Minggu, 12 April 2015

3 Kata Sakti


            Langit gelap penuh bintang tersaji di angkasa. Bintang-bintang justru nampak indah di tengah gelapnya malam. Bagi mereka yang memperhatikan, pemandangan seperti ini begitu menentramkan.

            Tapi tidak dengan Rehan.

            Tumpukan kertas naskah yang belum ia koreksi berserakan disana sini. Mengoreksi tulisan? Itulah yang ia kerjakan. Terpaksa ia lembur di kantor lantaran tenggat waktu hanya tersisa besok lusa.

            Bukannya meneruskan membenahi tulisan.  Rehan justru menggumam kesal tentang teman seprofesinya, Husna namanya.

            “Bagaimana bisa dia mengerjakan secepat itu? Dia bisa pulang duluan, sedang aku harus ‘terjebak’ di ruangan ‘menyebalkan’ ini tiap malam. Tak selesai dengan satu naskah, sudah ditimpali dengan naskah baru. Apa bos pilih kasih dalam membagi naskah? Dia dikit, aku banyak? Besok akan kutanyakan langsung padanya”

            ***
            “Hus, berapa naskah yang kau terima dari bos?”

            Rehan tak menyangka, jumlah yang husna sebutkan jauh lebih banyak dari kepunyaannya.

            “Hah, kok bisa pekerjaanmu tuntas dengan hasil menawan? Aku saja kewalahan dengan tumpukan naskah ini” gumam Rehan sembari menunjukan tumpukan kertas berantakan.

            “Kau mau tahu kenapa aku bisa dan kau tidak bisa? Boleh aku tanya sesuatu?
            “Apa?”

            “Ikhlaskah kau mengerjakannya?” tanya husna sambil menunjuk kertas yang dibawa Rehan.

            Rehan tertunduk, memikirkan banyak hal.

            “Apa aku ikhlas?” desah Rehan pelan.

***
             

            

0 komentar:

Posting Komentar