Tampilkan postingan dengan label Tentang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Februari 2017

Senin, 16 Januari 2017

Berulang Kali


               
                Menonton film yang sama berkali-kali
                Mendengarkan musik yang itu-itu saja berhari-hari
                Bermain game yang sudah berulangkali ditamatkan
                Makan selalu di tempat yang sama, menu yang sama, minuman yang serupa.
                Melalui jalan yang sama tiap pagi
                Membuka lembaran-lembaran buku yang sama berulang kali
                Sekalinya ingin mengetikkan sesuatu, mengurungkannya untuk lain kali


                Nanda kore?      

Minggu, 13 November 2016

Salah Satu Inspirasi


13 November 2016

            Ada milyaran inspirasi yang gentayangan di sekitar kita. Bisa dari buku-buku, petuah orang yang kita kenal, kejadian di masa lalu, atau hanya dari sebuah film yang kita tonton sembari melepas penat.

            Untuk kau yang sedang belajar menulis ( itu berarti juga untukku si -_- ), kau bisa saja mendapatkan sebuah ide tulisan dari menonton anime. Beberapa tulisanku biasanya bersumber dari ide yang seolah terbesit di kepala sehabis menonton. Tentu aku tidak sedang menyarankanmu untuk selalu hanya menonton anime saja. Karena kembali ada milyaran inpirasi di muka bumi, kau bisa mendapatkannya dari jalan mana saja yang kau suka.

            Aku bukanlah penggila anime yang hafal sampai ratusan judul, alur cerita, nama dan watak tokoh-tokohnya bahkan sampai hafal di luar kepala dialognya. Hanya saja ada beberapa anime yang kurekomendasikan untuk kau tonton di kala waktu senggang.

1.      Ansatsu Kyousitsu (Assasination Classroom)

Apa jadinya bila satu kelas diberi misi untuk melakukan pembunuhan untuk membunuh gurunya sendiri? Awalnya ketika dapat rekomendasi anime ini, aku sempat berpikir “Gampang dong”, tetapi bagaimana jika guru yang dimaksud adalah monster bertentakel yang memiliki kecepatan 20 mach? Mereka, murid SMP kelas 3E hanya diberikan waktu 1 tahun sebelum kelulusan untuk membunuh guru mereka. Guru yang sama yang akan menghancurkan bumi di tahun depan jika mereka tidak berhasil membunuhnya.

Apa yang menarik dari anime ini?

Guru yang ternyata jadi target pembunuhan ternyata justru berusaha untuk mengembangkan bakat muridnya satu per satu. Jadi ada satu kelas sebagai tokoh utama, dan tokoh paling utamanya jelas si guru dan murid bernama shiota nagisa. Oh ya, dan kelas E adalah kelas dengan nilai murid terendah di sekolah. Mereka mendapatkan diskriminasi dari kelas-kelas lain. Dan perseteruan antara kelas E dan kelas A (kelas jenius) yang mewarnai misi pembunuhan mereka.


2.     Barakamon

Sampai saat ini aku belum tahu apa arti dari kata barakamon. Tapi ini anime slice of life ter… hmmm ter apa ya, teradem yang kutonton. Handa seishu adalah seorang kaligrafer, dia mendapatkan juara satu, namun di saat yang sama ada seorang kakek tua yang bilang bahwa kaligrafinya membosankan. Spontan karena merasa dihina, dia memukul si kakek tua itu. Dan akhirnya, ayahnya Handa meminta dia untuk tinggal di pulau (tempat terpencil – desa).

Kehidupan Handa di pulau lah yang menjadi inti dari cerita ini, tapi kau akan menemukan banyak cerita menarik di dalamnya. Menonton barakamon ini serasa menonton film tentang KKN. Dan yang paling menarik adalah Naru. Siapakah Naru itu? Tonton sendiri deh.


3.      One punch man

Kita terbiasa dengan cerita seorang pahlawan yang dari lemah, berlatih keras, kemudian berjuang mati-matian melawan musuh dan monster. Namun, bagaimana bila pahlawan yang menjadi tokoh utama dalam cerita terlampau kuat? Ia selalu bisa mengalahkan musuhnya hanya dengan satu pukulan. Anti-mainstream sekali.

Musuh terbesarnya bukanlah monster-monster besar nan kuat, melainkan anggapan buruk masyarakat tentang dirinya. Dimana di episode 8 atau 9 ia justru dimaki dan disalahkan atas rusaknya suatu kota.
           

           Tiga anime dulu saja ya, kau tidak harus menontonnya, tapi jika bingung mencari inspirasi, cobalah tonton di sela-sela waktu senggangmu saja. Sebetulnya adalagi anime lain seperti kuroko no basket dan boku dake ga inai machi. Tapi itu dulu saja.
           
See you…
Aku sangat menunggu ceritamu selanjutnya.




Sabtu, 29 Oktober 2016

Aturan 10.000 Jam



                Dalam buku yang berjudul outlier karangan Malcom Gladwell, disebutkan bahwa jika kita sudah menggeluti suatu bidang dengan jam terbang sepuluh ribu jam, maka bisa dipastikan akan ahli di bidang  tersebut.

                Malcom memberikan contoh The Beatles, Bill gates dan Bill Joy.

                Nah jika kita menginginkan untuk ahli dalam bidang tertentu. Tanyakan pada diri, sudah berapa jam kah yang dihabiskan?

                Semisal seorang Irkham Maulana ingin bisa ahli dalam bidang menulis. Jika dia konsisten menulis 3 jam sehari (jarang sekali sebanyak ini), tujuh hari dalam seminggu, maka untuk mencapai angka sepuluh ribu dibutuhkan waktu 10 tahun. Jika menulisnya hanya 1 jam sehari maka bisa kita hitung sendiri, butuh waktu 30 tahun lamanya. Apalagi jika setengah jam sehari? Sepuluh menit sehari? Atau justru tidak rutin setiap hari?

                Tak heran jika mereka yang kita kenal sebagai seorang jawara di bidangnya, adalah mereka yang sangat menyukai apa yang sedang digeluti saat ini. Mereka yang begitu menikmati sehingga bisa menghabiskan dengan ringan enam jam delapan jam tiap harinya tanpa pernah merasa terbebani. Mereka senang saja melakukannya karena merasa sedang ‘bermain’.

                “Kerja lah untuk hal-hal yang kau senangi melakukannnya, maka kau tidak akan menemukan dirimu sedang bekerja, yang ada kau merasa bermain sepanjang waktu dan dibayar untuk itu.”

                Lalu? Semisal apa karena waktu yang dibutuhkan begitu panjang maka seseorang merasa pantas untuk menyerah dalam hal yang mereka sukai?

                “Ahh lama juga ya supaya bisa jadi ahli dalam menulis. Apa aku menyerah saja ah. Kelamaan” begitu?

                Tidak, tidak seperti itu.

                Kita akan menulis, berusaha menulis sebanyak mungkin. Sesering mungkin. Tidak peduli hanya sepuluh lima belas menit atau kurang dari itu.

                Meskipun semisal tidak mencapai angka 10.000, tapi paling tidak kita tahu sedang mendekati ke sana.

                *Btw, aku khawatir jangan-jangan saya sudah begitu ahli dalam hal tidur. Coba hitung sendiri berapa angkanya




Selasa, 18 Oktober 2016

Apa Manusia Bisa Terbang?



            Hei shiro, apakah manusia bisa berubah itu benar?
            Jika manusia ingin terbang, apa mereka bisa menumbuhkan sayap?
            Kurasa tidak.
            Kau tidak bisa mengubah dirimu, tapi kau bisa mengubah caramu melakukannya.
            Kau harus membuat jalanmu sendiri. Kau harus menemukan cara untuk terbang, meskipun kau tetap sama.
            Ayo kita pikirkan cara untuk menumbuhkan sayap agar kau bisa terbang.
            Kita masih punya banyak waktu.



Kamis, 13 Oktober 2016

Rabu, 12 Oktober 2016

Kita Saling Kenal, Kan?



                Pernahkah kau bertanya pada seseorang yang kau kenal namun kau tidak memperoleh jawaban? Bukan tentang jawaban benar atau salah, tapi kosong saja, tak ada yang mau berbicara. Kau bertanya pada banyak orang tapi yang ada hanya udara senyap, hening yang kau rasa? Atau pernahkah kau melihat kawanmu sedang bertanya kepada kawanmu yang lain namun yang ditanya justru tidak berkata apa-apa. Ia mendengar tapi ia tidak berbicara. Ia bisa berbicara tapi lebih memilih untuk mengatupkan kedua belah bibirnya.

                Baik kau yang bertanya ataupun kau yang melihat seseorang bertanya, apa yang akan kau rasakan?

                Aku punya sebuah kelompok, namanya forum lingkar pena. Beberapa orang berinisiatif untuk membuat sebuah grup media sosial beranggotakan seluruh pengurus forum tersebut. Sebuah alternatif untuk bisa berkomunikasi meskipun tidak tatap muka. Namun aku mempunyai masalah dengan grup ini. Bukan masalah serius, hanya masalah pribadi yang mungkin saja menurut anggota grup lain adalah hal yang remeh temeh.

                Masalahku adalah ketika sebuah tanya menggantung saja di langit-langit layar, ia tidak mendapat jawaban tidak pula tanggapan. Entah siapapun yang bertanya. Penghuninya belajar untuk enggan sedikit menggerakan jemarinya menekan huruf-huruf di layar.  Penghuni lain hanya diam  saja. Membisu.

                Aku ingin bertanya padamu? Kita saling mengenal kan? Kita saling tahu nama, saling tahu rupa, pernah berjumpa, pernah pula duduk bersama membahas suatu cerita.  Kita benar-benar saling kenal kan?

                Aku akan sangat memaklumi jika sebuah grup begitu hening dan orang yang muncul itu-itu saja jika jumlah anggotanya mencapai angka ratusan, jika kita tidak tahu siapa yang berbicara, tidak kenal satu sama lain kecuali hanya beberapa orang lain, aku akan sangat memaklumi sekali karena kita tidak saling kenal, atau setidaknya lebih banyak yang tidak kita kenal.

                Tapi forum lingkar pena ini bukankah kita saling menenal satu sama lain? Semuanya kita kenal? Maka jujur saja jadi merasa sedih ketika kita benar-benar telah mengabaikan orang-orang yang kita kenal. Ketika kita memilih membisu saja akan sebuah pertanyaan. Ketika kita tidak lagi peduli barangkali pertanyaan tersebut begitu berarti bagi si penanya untuk mendapatkan jawabannya segera, atau untuk sekadar mendapat masukan.

                Atau ketika seseorang menyampaikan tentang tarian tuts, atau info lain, respon grup begitu hening. Seolah-olah orang yang menginfokan tersebut sedang berbicara dengan sarang laba-laba. Tapi apa memang hanya perasaanku saja, grup ini banyak orang tapi dipenuhi dengan banyak sarang laba-laba?

                Sungguh, kita saling kenal kan?
                Atau jangan-jangan hanya perasaanku saja kalau kita saling kenal, padahal sejatinya tidak.
                Kita tidak saling kenal makanya kita saling mendiamkan.
               
               




Jumat, 23 September 2016

Mimpi


September 2016

                Lelaki itu tampak murung, wajahnya tidak begitu bersemangat. Kini di hadapannya ada kakak kelasnya di kampus dulu. Orang yang selalu dia hormati dan hari ini ia datang khusus untuk bertemu dengan dirinya. Lelaki itu Ingin menanyakan suatu hal kepada kakaknya. Seorang kakak yang menurutnya begitu banyak menuai prestasi.

                “Kak, kok sampai sekarang aku belum berprestasi ya?”
                “Maksudnya?” tanya si kakak kelas memastikan.

                Maka lelaki itu menjelaskan panjang lebar. Menyebutkan satu per satu apa yang dia sebut sebagai suatu pencapaian. Ia juga menyebutkan hal-hal menakjubkan yang telah dicapai oleh kakak tingkatnya itu.

                Kakak tingkat mengangguk pelan.

                “Aku tidak tahu bagaimana trik khusus atau tips-tips untuk mencapai apa yang kau sebut prestasi itu. Tapi jika kau tidak berprestasi, bisa jadi karena yang sekarang kita kejar adalah mimpi orang lain. Bukan mimpi kita sendiri.”

                “Mimpi orang lain?” desah lelaki itu pelan.


Minggu, 18 September 2016

Senin, 01 Agustus 2016

Jumat, 29 Juli 2016

Teman Duduk

Buku adalah teman duduk yang tidak akan memujimu dengan berlebihan, sahabat yang tidak akan menipumu, dan teman yang tidak membuatmu bosan. Dia adalah teman yang sangat toleran yang tidak akan mengusirmu. Dia adalah tetangga yang tidak akan menyakitimu. Dia adalah teman yang tidak akan memaksamu mengualarkan apa yang kau miliki. Dia tidak  akan memperlakukanmu dengan tipu daya, tidak akan menipumu dengan kemunafikan, dan tidak akan membuat kebohongan.


                *Kukutip dari La Tahzan – hal 128.

Kamis, 14 Juli 2016

Gagu


Aku baru sadar, untuk beberapa waktu ternyata bisa juga ya kadang suara di tenggorokan tidak pernah benar-benar muncul keluar ketika kau berbicara dengan orang-orang tertentu. Tak jarang pula lidah terasa kelu dan jadi gagap saat kau berusaha mengutarakan sesuatu. Padahal hanya berniat say hai atau say hallo, atau bahkan mau minal aidin-an karena momennya masih idul fitri.

           Sehingga kalimat-kalimat tersebut tak pernah tersampaikan. Kan ya jadinya merasa nggak enak dengan orang yang bersangkutan.  :3


            Dan sampai detik ini pun, aku belum tahu orang-orang tertentu yang bagaimanakah yang sering tiba-tiba menjadikanku gagu.

Selasa, 05 Juli 2016

Lebaran itu

"Mas, boleh minta dituliskan sesuatu tentang arti lebaran kah mas? lebaran menurut mas aja. Diketik di WA langsung juga gpapa,"

aku kudu nulis opo yo - berpikir keras.

dan yang kepikiran mung koyo iki.



                Bagi seekor ayam, mungkin lebaran itu adalah tentang pengorbanan diri. Rela disembelih untuk menjadi santap saji kala para tamu mampir nanti. Ia merelakan dirinya demi mempererat silaturahim.

                Sebuah ketupat mungkin akan menganggap lebaran itu adalah tentang sebuah awal dan akhir. Ketupat akan ramai-ramai lahir ketika menjelang malam takbir, dan bersedia untuk lenyap untuk dilahap di esok hari.

                Sebagai anak kecil, mungkin lebaran adalah momen tentang kebahagiaan. Dimana akan banyak makanan, baik ketupat ataupun opor ayam. Akan banyak ‘angpau’ untuk diterima dari orang yang tidak enggan berbagi. Di samping itu semua, lebaran menjadi hari yang ditunggu karena bertemu banyak kawan dan saudara, berlari ke sana kemari, bermain bersama-sama.

                Lalu bagimu pemuda (yang makan ayam, ketupat dan pernah mengalami masa kecil), apakah arti lebaran untuk pribadimu tahun ini?

                

Senin, 04 Juli 2016

Ada Satu Nikmat

22 Juni 2016

            Ada satu nikmat yang sering terlupa karena kadang kita merasa menemukan yang lebih baik, ia adalah kesempatan.

            Selepas terawih kemarin malam, entah sebuah kebetulan yang direkayasa atau bukan, temanku yang teraweh di masjid pogung raya mendapat rezeki untuk bisa bertemu salah seorang dosen teknik. Ia berniat menyampaikan pesan kawannya terkait wisuda yang tertunda.

            Ketika sholat isya, kami berdua tak menemukan sosok dosen yang kami cari. Dalam hatiku  hanya berucap, “durung rejeki mas ketemu dino iki,”. Lantas setelah ceramah teraweh selesai dan sholat hendak dimulai, kawanku yang dari tadi kita berjejeran satu shaf melangkah maju ke depan.  Mengisi sela-sela shof yang masih bisa dipenuhi.

            Ia maju ke depan, dan seorang lain di sampingku akhirnya maju. Pun di sampingnya sampingku sekarang orang baru, dan setelah kutengok, beliau adalah dosen yang kami cari. Dari shof pertama dan ketiga, aku dan kawanku saling pandang sambil melempar lirik dan senyum. “Yang dicari-cari malah datang sendiri ketika sudah tak dicari. Rejekimu, mas.” Batinku.

            “Jadi begini, Pak. Teman saya hendak menanyakan wisudanya yang sudah tertunda lama.”

            “Lho? Kalau dia sudah nggak ingin wisuda ya jangan dipaksa untuk wisuda tho mas?” jawab dosen tersebut sembari menoleh ke arah saya sambil melempar senyum. Aku sendiri jadi celingak celinguk bingung dan akhirnya senyam senyum sambil menggaruk-garuk kepala.  Jadi temannya temanku hanya tinggal sedikit lagi wisuda, namun entah karena hal apa, beliau tidak melanjutkan studinya (hilang) beberapa tahun. Dan entah karena hal apa juga, beliau jadi ingin wisuda. Dan untuk itu, meminta temenku untuk menyampaikan hajat kepada dosen yang berkepentingan. Begitu.

            “Ini tidak terjadi sekali dua kali lho, mas. Yang seperti ini sudah berulang kali sejak jaman dahulu.”

            “Wah iya kah, Pak?” aku jadi tertarik dengan yang dimaksud jaman dahulu dan berulang kali tersebut. Dua frasa itu akan mengawali rentetan cerita-cerita ‘menarik’ tentang pengalaman beliau. Aku selalu suka dengan beliau ketika bercerita.

            “Dulu pernah ada, karena dia sudah punya usaha dan perusahaan besar, ia berniat tidak menyelesaikan studinya. Memang ketika itu dia sudah menjadi direkturnya. Dan menurut dia saat itu, ia memilih untuk tidak selesai (menghilang), padahal tinggal skripsi. Setelah 22 tahun, dia kembali menghadap saya. “Bro, Aku ko ingin lulus, bagaimana caranya?” ya aku hanya bisa senyum saja tak bisa memberikan jawaban.”

            “Juga pernah ada mas, pas kuliah sudah usaha eksportir Amerika. Omsetnya miliaran. Ketika dia punya anak tiga, dia balik lagi menghadap saya yang temannya waktu itu.  “Biar saya bisa lulus bagaimana ya?””

            “Dan itu masih banyak kasus lagi yang seperti itu. Puluhan tahun kemudian baru kerasa pentingnya lulus. Pentingnya menyelesaikan tuntas studi. Sekarang memang tidak terasa, “wong sudah jadi direktur, atau kesibukan lain yang dalam pikiran kita sudah tidak penting lagi kita lulus ataukah enggak untuk jenjang sarjana kita.” Tapi ya itu kenyataannya mas. Lulus itu penting.”

            “Kadang kan kita memang gitu, sering menyia-nyiakan satu nikmat yang bernama kesempatan. Sudah tinggal lulus, skripsi sudah tak bilangin akan dibantuin paling 3-4 bulan selesai. Praktikum sudah kudorong-dorong. Intinya sudah kufasilitasi, tapi orangnya sendiri menghilang, ya saya bisa apa kalau gitu.”

            “Bisa kuliah dan lulus itu kesempatan. Dan banyak lagi kesempatan-kesempatan dalam hidup, tapi kadang ya yang namanya manusia menyerah dengan kesempatan itu. Kelak akan terasa seberapa besar anugerah kesempatan itu bagi kita. Dan ketika masa itu, kita akan berpikir, kenapa tidak kita ambil kesempatan besar tersebut.”

            “Kamu kapan lulus?” dosen tersebut menjawel tanganku.
            “Eh? Semester depan, Pak.”
            “Kamu 2011, tho?”
            “2012  -_-“


Minggu, 03 Juli 2016

Senin, 27 Juni 2016

Takjil yang Bukan Paling Favorit



                Aku ingin bercerita kepadamu tentang takjil yang bukan paling favorit. Karena jika kau tanyakan padaku takjil apa yang paling kusuka, aku akan sigap dan lancar menjawab takjil yang dibuat ibuku dan dimakan bersama keluargaku. Aku yakin diriku bukanlah satu-satunya orang yang akan memberikan jawaban seperti ini. Mungkin kau juga. Karena entah kenapa kalau soal keluarganya segalanya lebih berasa meskipun dengan menu takjil paling sederhana.

            Aku tak akan bercerita takjil apa yang sering ibuku buat, sungguh aku takut nanti air liurmu keluar atau kau buru-buru hendak mampir ke rumahku di waktu berbuka. Bukannya kau tidak boleh mampir, hanya saja jarak jogja ke comal kotaku sangatlah jauh. Jadi kali ini aku hanya ingin bercerita tentang takjil yang bukan paling favorit di Jogja. Tempat biasaku bertemu denganmu.

            Kau pasti sudah hafal betul bahwa menjadi anak kos-kosan di kampus sekitaran Jogja mempunyai berkah tersendiri di bulan puasa ini. Masjid-masjid di sekitar tempatku menuntut ilmu ini banyak yang memberikan takjil untuk berbuka puasa secara cuma-cuma, dan kadang tidak tanggung-tanggung langsung beratus bungkus menu berbuka sudah dipersiapkan. Nah ya aku dan temanku sebagai mahasiswa tidak menolak dengan kedermawaan orang-orang sini. Dan karena itu kudoakan kebaikan kepada mereka. Semoga kebaikan yang mereka berikan akan kembali dalam keberkahan yang berlipat-lipat.

            Pernah di suatu sore aku diajak oleh salah satu kawanku. Menjadi obrolan wajib sebelum memilih masjid mana yang hendak kita sambangi sore itu.

            “Eh buka dimana, Bro?”
            “Di masjid yang di sana aja yuk, biar deket kontrakanku yang baru?”
            “Enggak di tempat biasa aja?”
            “Sekali-kali  lah”

            Mendengar kalimat sekali-kalilah membuat hatiku condong mengikutinya. Ya hitung-hitung safari masjid kalau kata temenku yang satu itu.

            “Menu apa ya yang kita dapat hari ini?”

            Agak kaget ketika kaki melangkah masuk ke dalam masjid. Di masjid yang biasa kami  datangi, kotak-kotak menu takjil sudah terbariskan rapi dan kita hanya perlu duduk sembari mendengarkan kajian sore sebelum buka. Sedangkan masjid yang kudatangi sore itu lain, tak ada kardus makanan.

            “Ah mungkin kalau sudah adzan nanti dibagikan atau ada tempat khusus,” batinku.

            Adzan telah berkumandang dan ada mas-mas yang mempersilakan kita untuk beranjak ke sebelah masjid. Sudah ada teh dan kardus kecil yang sama dengan dibawa oleh anak-anak TPA selesai mengaji.

            “Lho, kok kecil?” kalimat itu tak pernah terucap karena ia hanya bersemayam di hatiku yang heran.

            “Tahu gitu aku ke masjid biasa.” Lagi-lagi kalimat ini hanya ada di pikiranku.
            Semua orang yang berada di masjid kemudian sholat maghrib berjamaah.

            ***

            Beberapa orang menyodorkan nasi kepada jamaah yang keluar dari masjid seusai sholat. Aku menerimanya, kotak nasi yang kupikir tidak akan kudapatkan. Kami berdua beranjak pulang. Diperjalanan kami berbincang banyak hal, termasuk hal yang mengganjal di pikiranku.

            “Aku kira nggak bakalan dapat makan tadi, Bro?”
            “Kenapa emang?”
            “Ya tahu gitu kan mending ke masjid yang biasa aja.”
            “Lho emang ada kewajiban mereka po memberi kita nasi?”
            “Tidak,” dan lidahku tiba-tiba tergigit dengan pertanyaan yang dilontarkan kawan sebelahku.
            ***

            Sore itu, dari sekotak takjil yang bukan paling favorit aku mengerti satu hal. Rasa yang mengganggu di pikiranku itu ada karena sebelum berangkat aku sudah berpikir akan mendapat sesuatu. Sekotak nasi. Sore itu aku mulai berekspektasi. Dan layaknya semua ekspektasi, jika tidak memenuhi, maka hanya akan ada rasa kecewa hati. Toh memang tak ada kewajiban mereka untuk memberikan sesuatu kepadaku.

            Hari itu, kalau saja aku tidak berharap apa-apa, aku pasti akan lebih bersyukur menerima apapun yang diberikan. Secara, harusnya malah aku nggak dapat apa-apa.

            Ah iya, sore itu rasa takjil yang bukan paling favorit itu jadi terasa berbeda.

            Terima kasih kepada beliau-beliau yang telah berbaik hati berbagi di tiap waktu berbuka kami.


Sabtu, 25 Juni 2016

Berarti

Ajari aku cara menjadi berarti bagi orang lain, karena sampai sekarang aku belum tahu bagaimana caranya.
            Ajari aku cara menjadi berarti bagi orang lain, sebagaimana kalian telah memberikan arti dalam kehidupanku.
            Dan ajari aku cara menjadi berarti bagi orang.
            Tolong ajari aku.

            Karena aku tidak mau menjadi tua seorang diri.

Kamis, 16 Juni 2016

Sabtu, 04 Juni 2016

Kamis, 19 Mei 2016

Tulisan yang Hanya Kau yang Bisa Menulisnya


19 Mei 2016


            Seseorang mengatakan apa yang tidak kuingin sama seseorang yang kumaksud, dan aku jadi kikuk. Semakin kuberusaha menjelaskan secara langsung, semakin aku merasa gagap dan gugup.

            “Tulisan mirip wikipedia, bukan story,” (Meskipun aku tidak menyebutkan Wikipedia dalam ‘perdebatan’ malam itu, tapi kesimpulan yang ia berikan tidak sepenuhnya salah).

            Setiap tulisan punya jodohnya masing-masing. Tiap pembaca juga punya selera akan sebuah tulisan yang ia baca. Intinya tidak ada tulisan buruk, hanya mungkin kurang berjodoh dengan si pembaca.

            Ketika membaca tulisan seseorang itu, aku sempat mengira akan membaca sebuah cerita tentang pengalaman dari sudut pandang penulisnya. Pengalaman tentang si penulis dari apa yang ia lihat, dengar dan rasakan (yang ini menurutku terpenting). Ibarat kita pergi Malaysia, aku tidak mengharapkan tulisan tentang Malaysia adalah sebuah negeri di seberang Indonesia, terletak di bujur berapa lintang berapa, terdiri dari berapa pulau, penduduknya dari berbagai suku.

            Aku tidak suka tulisan seperti itu (ini cuma hal selera), tulisan yang bisa ditulis oleh semua orang yang tahu, bukan yang ‘mengalami’. Aku akan lebih suka pengalaman dia di Malaysia, kenapa sih milih Malaysia dari sisi ‘hati’ atau konflik. Apa yang kau lihat di sana. Tulisan dari sudut pandangnya, dari matanya. Apa yang dia alami.

            Begitu juga tulisanmu, kau mengalami suatu hal yang begitu luar biasa dengan hidup di sebuah asrama dalam waktu yang lama. Mengalami proses orientasi yang menarik. Dan aku ingin membaca tulisan yang hanya bisa ditulis olehmu. Hanya olehmu.

            Bukan tentang apa eventnya, tapi perihal kau yang berada di event itu. Aku tahu rundown kegiatan itu memakan begitu banyak hari dan susunannya, tapi aku lebih tertarik kau yang ada di hari-hari itu.

            Jadi kalau teman-temanmu baca (terutama alumni) ia bukan membaca suatu definisi dan pengetahuan yang mereka sudah tahu tentang itu. Tapi membaca sebuah tulisan dari seorang anak yang mengalami pengalaman yang sama dengan mereka alami dulu. Hingga akhirnya mereka merasa bernostalgia ketika membaca tulisanmu. Mereka bernostalgia setelah membaca ceritamu tentang apa yang kau alami.

            “Wah, itu toh yang penulis alami. Kalau aku agak berbeda lho…” dan kemudian orang yang membaca tulisanmu menjadi ingin menulis dan mengenang peristiwa di event yang sama dengan yang kau alami.

            Lagi-lagi, setiap tulisan hanyalah perihal selera.
            Jadi maafkan aku kalau banyak salah kata (itu pasti) dan tidak berkenan.
            Kalau aku lebih suka membaca tulisan yang hanya bisa dituliskan olehmu. Hanya olehmu.