Sabtu, 23 Januari 2016

Ritual Menulis


15 Januari 2016

                Setiap orang punya ritual sendiri-sendiri sebelum menulis, dan mungkin akan dianggap aneh bagi sebagian orang.
                “Menulis aja pakai ritual-ritualan”, tapi setelah dipikir-pikir aku sendiri juga ternyata punya.

1.       Mengganti font Calibri menjadi cambria
2.       Ctrl + B
3.       Ctrl + E
4.       Spasi 1,5
5.       Capslock
6.       Menulis Judul, enter
7.       Ctrl + B
8.       Ctrl +R
9.       Menuliskan tanggal menulis

Enter, kemudian baru menulis semauku.

Entah orang lain punya juga atau tidak. Aku bahkan tidak tahu apa ritual yang kau lakukan sebelum menulis.
Pasti lebih keren!!!


Bukan untuk Dipuji



                Dalam suatu tatanan masyarakat yang baru dimana kadang para monster menyerang, maka dikenallah istilah Pahlawan (Hero). Yaitu orang-orang yang berusaha untuk mengalahkannya, menyelesaikan setiap ancaman-ancaman yang melanda di kota-kota.

                Begitu tertariknya masyarakat akan sosok pahlawan, maka di kota-kota tersebut muncullah industri yang mereka sebut Asosiasi Pahlawan. Tak peduli jikalau kau begitu kuat dan menumpas seluruh kejahatan di muka bumi, jika kau tidak terdaftar dalam Asosiasi Pahlawan ini kau hanya akan dianggap sebagai orang aneh. Setiap hero memiliki kelas dan tingkatan masing-masing. Kelas terbawah adalah kelas C dan yang menduduki posisi puncak adalah kelas S. Setiap aksi kepahlawanan akan menaikkan peringkat ke”hero”annya. Setiap ketenaran dan semakin dikenal masyarakat dapat memuluskan untuk naik ke kelas di atasnya.
                ***

                Meteor itu datang, entah bagaimana ceritanya arah dari jatuhnya meteor berubah arah menuju ke kota Z. Ukurannya begitu besar sehingga jika sampai meteor saling bersentuhan dengan permukaan tanah akan terjadi kehancuran yang begitu hebat. Tidak hanya kota Z, melainkan kota-kota di sekitarnya pun akan musnah karena daya ledaknya.

                Sebagai penduduk kota Z sekaligus pahlawan kelas S, Genos diminta untuk membantu 
menyelesaikan masalah meteor yang sekarang masuk dalam level bencana naga. Sebenarnya pahlawan kelas S tidak hanya dia seorang, namun yang bisa hanya dirinya, entah yang lain sibuk atau tak peduli. Di sana juga berdiri seorang kakek tua, pahlawan kelas S juga. Namun, karena tipe bertarungnya adalah dengan tangan kosong, tak mungkin juga dia menyentuhkan tangannya ke permukaan meteor. Maka dia pun tidak bisa membantu banyak.

              Genos telah mengerahkan seluruh kemampuannya. Kobaran api berdaya ledak luarbiasa keluar dari telapak tangan cyborg nya. Meskipun sudah mengerahkan senjata terhebat yang dia punya, meteor itu tetap tak bergeming. Titahnya untuk tetap bertemu tanah masih tak terbantahkan.

          Datanglah seorang pahlawan kelas C bernama Saitama. Ia hanya mengenakan jubbah superman, memakai pakaian kuning dengan resleting di bagian dada. Kepalanya botak. Tatapannya sayu seolah tak ada semangat dan hasrat dalam hidupnya. Overall, dia tidak begitu meyakinkan.

                Tapi siapa yang menyangka, dia lompat dari atas gedung. Meninju meteor tersebut dengan sekali pukulan. Tembus dari depan hingga ke belakang, Membuat meteor tersebut hancur  menjadi keping-kepingan.

                Kepingan meteor yang hancur tersebut menghujani seluruh wilayah kota Z. Terjadi kerusakan parah. Tak ada korban jiwa.
                ***

                “Gara-gara kau kota kita hancur!” teriak salah seorang pahlawan kelas C yang lain yang tidak terima peringkat saitama naik dari 300an menjadi peringkat lima. Dalam industri ketenaran seperti ini, mereka sesama pahlawan tidak segan—segan untuk menghancurkan reputasi pemula. Menarik simpati masyarakat dengan bertindak peduli atau agar terlihat peduli.

                “Rumahku juga hancur, dasar tidak punya hati!”

                “Mobil yang baru kubeli sekarang tidak bisa kupakai karena tertimpa kepingan meteor dasar sialan.” Umpatan-umpatan bermunculan dari warga karena terpancing.

                “Berhenti saja kau dari pahlawan, Kau tidak pantas untuk jadi pahlawan. Berhenti-Berhenti-Berhenti” sorakan tersebut menggema. Diteriakkan oleh seluruh warga. Tujuannya jelas, agar mental saitama hancur dan berhenti dari pahlawan.

                “Tak diragukan lagi, kau telah menyelamatkan kota ini. Jika kau tidak menghancurkan meteornya, tidak hanya kota Z saja yang hancur. Namun kota-kota sekitarnya. Dan jelas semua penduduknya akan musnah tak bernyawa. Tapi lihatlah perlakuan penduduk itu kepadamu. Sekarang terserah apakah kau akan memutuskan untuk berhenti atau tidak.” Ucap dalam hati seorang  kakek yang ketika hari penghancuran meteor tersebut ia melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa kuatnya saitama.

                “Yang menghancurkan meteornya adalah aku. Kalau ada yang mau protes silahkan saja! Bicaralah”
                “Tapi karena ulahmu, mobil baruku…” seorang penduduk menyela.
                “Berisik, diem lu! Emang gue peduli sama masalah lu?! Protes saja sana sama meteornya bego!”
                “Denger ya, aku menjadi pahlawan bukan untuk dipuji! Aku menjadi pahlawan karena aku menginginkannya. Jadi kalau kalian mau menyalahkan aku, Silahkan saja. Dasar botak.”
                “Bukannya yang botak itu kau?”
                “!@#$$%%^&^*&(*”

                “Sensei, mari pulang” ajak Genos kepada Saitama.
                “Sensei, aku belum pernah melihat orang sehebat Anda.” Ujar Genos ketika perjalanan pulang.

                “Kenapa tiba-tiba bilang begitu? Bikin merinding saja.”
                “Walau masyarakat tidak menyukai Anda, Aku akan tetap mengikuti Anda.” Ucap Genos mantap.

                Mereka berdua berjalan pulang.


Jumat, 15 Januari 2016

Seorang Kawan Baik yang Kuiri Padanya


15 Januari 2016

                Aku menuliskan ini tanpa tahu harus menuliskan apa. Tapi tulisan ini kuketikkan dengan begitu pelan, sepelan biasa aku membaca tulisan-tulisanku kawanku yang satu ini. Aku tak perlu menyebut namanya, karena jika kalian mengenal dia, pasti tahu siapa orangnya.

                Aku mengenalnya sebagai orang pendiam, tak banyak bicara. Tapi ketika ia dihadapkan kepada suatu fenomena dan peristiwa sehari-hari, ia dengan mudah menangkap makna, hikmah dan pelajaran dari apa yang dilihat, dengar dan ia rasakan.

                Aku mengenalnya sebagai orang yang tak banyak bicara, tapi sekali mengeluarkan suara pasti itu benar-benar hal penting yang harus dia sampaikan. Begitu juga dengan tulisan-tulisannya. Ia tak akan menyampaikan sesuatu di sana kecuali ada pelajaran yang bisa diambil darinya. Ada nasehat yang lembut yang ingin dia sampaikan. Aku sendiri tidak mengerti banyak apa itu tulisan bagus, tapi bagiku ketika membacanya, tulisan itu mengena. Entah kalau orang lain berpendapat beda.

                Aku mengenalnya sebagai orang yang tak banyak bicara, sekali waktu aku melihatnya duduk dan di tangannya sudah tergenggam mushaf kecil dan khusyuk sekali dia membacanya. Kadang pas ketika antri giliran tahsin, kadang ketika di waktu yang tak kuduga-duga. Ada juga si teman nakula yang seperti dia. Intinya aku benar benar iri dengan mereka berdua untuk hal yang satu ini. Soalnya aku biasanya memilih memejamkan mata dalam penantian. Atau menyandarkan dagu ke telapak tangan.

                Aku mengenalnya sebagai orang yang tak banyak bicara, tapi begitu terasa bagaimana ia menghormati teman-temannya. Menyatakan perasaan-perasaannya. Rasa persaudaraan yang dimiliki terlihat begitu erat. Bahkan aku yang tidak biasa melihat pun bisa merasakannya. Dia yang mudah berempati dan simpati, dia yang kadang di tulisannya bilang bahwa ada air mata yang mengalir dari sudut matanya.

                Ia yang tak banyak bicara, bahkan dulu di bulan bulan awal samapai aku tidak tahu yang mana orangnya.


                Terima kasih banyak. Aku butuh banyak belajar darimu.

Jangan Sampai Badmood


15 Januari 2016

                Pokoknya jangan sampai kau terlihat badmood lagi Am, bisa berabe urusannya, panjang buntutnya. Siapa yang mengira ketika kau badmood, orang lain ternyata merasakannya. Keperluan-keperluan jadi tertunda karena merasa tidak enak mengganggumu yang sedang badmood. Dan itu tidak terjadi pada satu dua orang, ternyata ke banyak orang. Bahkan urusan buku penting pun jadi terlupakan.

                Pokoknya jangan sampai kau terlihat badmood lagi Am. Bisa saja itu membuat orang tidak nyaman. Padahal boleh jadi orang yang tidak nyaman itu adalah orang yang membuatmu badmood bukan? Jangan sampai badmoodmu membabi buta. Menyerang tanpa sadar ke banyak orang.


                Pokoknya titik pokoknya. Hadirnya mereka terlalu berharga untuk kau abaikan. Sungguh terlalu berharga.

Kamis, 14 Januari 2016

Sama Saja


15 Januari 2016

                Murid-murid yang lain terlihat fokus dengan pelajaran Bu Alfi. Hanya ada satu dua orang yang terlihat santai saja. Dalam kerumunan itu terjadilah sebuah obrolan antara mahasiswa teknik dengan mahasiswa kedokteran.
                “Odi, sebenarnya bentuk tengkorak itu sama nggak si?”
                “Beda, tergantung rasnya. Misalnya ras asia agak menonjol berbeda dengan ras Afrika.”
                “Kalau tengkorakku sama tengkorakmu?”
                “Sama.”
                “Kalau tengkorak semua yang ada di sini?”
                “Kalau masih satu ras, bentuknya sama.”
                “Jadi semua orang sama ya, yang banyak orang bilang cantik tidaknya, rupawan tidaknya itu secara teknis cuma kulitnya doang ya?”
                “Eh? Iya.”

                Lelaki itu mengangguk pelan. Meletakkan dagu pada telapak tangan yang disandarkan di atas lutut barang sejenak.  Ia kemudian berdiri, dan beranjak naik ke lantai dua.

Jumat, 08 Januari 2016

Pengingat

Semangat, Kawan
Ali Bin Abi Thalib, mahsyur sekali sebagai seorang yang brilian saat memberikan nasehat. Kalimat-kalimatnya sangat dalam dan menginspirasi--terutama bagi orang-orang yang mau berpikir. Berikut akan saya tuliskan ulang kisah ketika seseorang meminta nasehat kepada Ali. Orang ini sedang dirundung masalah, kesedihan, datanglah dia ke Ali--redaksional kisah ini adalah ditulis ulang, tidak akurat sama 100% seperti terjadinya.
“Wahai Ali,” Tanya orang ini, “Aku datang kepadamu, meminta nasehat, karena aku sudah tidak tahan lagi menanggung beban hidupku. Apa yang harus kulakukan lagi?”
Lantas Ali menjawab, “Aku akan bertanya dua hal, dan jawablah dua hal ini baik-baik.”
Orang itu mengangguk--meski dia bingung, kenapa dia sekarang yang justeru ditanya.
“Pertama, apakah kau datang ke dunia ini dengan masalah-masalah kehidupan ini?” Ali bertanya.
“Tidak.” Orang itu menggeleng.
“Kedua, apakah kau juga akan meninggalkan dunia ini dengan masalah-masalah ini?”
“Tentu tidak.” Orang itu menggeleng lagi.
“Lalu kenapa kau harus sedih atas masalah yang tidak kau bawa saat datang ke dunia, pun tidak kau bawa saat pergi dari dunia ini?”
Orang itu terdiam.
Sungguh, itu sebuah nasehat yang dalam sekali. Sebuah percakapan yang amat bermanfaat bagi orang-orang yang mau memikirkannya.
Kenapa kita sibuk sekali bersedih dengan masalah-masalah hidup ini? Kenapa kita menghela nafas pun terasa sesak? Tidur susah, makan tidak selera. Semua seperti serba salah.
Bukankah rizki, sudah ada yang mengatur. Harapan, kekecewaaan, kembalikan kepada yang maha menentukan. Disakiti, dizalimi, tinggal bersabarlah, semoga menjadi jalan kebaikan penuh pahala. Kegagalan, penolakan, juga boleh jadi menjadi jalan kesempatan yang jauh lebih baik. Dan saat kita benar-benar memang sudah tidak tahu harus melakukan apapun, ingatlah selalu: kita tidak akan membawa pergi masalah ini saat mati. Semua tertinggal di dunia, game over, selesai. Maka, alangkah lebih baik jika kita fokus saja terus berbuat baik, terus memperbaiki diri, berusaha yang terbaik. Kemudian sisanya serahkan pada yang maha memegang takdir. Bukankah itu masuk akal sekali?
Semoga dengan begitu, kita lebih ceria menghadapi hidup. Semangat, Kawan.
*Tere Liye

Kamis, 07 Januari 2016

Bermimpilah


8 Januari 2015
               
                “Bermimpilah setinggi langit. Jika Engkau jatuh, maka engkau akan jatuh di antara bintang-bintang” Ir. Soekarno.
                Sebenarnya iseng saja tadi scroll halaman facebook barangkali ada yang menarik. Kemudian melihat sebuah quote yang dikemas dengan tampilan poster menarik. Sempat merasa tergugah meski aku yakin kalimat itu belum pernah kali ini aku membaca.
                Kalau begitu, aku juga harusnya membuat quote sendiri yang kugigit kuat-kuat sampai gemeretak.
                “Bermimpilah setinggi langit, Tenang saja kau takkan jatuh dari sana, karena gravitasi tak sanggup menarik mimpimu dari langit. Dia tak kan sanggup menjatuhkanmu.” Ir.Kham Maulana