita tidak mempedulikan mereka-mereka yang peduli.”

“Apa jadinya kalau nggak ada orang yang peduli yah? Mila bingung”
“Haha, Mila. Suatu saat kau akan mengerti nak, yuk berangkat lagi ke rumah nenekmu.” sambil mengacak-ngacak rambut anak perempuannya


Gadis, Panti dan Game

Gadis itu dikirim ke panti asuhan sebelum dia berusia satu tahun, karena kemampuan kecerdasannya yang luar  biasa. Dia juga bisa belajar berbicara lebih cepat. Disana dia belajar tentang game.
Dia diminta untuk bermain banyak game yang mereka sebut uji kecerdasan. Tapi game itu sangat membosankan karena dia tidak menikmatinya, meski bermain dengan siapapun.

Setelah 2 tahun berlalu

Dia bertemu kembali dengan wanita yang sepertinya ibunya, dan anak laki-laki yang berusia 7 tahun lebih tua daripada dia. Anak laki-laki itu mengatakan pada orang dewasa, apapun yang dia pikirkan, dan tersenyum dengan tatapan kosong pada semua orang

Gadis itu berkata padanya kata pertama yang sudah lama sekali tidak dia ucapkan.

“Kau benar benar terlihat hampa”

Anak laki-laki itu kemudian menggenggam tangan gadis kecil dengan kedua tangan.


“Ayo kita bermain game”


*Episode 9 Anime Jepang

Selasa, 19 Mei 2015

Beda Di Bibir


            Di suatu sore, terjadi perbincangan antara Lana dan Rina. Sebuah perbincangan yang tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan Lana.

            “Mohon doanya ya supaya saya jadi lebih tenang ya Lana,”

            “Gak tenang kenapa Rin?” aku tidak mau bilang ini sebenarnya Rin, tak tahu kenapa kalimat ini yang muncul di benak Lana. bukankah yang kau minta cuma doa? Lana bahkan belum menjawab permintaanmu rin iya atau tidaknya”

            “ :’D “

            “Boleh tahu kenapa Rin?” ada apa denganku, padahal ingin menuliskan semoga engkau dikuatkan dan ditenangkan. Tapi yang muncul dari kata adalah keegoisan. Keegoisan tentang ingin tahu penyebabnya. Lana tahu betapa tidak semua harus ditanyakan dengan pertanyaan “kenapa?”, kadang begitu menyebalkan. Lana tahu itu.
           
“Ada yang bisa Lana bantu?”  sejatinya Lana hanya ingin mengucapkan maaf.
MAAF……


Yogyakarta, 19 Mei 2015
18.41
Tentang Lana dan Maaf
Semoga Tenang


Minggu, 17 Mei 2015

Badminton di Malam Hari (Cuma Sedikit)

Harusnya aku tidur tadi, tidak kurang 5 jam duduk di atas soul GT untuk kembali ke asrama membuat badan agak kecapean. Tapi dengar ajakan untuk badminton. Mana bisa kumenolak?

Apa aku akan bercerita bagaimana hebatnya Adi dalam memukul cock? Tidak. Itu sudah biasa, semua orang sudah tahu itu. Hebatnya diriku?  Aku masih belajar, bahkan untuk sekedar menimpuk kumpulan bulu itu aja sering gagal. -_-

Hari ini, ingin bercerita tentang seseorang. Dia tidak begitu pandai bermain badminton. Setidaknya begitulah yang terlihat. Namun, aku sempat tercengang karena dia menantang si jagoan badminton untuk bertanding single. Maka rasa antusias dan penasaranku mendorong untuk duduk di kursi tinggi wasit. Ikut mengawasi jalannya pertandingan.

Dia kewalahan dibuatnya. Melangkah ke depan, samping, belakang. Segala penjuru lapangan dia datangi demi membalikkan cock ke daerah lawan. Padahal, di sisi net yang lain, si jago santai saja menanggapinya. Game ditutup dengan 21 vs 5.

Aku pikir dia akan menyudahi pertandingan. Enggan untuk melanjutkan ke game kedua lantaran kalah telak dengan lawannya. Ternyata aku salah, benar-benar salah. Dia justru santai dan semangat bilang bahwa “aku telah berkembang kan mas dari kemarin?”

Padahal kalau itu aku, seringnya aku akan meletakkan raket di bangku tunggu. Bilang “capek” sebagai alasan yang masuk akal.

Game kedua ditutup dengan 21 vs 7.

“Menyerah itu pekerjaan mudah. Dan itu yang dilakukan kebanyakan orang. Berhasil itu biasa. Tapi berjuang dari kekalahan dan menyadari bahwa itu sebagai proses berkembang adalah suatu hal yang spesial.”

“Berhenti berusaha itu mudah. Dan jawabannya hanya perlu “sedikit”. Sedikit lebih lama  belajar, sedikit lebih cepat berlari, sedikit lebih giat berlatih dan sedikit lebih bersabar.”

“Cuma perlu sedikit.”

Yogyakarta, 17 Mei 2015


Sisa-sisa keringat sudah tiada terkena hembusan kipas level 3

Tentang : Berbagi

Sungguh
Tak kan berkurang ilmu yang dibagikan
Karena saat berbagi ilmu kita merasa ingin berbagi jauh lebih banyak
Maka kita akan merasa harus mencari ilmu lebih banyak pula

Sungguh
Berbagi itu membuat ketagihan
Ketagihan yang menjadikan kita
Lebih tenang
Lebih lapang
Dan lebih bahagia



Comal, 14 Mei 2015
Ada  Bela, Wawan dan Elja di sampingku menulis.
Berjumpa dengan adik kecil memang menyenangkan,
meski inginnya tak ajak berkelahi saja mereka :D

“Kapan pulang  lagi?” Aku bingung jawabnya.