Selasa, 16 Februari 2016

Sabtu, 06 Februari 2016

Jumat, 05 Februari 2016

Rabu, 03 Februari 2016

Titik Sendirian


4  Februari 2016

                Jujur saja, aku orang yang takut bertemu dengan orang. Lebih memilih mengerjakan pekerjaan fisik daripada dapat “perintah” untuk menemui seseorang. Menghindari bagian humas dan sponshorsip dalam setiap kepanitian. Jantung berdebar-debar, bicara jadi belepotan. Kalau bisa lari, kupikir aku akan memilih lari sejauh-jauhnya.

                Kata orang, yang seperti ini itu disebut introvert. Gejala lain adalah orangnya suka menyendiri, cenderung pendiam, dan tidak begitu menyukai keramaian.  Banyak orang merasa bingung memperlakukan orang introvert, jangankan orang lain, aku sendiri saja sering bingung bagaimana memperlakukan diriku sendiri.

                Beberapa hari ini merasa dirudung kesedihan. Bahkan aku lupa sejak kapan kesedihan macam ini pertama kali datang. Orang yang takut bertemu orang namun memiliki keinginan untuk punya banyak kawan.

                Kadang merasa bersalah, sakit juga ketika kau bisa begitu akrab dengan seseorang, mengobrol begitu banyak, menceritakan apa saja, tapi itu di dunia maya. Ketika pembicaraan bukan pakai bibir dan lidah melainkan gerakan lincah jari-jari dari kedua tangan. Pertemuan terjadi, duduk bersama, bahkan untukku menyapa orang pun aku kesulitan. Semuanya terdiam, ada tapi tak bersuara. Ada suara tapi seakan tidak ada orangnya. Bahkan yang terjadi aku hanya bisa tertunduk lesu. Serasa dua orang yang saling belum kenal.
                Di saat seperti itulah, aku kesepian.
                Kalau masalah ini gara-gara aku gagap bicara, tolong ajari aku bicara.
                Atau kalau kau tahu bagaimana menyelesainkan, tolong beritahu aku bagaimana caranya.

                Karena rasa sepi itu begitu menyakitkan.           
               


Sabtu, 30 Januari 2016

Manusia Independen


27 Januari 2016

                Padahal tadinya pingin banget nonton KMGP, mumpung divpro ngajakin 12.30 siang ini. Tetiba saa terbesit suatu hal.

                “Yang cowok ada yang ikut nggak?”
                “Mas Eja, Mas Solli ikut kham.”
                “Eh afwan Kham. Mas Eja nggak jadi ikut.”
                “Afwan juga, Solli belum bisa nonton hari ini.”
                “Oke fiks”

                Kemudian obrolan chat bersambung dengan bahasan lain. Aku memutuskan ikut jika dan hanya jika ada ikhwan yang datang.

                “Kham, aku 50:50 nih, nungguin dosen.”

                Jam weker di atas meja sudah menunjukan pukul 12.15, aku pun sudah berada di kamar kosan temen di pogung. Menanti kepastian.

                “Gimana, Mas?”
                “Digantungin nih, jadinya nggak ikut Kham.”
                “Oke”
                ****

                “Mba, jadi siapa aja yang datang tadi? Nggak ada cowoknya ya.”
                “Ada banyak, penjaga bioskopnya juga cowok kok.”
                “ -____- “
                “Ada mas Solli, Kham.”
                “ :3 “

                Dalam hati aku ngedumel sendirian.

                ***
                Manusia independen adalah mereka yang jika punya keinginan/kemauan selama itu baik, dia tidak peduli apakah orang ikut atau tidak. Tak pernah mau mengurungkan sesuatu hanya karena orang lain tidak melakukannya.

                Manusia yang dia tidak bergantung pada orang lain.

                Aku belum independen -____-

Sesuatu yang Dimulai Dengan Kesombongan


18 Januari 2016

                Melihat para orang kampung yang main bulutangkis, tanganku gregetan. Pukulan-pukulan yang dilancarkan begitu lemah. Melambung bentuk para bola begitu pelan.

                “Kok bisa-bisanya gitu banget!”
                “Cemen banget mainnya.”

                Tentu kata-kata tersebut tak pernah keluar dari mulut, hanya mengendap di hati. Beragam perasaan “bisa” muncul begitu saja. Normalnya memang aku bisa bermain lebih bagus dari mereka. Aku ingin segera turun lapangan, menunjukan betapa bagusnya diriku dibanding dengan permainan mereka.

                Perasaan tinggi hati yang mampir bagitu saja.
                Aku bertanding.

                Dan aku kalah.