Minggu, 12 September 2021

Pesan antara Dua Orang


Kalau dilihat dari postingan terakhir yang tercantum tanggal 14 Juli 2019, sudah dua tahun lebih tidak merapikan pikiran di rumah ini. Apalagi kalu lihat satu postingan sebelum itu, 7 Oktober 2018 yang berjudul waktu terburuk, itu sudah tiga tahun yang lalu. Aku sendiri jadi kelelahan karena tiap pembukaan tulisan, selalu diawali dengan niat untuk rutin menulis lagi, lagi dan lagi. Tapi juga tidak konsisten lagi, lagi dan lagi. Seolah-olah hanya euforia sesaat saja.

 

Dashboard juga sudah lama sekali tidak pernah kubuka. Tapi malam ini aku iseng untuk membuka daftar bacaan (di blogger kita bisa follow blog orang lain) dan merasa takjub dengan kawan-kawan yang masih rutin menulis di rumah mereka. Aku berdecak kagum, karena tahu bahwa diriku belum bisa mencapai di level mereka. Dua tulisan terakhir saja sudah tiga tahun berselang, duh parah ya.

 

Padahal menulis selalu menjadi hobi yang menyenangkan dan menenangkan. Menyenangkan karena kita berimajinasi ke segala arah penjuru, padahal fisik kita sedang duduk bersila menatap layar. Menenangkan karena menulis bisa sekaligus menjadi perantara untuk menata pikiran.

 

Padahal menulis selalu menyenangkan, tapi seolah akhir akhir ini aku sendiri terjebak dalam mendefinisikan apa itu menulis. Belakangan, menulis adalah merangkai huruf menjadi cerita, merangkai kata menjadi cerpen, ata menghubungkan kalimat hingga menjadi penggalan cerita Raya. Seolah menulis adalah tentang melengkapi Raya. Hingga akhirnya, kupikir ketidakmampuanku dalam menulis, akibat sibuk oleh agenda latsar, tapi toh ketika latsar sudah terlewati dan presentasi seminar aktualisasi juga sudah terlaksana, pikiran dan badan masih tidak tergerak untuk menulis. Berarti menulis bukan perkara tentang kesibukan kan?

 

Diriku selalu ingin bangun dari pembaringan, duduk rapi bersila, dan melengkapi Raya. Tapi sepertinya mendefinisikan menulis adalah tentang menggenapkan cerita Raya adalah sebuah kesalahan. Dulu aku menulis tentang apa saja, terkadang hanya sepenggal kata, selarik quote, paragraf yang ada di kepala, cerita hewan, cerita kegiatan atau agenda asrama, tentang adegan dalam sebuah tayangan bahkan tentang puisi yang ingin kutuliskan ulang yang berjudul Kota tanpa Diriku. Dulu, menulis adalah sebebas itu, dan karena bebas itulah, terlahir sekitar hampir 300 postingan di rumah ini.

 

Dih intronya panjang bener.

 

“Seharian ngapain aja?” (aku selalu suka dengan pertanyaan ini, tapi baik jawabanku maupun aktivitasku, juga tidak begitu menarik untuk  kuceritakan)

“Paling mantau live score mu tadi.”

“Ya ampun, aku aja nggak lihat” (dia tuh, bahkan lokasi tes aja bisa salah pas di hari H)

“Udah lama ga nyodorin cerita ya” (pas baca ini, jadi merenung, kemudian akhirnya buka dashboard blogger lagi)

“Sepertinya aku butuh asupan, karena semacam stuck sih” (semacam kangen baca buku sih)

“Mau tak ceritain pengalamanku di krl kemarin ga?” (aku selalu menunggu ini, dan mana mungkin aku nggak mau)

“Jadi kemarin sejak dari stasiun manggarai bareng sama seorang ibu dan bapak tunanetra. Si ibu berkata : Duit kita tinggal 100 ribu ini (dengan nada bingung), si bapak terdiam sesaat kemudian beberapa saat kemudian dia pun berucap : bersyukur ya kita masih dapat rejeki. Si ibu pun menimpali : iya ya”

“Kebayang ga sih gimana rasanya jadi mereka?”

“Saat itu. Apa yang kau pikirkan?”

“Terharu. Mereka yang kekurangan (di mata kira orang normal), masih bisa bersyukur. Padahal duit di kantong tinggal 100 ribu.”

“Aku juga mikir, mungkin ini ya definisi cinta tanpa memandang fisik”

“Kayaknya orang-orang yang diberi kekurangan, justru punya kelebihan pandai bersyukur dan ikhlas dibanding kita yang normal. Ironi ya”

“Pengen tak gandeng, ibu mau kemana? Tak anter. Tapi badanku puegel” (Padahal suasana cerita nya sudah dapet, tapi bisa bisa nya dia melawak di akhir kalimat. Wkwkwk)

“Jikalau entah bagaimana ceritanya. Keadaan ini terjadi pada dirimu? Gimana tuh?”

“Bagian ga bisa liatnya? Atau seratus ribunya?”

“Bagian seratus ribunya. Karena bagian yang ga bisa liatnya sudah di luar imajinasiku.”

“Ya bersyukur saja”

“Di bayanganmu. Kau bisa bersyukur?”

“Misal nih, di kantongku ada 0 rupiah. Kok logikanya masih tetap harus bersyukur ya. (semoga) masih punya iman, masih sehat, masih bisa nyari rizki entah gimana caranya. Semoga.” (Aku tipikal orang yang ketika bertanya dengan seseorang, hobi memprediksi orang lain akan menjawab dengan jawaban seperti apa. Tapi jawaban ini, entah bagaimana tidak masuk dalam skenario pilihan jawaban. Aku sampai terdiam pas bacanya).

 

Tulisan ini berjudul pesan antara dua orang, dan sampai sini saja yang ingin kubagikan. Dan seperti apa yang di awal aku sampaikan. Menulis harusnya bisa tentang apa saja dan darimana saja. Seperti malam ini aku yang hanya ingin berbagi pesan yang disampaikan oleh seseorang.

              

Berbagi saja

Toh yang dibagikan, tidak membuatku kekurangan.

Berbagi saja

Toh dibaca orang atau tidak, bermanfaat bagi orang atau tidak, tapi itu sudah menjadi pengalaman dan layak untuk dirapikan.

              

 

 


Minggu, 14 Juli 2019

Deklarasi dan Persiapan

Aku tidak lagi percaya yang namanya deklarasi. Entah deklarasi akan menulis, ataupun deklarasi tidak akan menulis lagi.


Aku akan menulis, karena aku ingin menulisnya. Dan aku tidak akan menulis, karena hanya ingin tidak menulis saja.


Itu saja sih intronya, intinya ingin lagi mengisi disini. Tempatku berdiam diri dan menuliskan sesuatu dengan senyum. Percaya atau tidak, entah kenapa perasaan begitu produktif justru timbul ketika duduk manis menatap layar dan menarikan jemari di atas keyboard. Tak ada uang yang dihasilkan, tapi pada saat itu, hati merasa tak berlubang lagi (sementara). Sejatinya keseharian itu harus diisi dengan sesuatu yang mampu mengisi lubang di hati kan? (Halah ngomong opo kham).


Awalnya hanya berniat mengajak makan tetangga kamar, karena dia sedang ngidam richesse dan aku yang notabene belum pernah sekalipun tau rasanya makanan di sana, jadi interesting.


“Mron, apa ke richesse nya sore ini aja?”

“Pingin sih, eh tapi rencananya sore ini mau ke tempatnya asep di taman krakatau!”


Mikir keras, dan jadilah aku justru ikut saja ke tempatnya temennya temenku yang sekarang jadi temenku itu.


Sebenarnya alasan kita mampir ke tempat temenku itu karena ingin lihat dan turut menyaksikan (halah emang butuh saksi?) rumah yang baru ia beli di komplek perumahan daerah cilegon (apa serang ya?).


Mantap nggak sih, dia lebih muda dariku dan secara sudah punya rumah atas nama miliknya.


Ejek-ejekan dan guyonan sudah biasa menjadi pengantar. Tetap kawan kosku yang besoknya akan menjalani MCU. Tentang numpang menumpang, dan cerita tentang permasalahan pabrik. Sekarang kalau ketemu sama temen itu yang diomongin masalah pabrik ya dan lima huruf diawali n diakhiri huruf h.


“Tapi kham, sebenarnya yang sulit itu nantinya adalah hidup bertetangga.”

“Lho, kok?” aku penasaran dengan statementnya.


“Ini aku yang notabene bujang aja nih ya, kan aku ngecor halaman depan rumah ya, tetiba ada tetangga komentar, eh emang udah punya mobil ya? Aku nggak ngerti sih maksud pertanyaan itu apa sebenarnya, tapi nadanya tidak enak saja terdengar di telinga.”


“Aih masak gitu sih?”


“Tidak hanya itu. Kan depan rumahku juga bujang, kebetulan dia pasang tralis dan AC. Terus tetiba tetangga ngomong, mas itu rumah depan aja beli AC, mas nggak pingin? Ya intinya kayak persuasif banget.”


Temanku itu sampai berpikiran, kenapa sih seolah sesama tetangga ini saing membandingkan. Dia pasang tembok belakang yang agak tebel dikomentarin emangnya mau bikin rumah tingkat? Aku aja sampai puyeng denger respon-respon dari ceritanya.


Terus dia bilang, oke mungkin bagi kita-kita yang akan jarang berhubungan dengan tetangga karena pagi siang sore bekerja di pabrik, tidak akan begitu terganggu dengan hal seperti itu. Tapi temenku khawatir, kalau kalau kan istri dan anak yang akan sering bergaul, dan omongan tetangga itu bisa merusak ‘mood’ bahkan kebahagian orang.


Aku hanya bisa manggut-manggut dan khawatir.


Aku tanya sana sini mengenai biaya-biaya, karena dia pun mempersilakan aku untuk bertanya. Dan nominalnya pun juga tidak bisa dibilang sedikit.


Alamak, masih banyak sekali yang perlu dipersiapkan. Masih terlalu banyak dan parahnya rasa-rasanya aku hanya berjalan di tempat.


“Kamu itu jangan mikirin rumah dulu, nikah dulu aja!” celetuk salah satu teman.


Pada akhirnya, aku sendiri kok merasa tulisan ini tidak punya alur ya? Ya biarlah, dari dulu apalagi udah jarang banget nulis beginian, mohon dimaklumi saja.


Aku sering kepikiran, ada satu keputusan yang bagiku terasa paling sulit untuk memutuskan, menikah.


Kenapa? Dulu kalau milih sekolah, gampang, kita tinggal cari sekolah yang terbaik, favorit lah kalau mau dibilang saat ini. Satu kata yang katanya akan dihapuskan dengan sistem zonasi. Kuliah? Ya cari jurusan yang sesuai dan universitas yang terbaik. Kerja? Coba saja dulu untuk menggali experience.


Lah menikah? Di dalam memilihnya, tak ada definisi terbaik. Dan aku bingung karena aku tidak begitu banyak punya kenalan. Ah sudahlah, endingnya kok malah aku jadi tambah pusing sendiri.

Minggu, 07 Oktober 2018

Sabtu, 22 September 2018

Lingkaran Setan


Lingkaran Setan

Anda merasa cemas ketika harus menghadapi seseorang dalam kehidupan Anda. Kecemasan tersebut membuat Anda tidak berdaya dan mulai bertanya mengapa Anda bisa begitu cemas. Sekarang, Anda mulai cemas karena menjadi cemas. Oh tidak! Kecemasan itu berlipat ganda! Sekarang Anda cemas tentang kecemasan Anda, yang menyebabkan lebih cemas. Cepat, whiskey… mana whiskey?

Anda gampang kesal terhadap hal paling bodoh tanpa tahu alasannya. Dan fakta bahwa Anda mudah sekali marah membuat Anda semakin sering marah. Dan kemudian, ketika mulai reda, Anda menyadari bahwa selalu marah-marah membuat Anda menjadi seseorang yang berpikiran dangkal dan kejam, dan anda benci akan hal itu; Anda sangat membencinya sehingga Anda marah pada diri sendiri. Sekarang lihat diri Anda: Anda marah pada diri Anda yang marah-marah karena mudah marah. Ah, persetanlah! Mana dinding, rasakan tinjuku!

Atau Anda begitu khawatir tidak bisa selalu melakukan hal dengan benar sehingga Anda menjadi khawatir betapa besar kekhawatiran Anda. Atau Anda merasa begitu bersalah atas setiap kesalahan yang Anda buat sehingga Anda mula merasa bersalah tentang betapa bersalahnya Anda. Atau Anda sedih dan kesepian begitu sering sehingga membuat Anda bahkan lebih sedih dan kesepian hanya karena memikirkannya.

Selamat datang di Lingkaran Setan. Anda bisa mengalaminya beberapa kali atau lebih. Mungkin sekarang Anda sedang mengalaminya: “Tuhan, saya berada dalam Lingkaran Setan-saya seorang pecundang karena mengalaminya. Saya harus berhenti. Oh Tuhan, saya merasa seperti seorang pecundang karena menyebut diri saya seorang pecundang. Saya harus berhenti memanggil diri saya seorang pecundang. Aduuh, kurang asem! Kenapa saya malah mengucapkannya lagi! Nah, ‘kan? Saya sungguh pecundang! Argh!

Senin, 23 Juli 2018

Mony



Mony adalah seekor monyet. Ia suka makan apa saja, selama itu bisa digigit, dikunyah dan ditelan. Tentu Mony tidak suka batu, karena ia pernah mencobanya dan yang ada malah giginya hampir patah ketika menggigitnya.

Mony juga awalnya mau makan rumput, tapi ketika ia memakannya, semua kawan dan monyet dewasa memandangnya dengan tatapan heran dan tidak percaya, jadilah Mony tidak mau makan rumput lagi meskipun sebenarnya ia suka. Rumput bukan makanan monyet, hal itulah yang ia terus percaya. Hingga pada suatu hari, Mony sesekali mencoba menelan rumput kembali, tapi ia muntahkan seketika. Padahal rumput yang sama dan tentunya rasa yang sama.

Suatu hari, ayah Mony pulang dari hutan di seberang lautan dengan membawa buah yang beraneka ragam. Pisang, semangka, buah naga, anggur, kelengkeng, manggis, tebu, dan lain-lainnya. Jumlahnya memang tidak banyak, tapi ayahnya juga membawa bibit segala jenis buah yang ia bawa.

Dari itu semua, Mony sangat menginginkan pisang. Ia ingin segera mencicipinya, buah yang menurut para monyet di hutan tersebut adalah buah terlezat di dunia. Dan karena semua monyet bilang seperti itu, jadilah Mony percaya bahwa kelezatan pisang tiada tara. Mony tak ingin mencoba buah-buah lainnya yang selama ini belum pernah ia rasakan rasanya. DI pikrannya, hanya pisang, tak perlu yang lain.

“Mony, sayang. Sabar, Nak. Itu pisangnya belum matang, masih hijau begitu. Sabar ya, mending Mony simpan dulu beberapa hari biar matang dulu.”

Mony menahan air ludahnya berkali-kali.

“Baiklah, Pisang yang terbaik adalah pisang yang bisa dimakan!” Mony menyerah. Ia menyimpan sendiri pisangnya, menengoknya berkali-kali, menunggu pisang yang berwarna hijau untuk menguning.

Dua malam berikutnya, beberapa anak monyet di hutan tersebut dilanda sebuah penyakit. Penyakit yang kata tetua Monyet akan sembuh hanya bila diberi obat berupa pisang yang baru matang.

Melihat kondisi anak-anak monyet yang begitu parah dan menggigil, akhirnya Ibu Mony menawarkan pisangnya untuk dijadikan obat. Selang beberapa saat, anak-anak tersebut berangsur membaik.

“Terima kasih pisangnya, ya. Saya tidak tahu lagi bagaimana jadinya bila Ibu Mony tidak memberi pisang kepada anak-anak saya!” ujar Ibu anak-anak monyet tersebut penuh terima kasih.

Ibu Mony hanya tersenyum, di benaknya sekarang merasa bingung dengan pisang yang sudah habis. Pisang yang ditunggu-tunggu oleh anaknya, Mony.

“Ibu, pisang Mony mana?” Tangisnya pecah saat ia tidak bisa menemukan pisang yang selama ini ia nantikan. Ia sudah mencari kesana-kemari, tapi tidak kunjung ketemu juga.

“Pisangmu Ibu jadikan obat, Nak. Anak-anak monyet sebelah sakit parah, dan pisang yang baru matanglah yang jadi obatnya.”

“Tapi kan, Bu?” Tangisnya semakin keras, dari sudut matanya bercucuran air mata,  sambil memukul-mukulkan tangannya ke tanah. Mony menangis, untuk waktu yang cukup lama sampai ayahnya pulang.

Ibu Mony menceritakan semuanya kepada ayah.

“Mon, lihat mata ayah.”

Mony menoleh, masih dengan tangis yang cukup keras.

“Kan pisang itu juga buat kesembuhan teman-teman Mony juga, kalau teman-teman Mony sakit, ntar Mony mainnya sendirian dong. Kan nggak enak kalau mainnya sendirian doang.”

Suara tangisnya berkurang.

“Yang paling penting, Mony menangis meraung-meraung seperti ini. Apa cuma pisang itu yang Mony punya?” tanya Ayah Mony sambil mencoba untuk menyuapi sepotong semangka kea rah mulut Mony.

“Mony belum pernah makan semangka, kan?”

Mata Mony yang basah karena tangis, kali ini berbinar. Ia belum pernah makan semangka sebelumnya, dan tidak menyangka kalau rasa manis dan berair dari semangka bisa seenak itu. Ayah Mony kemudian menyuapi buah-buahan lain, dan Mony takjub dengan rasa-rasanya. Apalagi kelengkeng dan tebu. Ia tidak pernah berpikir, bahwa sesuatu yang berbentuk seperti tongkat itu bisa ia gigit dan mengeluarkan rasa manis yang luar biasa.

“Mony masih punya banyak hal lain, kan? Dan yang paling penting, ayah membawa hadiah ini. Bibit-bibit yang Mony makan tadi. Dari bibit ini, Mony bisa menanamnya sendiri dan Mony akan dapat buah yang lebih banyak lagi dari ini kalau Mony benar-benar merawatnya.”

Mony, mengangguk. Pisang yang ia tangisi, sudah tidak lagi ia pikirkan. Ia kini justru merasa bersemangat untuk segera menanam bibit-bibitnya.

Mony adalah seekor monyet, ia suka makan apa saja yang menurutnya dan terkadang ia suka makan rumput juga seperti sedia kala. Tak peduli bagaimana tanggapan monyet lain melihatnya. Ketika suka, ia akan bilang suka. Ketika tidak suka, ia akan bilang tidak suka.


 
Gambar dari sini

Minggu, 08 Juli 2018

Pamitan

Bukan menghilang, tapi hanya pindah rumah.
Bukan berhenti, tapi hanya sejenak menghela nafas.
Bukannya bosan, hanya saja sedang mencari teman.
Rumah ini adalah kosan, sedangkan yang ingin kudiami sekarang berupa kontrakan.

Jadilah pindah kesini,
http://www.anaksenja.com

Mampirlah di waktu senggangmu ke rumah kami,
Meskipun bukan cemilan yang disuguhkan, hanya cerita-cerita yang semoga bisa menggantikan renyahnya bakwan yang baru matang.

Minggu, 04 Februari 2018