Senin, 14 September 2015

Dia yang Selalu Kulihat Diam Sekarang Bicara

                                   
Orang itu….
Selalu kulihat diam selama ini
Tidak banyak bicara
Cenderung bersembunyi
Tak sering “terlihat” di mataku

Sekarang ia muncul
Berdiri di depan 60 orang
Membawakan acara
Terlihat canggung memang
Namun kutahu betapa banyak energy yang ia gunakan

Aku jadi  penasaran
Apa yang ada di kepalanya

Dia Bisa
Sekarang giliran kau juga bisa

14 September 2015, 22.08

Di tengah Kajian Talents Mapping

Minggu, 13 September 2015

Bahagia Karena Belajar



Untung Saja kebahagiaan dia bukan karena respon orang
Karena jika demikian
Maka dirinya akan bahagia jika mendapat senyuman
Namun bersedih hati kala dihadiahi wajah muram

Untung saja kebahagiaan dia bukan karena capaian
Karena jika demikian
Maka dirinya akan berbunga-bunga ketika mendapat kemenangan
Namun bermuram durja kala ditimpa kemalangan

Untung saja kebahagiaan dia bukan tentang seberapa jauh jarak tanah pengabdian
Karena jika demikan
Maka dirinya akan tersenyum lebar di tanah perbatasan
Namun penuh ember tangisan kala mengabdi di kecamatan Moyudan

Untung saja kebahagiaan dia bukan soal jabatan
Karena jika demikian
Ia akan berjalan congkak dengan pandangan merendahkan
Dan enggan keluar rumah karena jadi pion kepemimpinan

Untung saja kebahagiaan dia bukan karena kesehatan
Karena jika demikan
Ia akan tertawa riang ketika segar bugar
Namun menangis pilu dalam pembaringan ketika dicabutnya kesehatan

Untung saja kebahagiaannya tak dia ukur dari kemenangan, pengalaman, kesehatan maupun kelimpahan.
Bahagianya karena rasa syukur dan niat selalu beelajar

Tak peduli dia mendapat senyum atau wajah muram
Ia akan tetap bahagia
Karena darinya ia belajar memperlakukan orang

Tak peduli dia menang atau mendapat kekalahan
Ia akan tetap bahagia
Karena darinya ia belajar untuk berjuang
Mengatasi berbagai aral rintang

Tak peduli dia seorang pemimpin ataupun satpam
Ia akan tetap bahagia
Karena ia tahu, hal itu menjadikannya belajar tentang kegigihan
Memberikan yang terbaik yang bisa ia lakukan

Aku ingin belajar banyak darinya
Belajar tentang kebahagiaan
Dia yang selalu berbahagia karena syukur dan semangat belajar


11 September 2015
Terinspirasi dari KIP 2

Isnan Hidayat 

Jumat, 11 September 2015

Tempat Makan Favorit



Baling-baling kipas angin di sudut kamar berputar sejak dari tadi. Menggoyangkan dengan sering sebuah tirai yang terpasang di jendela kamar. Sebuah kapur barus tergantung tepat di depan kipas angin, memberikan nuansa aroma melati. Membuat hidungku betah untuk berlama-lama duduk di dalam kamar. Menemani diriku yang tengah duduk lesehan memangku laptop. Mencoba berpikir keras menyusun sebuah cerita untuk dituliskan.

                Beberapa kali ku coba tuliskan sebuah kata, dan saat itu juga aku menghapusnya. Lebih sering menekan tombol delete daripada jejeran huruf qwerty di depan mata. Kertas-kertas cerpen yang kemarin kususun rapi, sekarang justru acak-acakan ikut beterbangan di sapu angin dari kipas. Aku mengambilnya, berharap mendapat sebuah ide cerita. Namun yang ada, aku hanya bisa menggaruk-garuk rambut di kepala yang tidak gatal.

                “Bro, makan yuk!” suara itu muncul diiringi sebuah kepala yang nongol secara tiba-tiba dari balik jendela.

                “Ayok deh, kayaknya ini yang membuatku dari tadi terdiam termangu tak mampu menuliskan apa apa. Aku lapar, hehe.”

                “Tak heran ya badanmu sebulet itu.”

                “Parah kau, mainnya fisik! Kenapa si di dunia ini tak ada yang bisa memaklumi kalau ada jutaan orang yang hidup memiliki kesuburan badan di atas rata-rata?” ucapku dengan nada sebal.

                Kunci telah terpasang. Motor telah berhasil dinyalakan. Sembari memanasi motor, temanku yang tadi mengajak makan  tak lupa juga untuk mengajak seluruh warga asrama. Dan seperti biasanya, ia berhasil membuat orang-orang lapar seketika dengan kata kata ajakan manisnya. Apa boleh buat, mereka yang tadinya tidak lapar akhirnya ikut kami juga.

                “Mau duduk dimana nih bro?”
                “Situ aja, di nomor 46. Pojokan enak, bisa buat sandaran.”
                “Oke deh, kalian mau makan apa?”
                “Apa? Lele terbang 5, Nasi goreng ampela 2, 3 ayam bakar. Ada tambahan?”
                “Ane nambah es teler ya. Tulis tuh tulis, yang manis.”

                Obrolan di buka dengan bahasan kongres kampus. Jarum jam yang sejak awal kita duduk menunjuk angka 1 sekarang telah menunjuk angka 3. Pandangan mata kami tertawan pada analisa salah satu kawan asrama. Aku hanya manggut-manggut. Bukan karena mengerti, tapi hanya agar tidak terlalu terlihat tidak mengertinya aku akan pembahasan itu.

                “Kau lihat foto yang tadi nggak?”, celetuk salah satu kawan yang duduk sembari menyeruput es teler yang duluan datang.

                “Eh iya iya, fotonya itu lho. Duh duh duh.”

                Kampus, politik, foto, jalan-jalan, sampai tetangga asrama menjadi topik perbincangan di meja makan. Sesekali tawa terdengar. Lele dicocolkan ke sambal. Gigi-gigi putih terlihat, gelak tawa terdengar. Satu topik belum selesai, beralih ke topik lain. Saking tak mampu ku menahan tawa, reflek ku lemparkan tempe goreng ke salah satu teman. Bukannya membalas, ia justru memakan tempe yang ku lemparkan. Kami tertawa lagi.

                “Porsi nasinya sedikit sekali ya, nggak kenyang nih,huhu.” Gumamku ketika akan beranjak pulang.
                “Berapa tho?”
                Teman di depanku menjawab dengan mengeluarkan seluruh jari di tangannya.

                “Wah mahal juga ya untuk menu yang tidak mengenyangkan gini!” aku berbisik kepada teman sebelahku. Sengaja untuk kalimat ini tidak kuucapkan dengan keras. Hanya kepada teman sebelahku.

                Jarum panjang di jam dinding telah menunjuk angka sepuluh. Aku pun beranjak ke wastafel di sisi bangunan untuk mencuci tangan. Krik-krik-krik. Air mengguyur tangan yang belepotan sambal. Sabun telah keluar dari botolnya. Tiba-tiba temanku tadi yang ku candai tentang mahalnya tempat makan ini mendekat. Mendekatkan mulut ke telingaku sambil menutupnya dengan tangan kirinya. Aku yakin, tak ada yang mendengar apa yang dia ucapkan. Kecuali diriku.

                “Bukan makanannya yang mahal, tapi kebersamaan kita tadi lah yang tak akan sanggup terbayar.”
                Perut yang tadi mengeluhkan masih lapar mendadak terasa kenyang.
*****




Ditulis sejak lama
Karena teringat tentang obrolan yang mau traktiran gaji KP

Sabtu, 05 September 2015

Selembar dan Sehelai


Hari itu dalam kunjungan industri ke Pabrik kertas aku melihat gulungan kertas berbobot tidak kurang dari dua ton. Selembar kertas yang biasanya mudah sekali kurobek, sekarang dia kokoh bak tembok semen. Aku memukulnya, dan ternyata sama sakitnya dengan memukul tembok. Aku mengusapnya dan ia memang kertas.

Selembar kertas yang rapuh ternyata bisa sekuat itu jika sudah berikatan dengan yang lain. Selember kertas ternyata bisa sekokoh itu jika saling mendukung dan bersama-sama membentuk lingkaran (bergabung). Dan ternyata tidak hanya selembar kertas. Banyak juga yang lain.

Setitik embun tentu begitu lembut dan mudah pecah ketika ia sendirian bergelayutan di pucuk daun. Tetes itu akan hancur ketika ia menabrak diri kita. Namun ketika tetes itu berkumpul membentuk suatu banjir, jangankan daun, rumah pun ikut terseret karena kekuatannya.

Sebuah batu bata mudah sekali kita lemparkan ke udara. Kita buang dengan hanya satu tangan. Namun ketika ia disusun dengan batu bata lain maka jangan berpikir untuk menabrakkan diri ke arahnya. Selurut tulang bisa remuk dibuatnya.

Sebuah titik hitam mungkin hanya berarti sebuah tanda baca untuk berhenti. Namun ketika ia bertemu titik-titik yang lain, sebuah goresan-goresan penuh makna terbentuk. Lukisan lukisan indah lahir dari titik titik yang bersatu.

Hari ini aku tidak ingin menyimpulkan sesuatu. Hanya berusaha memahami banyak hal di dunia ini.

Bersama menjadi lebih baik
Bersama akan membuat kita terbang jauh ke atas langit meski di punggung kita tiada sayap.


Lalu bagaimana dengan Rindu?


Pangkalan Kerinci-Riau, 13 Agustus 2015

Jumat, 04 September 2015

Aku Akan Menantang Langit


          Aku sungguh akan menantang langit
            Melampui batasan yang selalu ada di atas kepala
           
            Aku akan menantang langit
            Bertemu dengan orang baru
            Bukan untuk mengajak mereka bertarung
            Melainkan berbicara satu sama lain
            Pakai rasa, dengan hati

            Aku akan menantang langit
            Tak perduli jikalau hari itu aku sudah terlambat
            Aku akan tetap datang
            Dan meminta maaf
            Untuk kemudian duduk bersama
            Dalam harmoni rasa
           
            Aku akan menantang langit
            Menancapkan duri-duri di dipan empuk dalam kamar
            Untuk kemudian berbaring dalam pangkuanmu.

            Aku akan menantang langit
            Menantangnya
            Memaksa bibir bergerak mengeluarkan kata meski ia kelu
            Melelehkan es keras yang membelenggu kaki

            Aku akan menantang langit
            Dengan kedua sayap yang sekarang ada di pundak
            Meski tidak terlihat
            Tapi bisa kurasa
            Sepasang sayap putih
            Pemberian dari yang Terkasih

            Aku akan menantang langit
            Dengan menjadi sebenar-benarnya diriku
            Menjadi diri sendiri

            Menjadi diri yang lebih baik


Kamis, 03 September 2015

Senang Kau Kembali



              Telah dua bulan Rehan berangkat menuju tanah pengabdian di perbatasan. Malam ini adalah saat dia kembali pulang. Menuju kampung halaman.

                Ia membuka dan tiba tiba Lana mendekat.

“Bisa Kak Rehan tolong pegang bantal ini?”

                “Mau buat apa Na?”

                Gadis itu tidak bilang apa-apa. Hanya membalikkan badan dan melangkah menjauh dari kakaknya.

                “Siap!!!!! Hiaaaaatttt”

                Langkah kakinya semakin cepat, sekarang ia justru berlari sekuat tenaga menuju Rehan. Menempatkan siku kanan ke arah depan.

                “Kak Rehan harus siapppp”

                Sebuah bunyi gubrak terdengar. Lana menghantam cepat bantal yang dipegang Rehan.

Kecepatan dia berlari, ditambah semangatnya yang membara membuat Rehan yang tidak siap terpental dari tempat semula.

“Misi berhasil komandan!!!”

Gelak tawa terdengar. Tidak hanya dari suara Lana yang Rehan tahu persis seperti apa. Ada  suara lain. Dan yang ini sepertinya Rehan juga pernah mendengarnya. Suara milik Hilal dan Nur Khasanah.

“Apa kabar Nak?”
“Kabar baik Bu Ayah” Pemuda itu langsung beranjak dan menyambut kedatangan mereka berdua dengan sebuah pelukan. Rehan kali ini terisak.

Lana menarik bagian bawah baju Rehan. Mirip seorang anak-anak yang sedang meminta ibunya untuk dibelikan arum manis.

“Kak Rehan…”
“Banyak sekali yang terjadi. Sangat menyenangkan ketika kita semua bersama.”
Dari tangan mungilnya ia menyodorkan sebuah kertas.

“SENANG KAU KEMBALI”



Selasa, 01 September 2015

Chapter Kisah Kehidupan

Ada banyak hal yang kita lihat hanya dari "hasilnya".
Sebuah perilaku, prestasi dan apapun yang bisa kita ketahui hari ini tentang seseorang.

Kita iri, berkata pada diri mengapa dia bisa seperti itu sedangkan kita sendiri justru menganggap tidak diberi kesempatan dan kemampuan yang sehebat dirinya. menyalahkan "bakat".

Tidak kah kita berpikir apa yang telah ia lewati, berapa banyak peluh yang mengalir dari keningnya sebelum ia bisa sampe seberhasil sekarang?

Daripada mengeluh, iri dan memvonis tidak adil, ayo kita mulai tulis chapter 1 cerita kita. Dia telah sampai chapter 20 karena memulai dari dulu.

Dan benar benar tidak ada kata terlambat bagi diri yang mau memulai.
Terlambat itu jikalau kita mengerjakannya besok

‪#‎2menit‬ menuliskan kisah luarbiasamu dari sekarang