Tampilkan postingan dengan label cermin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cermin. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 November 2016

Berbakat


2 November 2016

            Namaku Jono, Teman-teman memanggilku Jon. Aku sekarang duduk di kelas 6 dan baik para guru dan teman-temanku menyebutku orang paling pandai di sekolah. Sudah tampak jelas alasannya tanpa harus kusebutkan bukan? Karena aku selalu mendapat rangking satu.

            Selalu.

            Selain dikenal sebagai siswa paling pandai di sekolah. Teman-temanku juga menyebutku sebagai pemain basket SD terhebat. Aku jadi malu.

            Aku jadi malu, karena aku tidak sehebat apa yang mereka pikirkan. Aku tidak sehebat itu.

            Aku mau bercerita padamu, boleh? Aku hendak bercerita tentang rahasiaku. Barangkali kau tertarik.

***

            Namaku Jon. Kebetulan aku suka basket. Orang tuaku membelikan ring yang dipaku di tembok dan sebuah bola basket ketika aku masih duduk di kelas satu. Maka semenjak saat itu aku sering iseng main-main melemparkan bola itu agar masuk ke keranjang. Kalau mau berangkat sekolah dan melihat bola basket  tergeletak di halaman rumahku. Aku pasti melemparkannya. Aku tidak peduli itu masuk atau tidak. Yang penting aku terus melempar bolanya ke keranjang. Dan itu kulakukan setiap kulihat bola di halaman rumahku.

            Kebetulan ketika kelas tiga, Guru olahraga kami senang sekali dengan mencari siapa paling hebat di antara kami. Misalnya saja jika pelajaran olahraganya berupa lari, maka kami akan diajak lomba lari antara aku dan kawan-kawanku. Di sekolahku juga ada sebuah lapangan basket  dan saat itu jam pelajaran olahraganya juga tentang basket. Dan kau pasti tahu apa yang dilakukan guru olahragaku kan? Beliau melatih kami sebentar untuk menembakkan bola ke jaring dan kemudian melombakannya sebagai ujian.

            Tidak ada satupun temanku yang berhasil memasukkan bola ke dalam jaring kecuali diriku (kau ingat kalau keseharianku adalah melempar bola ke keranjang saat melewati halaman rumah kan?). Saat itu guru olahragaku tertarik padaku.

            “Wah kau berbakat sekali Jon.”

            Padahal saat itu yang aku bisa hanya melemparkan bola ke jaring. Aku belum tahu soal dribble, mengoper ataupun teknik-teknik lain dalam bola basket. Kalau aku bandingkan dengan teman-temanku keunggulanku hanya sedikit di antara teman-temanku. Hanya bisa melempar bola dan kebetulan masuk saat diujikan. Itu saja.

            Tetapi sejak hari itu, guru olahragaku meminta untuk latihan bersama tiap sore di lapangan sekolah sedangkan teman-temanku tidak diajak seperti itu. Hampir tiap sore, kecuali di hari sabtu-minggu. Aku diberi latihan-latihan khusus, teman-temanku tidak. Aku diajarkan mendribble dan mengoper bola sedangkan kawanku tidak.

            Jadinya kemampuanku yang dulu hanya bisa lebih melempar bola menjadi jauh lebih tinggi dibanding teman-temanku yang lain. Perbedaan kemampuanku dan temanku menjadi semakin membesar.

            Padahal kupikir, jika teman-temanku juga ikutan latihan khusus dari guru olahragaku, pasti mereka sama hebatnya sama diriku. Bahkan bisa jadi lebih baik daripada aku.

            Sekarang kau tahu kan? Aku bukannya berbakat. Aku hanya beruntung saat ujian melempar bola, bolaku masuk. Dari situ aku mendapat latihan yang tidak didapatkan orang lain.  Maka sudah wajar kalau kemampuanku di atas teman-temanku yang tidak mendapat latihan sepertiku.

            Untuk aku yang selalu rangking satu. Kau pasti bisa mengira apa yang terjadi. Karena kebetulan nilaiku bagus, aku rangking satu. Karena aku rangking satu, aku jadi mendapat perlakuan yang agak berbeda dari guru-guruku. Kadang kalau aku tidak paham akan suatu pelajaran guruku akan lebih sabar kepadaku. Dan itulah kenapa aku selalu rangking satu.


Senin, 17 Oktober 2016

Kuliah Umum Kosong



                “Bom, kau besok datang ke kuliah umum dosen piter tidak?”
                “Hmmm… kayake tidak deh.”

                “Kenapa emang? Sibuk? Kuliah umum bersifat wajib lho ya. Kau tahu kan dosen Piter agak killer kalau tahu mahasiswanya ada yang bolos kuliah umum ini? Bisa-bisa dapat nilai E lho kamu ntar.”

                “Hmm… iya juga si. Tapi coba pikir deh, kelas kita jumlah mahasiswanya aja ada seratus orang, hilang satu dua kepala seperti punya kita ini juga nggak bakalan keliatan kok. Ya kan?”

                “Hmm… benar juga apa katamu, kalau Cuma kita saja yang nggak datang, nggak bakal keliatan dan ketahuan.”

                Bom dan Jon melanjutkan kembali santap lahap mereka di warung dekat kosan.
***

                Dosen Piter telah mempersiapkan file presentasi untuk kuliah pagi ini semalaman. Ia telah membuat materi sebaik mungkin sampai hanya tidur dua jam. Baginya, materi tentang etika, nilai dan kejujuran begitu penting untuk disampaikan kepada mahasiswanya agar kelak hal tersebut membekas di hati mereka. Mengetahui dunia paska perkuliahan bisa menjadi hal tak ternilai yang bisa disampaikan.

                “Ahh, pasti ramai kelasku ini karena aku sudah memberikan undangan dan pengumuman satu-satu kepada para mahasiswaku. Di bagian bawah pengumuman juga sudah kutuliskan bahwa kuliah umum kali ini begitu penting.”

                Dosen Piter telah masuk ke lobbi jurusan, bergegas menuju ruang kelas karena merasa tidak mau terlambat. Ia tidak ingin para mahasiswanya harus menunggu dirinya terlalu lama.

                “Krek!” bunyi gagang pintu yang diputar Dosen Piter.

                “Selamat pagi se…” kalimat tersebut tertahan karena ruangan kelas tak berisi satupun manusia di dalamnya kecuali dirinya. Bangku-bangku tak bertuan. Tidak ada satupun mahasiswa yang datang ke kelas.

                Semua mahasiwa berpikiran sama dengan apa yang Bom dan Jon pikirkan.
                “Pasti tidak akan ketahuan kalau cuman saya yang tidak datang.”
***
                               

               



Sabtu, 15 Oktober 2016

Ciko yang Menyukai Hujan


Oktober 2016

                Ciko menyukai es krim. Apalagi kalau dimakan ketika cuaca panas dan udara begitu gerah. “Ah enak sekali” ucap Ciko sambil memejamkan mata. Tapi Ciko tidak suka es krim ketika badannya demam, bahkan sampai menggigil. Es krim akan membuat demamnya menjadi semakin naik, dan oleh karena itu Ciko dilarang makan es krim.

                Ciko menyukai hujan, karena ia bisa bersenang-senang bersama rintik-rintik air yang turun dari langit itu. Bisa lompat sana sini, melangkah dari satu kubangan ke kubangan lain. Bahkan kadang ketika hujan mengguyur saat ia bermain sepakbola di lapangan, ia akan meluncur dengan menggunakan tackle untuk merebut bola dari lawan. Tapi ketika waktunya tidak pas, Ciko juga tidak menyukai hujan. Misalnya saat ia ingin berangkat sekolah dan hujan turun dengan lebatnya. Atau misal ketika rumah Ciko dulu terendam air banjir, Ciko justru berharap untuk waktu itu hujan jangan turun dulu dari langit.

                Ciko senang ketika ciko menyukai sekarang, tapi Ciko merasa belum waktunya untuk Ciko menyukai sekarang. Ciko jadi tidak menyukai apa yang Ciko sukai karena waktunya yang tidak pas. Seperti ia tidak suka es krim padahal ia suka es krim ketika ia demam.

                Ciko yang suka sekaligus tidak suka pada hal yang sama.
Ciko jadi bingung dibuatnya.


Jumat, 14 Oktober 2016

Sabtu, 08 Oktober 2016

Tulisan Radin


8 Oktober 2016

            “Eh kau sudah baca tulisan Radin?”
            “Yang buang cintamu dan raih citamu itu?”
            “Iya bagus ya..”
            “Bagus memang. Aku salut. tapi…”
            “Kok tapi?”

            “Seperti yang Radin tuliskan, itu mudah kalau memang tidak harus komunikasi atau bertemu. Tapi lain cerita kalau misalnya masih ada kemungkinan ketemu. Apalagi kalau ketemunya nggak menyangka kalau bakal ketemu.”

            “Heeeee?”

            “Rasa-rasanya kalau pas ketemu, ingin nutup wajah serapat-rapatnya, atau kalau ada jubah yang bisa bikin nggak keliatan ingin pakai dengan segera. Atau kalau bola pokemon itu ada, rasanya ingin dilempari saja biar aku bisa masuk di dalamnya.”
***



Senin, 26 September 2016

Kehidupanku dan Kehidupannya


September 2016

            Namaku Diko, dan aku selalu iri dengan Ciko, rangkingnya di kelas selalu menduduki peringkat teratas di kelas kami. Kau perlu tanya berapa rangkingku? Aku pikir tidak perlu kusebutkan angkanya, yang jelas selalu berada di sepuluh terakhir dari bawah.

            Aku pikir aku merasa selalu iri kepadanya, setiap sore aku selalu bisa melihat Ciko keluar dari rumah di antar oleh sopirnya. Aku pernah bertanya langsung kepadanya, tiap sore itu pergi kemana? Dan seperti yang sudah kuduga, sorenya dia belajar di tempat les sampai malam. Sore dia mempelajari pelajaran di sekolah, malamnya ternyata ia belajar tentang kesenian. Biola dan melukis lebih tepatnya.

            Iya, aku selalu iri dengan dirinya, ketika teman-teman mendekat dan bertanya tentang soal-soal sulit di kelas. Melihat itu aku jadi sering berpikir.

            Oh seandainya kehidupanku berada di kehidupannya.

***

            Namaku Ciko, memang aku selalu berada di rangking satu di kelasku. Dan untuk terus mencapai peringkat itu, orangtuaku memintaku untuk datang les tiap sore untuk pelajaran sekolah, dan les kesenian di waktu malamnya. Tapi apakah aku pikir aku bahagia dengan segala juara di kelas itu? Jujur aku tidak tahu bahagia atau tidaknya. Yang aku tahu pasti, aku merasa iri dengan kawan kelasku yang bernama Diko.

            Meskipun peringkat di kelas dia tidak pernah di atasku, tapi jujur aku iri dengan Diko. Orang-orang datang kepadaku dengan membawa soal matematika maupun ipa, tapi teman-teman yang datang kepada Diko selalu bercerita apa saja. Mereka terlihat nyaman ketika berada di samping Diko. Sedangkan jika di sampingku, ketika sudah dapat jawaban dari soal mereka berterima kasih dan pergi begitu saja.

            Sering ketika aku keluar gerbang untuk berangkat les pelajaran, kulihat Diko dan kawan-kawanku sedang bermain bola atau layang-layang di lapangan.

            Tampak hidup dia begitu menyenangkan.

            Oh seandainya kehidupanku berada di kehidupannya.

Jumat, 23 September 2016

Apa Aku Harus Mendaftar?


22 September 2016

                Sekelompok siswa itu tengah duduk-duduk di lapangan sambil mengatur nafas. Beberapa butir peluh terlihat menetes dari kening para siswa. Mereka terengah-engah setelah berlari sekuat tenaga memutari lapangan sepakbola sebanyak tiga kali pada jam olahraga.

Bahkan Rehan dan kawannya yang bernama Reza tengah menggelepar di atas rumput hijau, ketika kloter yang lain tengah bersiap di garis start.

“Sialan, larinya Indra kencang sekali. Dan lihat di sana, dia sama sekali tidak tampak kelelahan seperti kita berdua.” Gumam Rehan kepada teman sebelahnya yang ikut terkapar.

“Hahaha, iya. Nafasku serasa hampir minta cuti dari tenggorokan.”

“Za,”
“Kenapa?”
“Kau tadi sudah lihat kan betapa kencangnya lari si Indra itu?”
“Iya, terus?”

“Bulan depan akan ada turnamen lari tingkat kabupaten. Dan aku tahu Indra sudah mendaftarkan diri. Menurutmu apa ada kemungkinan aku bisa mengalahkannya? Ataukah lebih baik aku tidak ikut mendaftar saja karena sudah ada dia?”

“Kau mengalahkan Indra dalam hal lari? Kemungkinannya sangat kecil.”

Rehan masih memandang langit dari tempat dia berbaring. Mau bagaimanapun juga, apa yang diucapkan kawannya Reza memang benar.

“Tapi aku tahu satu hal…” Reza berdiri sambil mengelap keringat dengan handuknya. Handuk yang sekarang begitu basah oleh keringat. Di tangan kirinya ia menggegam sebotol minuman.

“Tahu apa?”

“Tapi jika kau tidak mendaftar, kemungkinan itu tak kan pernah ada.” Reza berlari setelah melempar handuk basahnya tepat di wajah Rehan.

“Awas kau, jangan lari!” Rehan beranjak dan langsung mengejar kawannya yang berlari menghindarinya. Rehan berlari dengan tertawa.


Mimpi


September 2016

                Lelaki itu tampak murung, wajahnya tidak begitu bersemangat. Kini di hadapannya ada kakak kelasnya di kampus dulu. Orang yang selalu dia hormati dan hari ini ia datang khusus untuk bertemu dengan dirinya. Lelaki itu Ingin menanyakan suatu hal kepada kakaknya. Seorang kakak yang menurutnya begitu banyak menuai prestasi.

                “Kak, kok sampai sekarang aku belum berprestasi ya?”
                “Maksudnya?” tanya si kakak kelas memastikan.

                Maka lelaki itu menjelaskan panjang lebar. Menyebutkan satu per satu apa yang dia sebut sebagai suatu pencapaian. Ia juga menyebutkan hal-hal menakjubkan yang telah dicapai oleh kakak tingkatnya itu.

                Kakak tingkat mengangguk pelan.

                “Aku tidak tahu bagaimana trik khusus atau tips-tips untuk mencapai apa yang kau sebut prestasi itu. Tapi jika kau tidak berprestasi, bisa jadi karena yang sekarang kita kejar adalah mimpi orang lain. Bukan mimpi kita sendiri.”

                “Mimpi orang lain?” desah lelaki itu pelan.


Apa Kau Tidak Takut?


September 2016

                “Hei, saat kau menceritakan impianmu kepada orang lain, apa kau tak kepikiran bagaimana kalau impianku itu tak terwujud?”

                "Aku sama sekali tidak malu untuk menceritakannya
                Aku merasa, kalau aku terus mengatakannya, itu benar-benar akan terwujud."

                Kata-kata itu, entah kenapa kata-kata itu menggetarkan hatiku.



Senin, 27 Juni 2016

Takjil yang Bukan Paling Favorit



                Aku ingin bercerita kepadamu tentang takjil yang bukan paling favorit. Karena jika kau tanyakan padaku takjil apa yang paling kusuka, aku akan sigap dan lancar menjawab takjil yang dibuat ibuku dan dimakan bersama keluargaku. Aku yakin diriku bukanlah satu-satunya orang yang akan memberikan jawaban seperti ini. Mungkin kau juga. Karena entah kenapa kalau soal keluarganya segalanya lebih berasa meskipun dengan menu takjil paling sederhana.

            Aku tak akan bercerita takjil apa yang sering ibuku buat, sungguh aku takut nanti air liurmu keluar atau kau buru-buru hendak mampir ke rumahku di waktu berbuka. Bukannya kau tidak boleh mampir, hanya saja jarak jogja ke comal kotaku sangatlah jauh. Jadi kali ini aku hanya ingin bercerita tentang takjil yang bukan paling favorit di Jogja. Tempat biasaku bertemu denganmu.

            Kau pasti sudah hafal betul bahwa menjadi anak kos-kosan di kampus sekitaran Jogja mempunyai berkah tersendiri di bulan puasa ini. Masjid-masjid di sekitar tempatku menuntut ilmu ini banyak yang memberikan takjil untuk berbuka puasa secara cuma-cuma, dan kadang tidak tanggung-tanggung langsung beratus bungkus menu berbuka sudah dipersiapkan. Nah ya aku dan temanku sebagai mahasiswa tidak menolak dengan kedermawaan orang-orang sini. Dan karena itu kudoakan kebaikan kepada mereka. Semoga kebaikan yang mereka berikan akan kembali dalam keberkahan yang berlipat-lipat.

            Pernah di suatu sore aku diajak oleh salah satu kawanku. Menjadi obrolan wajib sebelum memilih masjid mana yang hendak kita sambangi sore itu.

            “Eh buka dimana, Bro?”
            “Di masjid yang di sana aja yuk, biar deket kontrakanku yang baru?”
            “Enggak di tempat biasa aja?”
            “Sekali-kali  lah”

            Mendengar kalimat sekali-kalilah membuat hatiku condong mengikutinya. Ya hitung-hitung safari masjid kalau kata temenku yang satu itu.

            “Menu apa ya yang kita dapat hari ini?”

            Agak kaget ketika kaki melangkah masuk ke dalam masjid. Di masjid yang biasa kami  datangi, kotak-kotak menu takjil sudah terbariskan rapi dan kita hanya perlu duduk sembari mendengarkan kajian sore sebelum buka. Sedangkan masjid yang kudatangi sore itu lain, tak ada kardus makanan.

            “Ah mungkin kalau sudah adzan nanti dibagikan atau ada tempat khusus,” batinku.

            Adzan telah berkumandang dan ada mas-mas yang mempersilakan kita untuk beranjak ke sebelah masjid. Sudah ada teh dan kardus kecil yang sama dengan dibawa oleh anak-anak TPA selesai mengaji.

            “Lho, kok kecil?” kalimat itu tak pernah terucap karena ia hanya bersemayam di hatiku yang heran.

            “Tahu gitu aku ke masjid biasa.” Lagi-lagi kalimat ini hanya ada di pikiranku.
            Semua orang yang berada di masjid kemudian sholat maghrib berjamaah.

            ***

            Beberapa orang menyodorkan nasi kepada jamaah yang keluar dari masjid seusai sholat. Aku menerimanya, kotak nasi yang kupikir tidak akan kudapatkan. Kami berdua beranjak pulang. Diperjalanan kami berbincang banyak hal, termasuk hal yang mengganjal di pikiranku.

            “Aku kira nggak bakalan dapat makan tadi, Bro?”
            “Kenapa emang?”
            “Ya tahu gitu kan mending ke masjid yang biasa aja.”
            “Lho emang ada kewajiban mereka po memberi kita nasi?”
            “Tidak,” dan lidahku tiba-tiba tergigit dengan pertanyaan yang dilontarkan kawan sebelahku.
            ***

            Sore itu, dari sekotak takjil yang bukan paling favorit aku mengerti satu hal. Rasa yang mengganggu di pikiranku itu ada karena sebelum berangkat aku sudah berpikir akan mendapat sesuatu. Sekotak nasi. Sore itu aku mulai berekspektasi. Dan layaknya semua ekspektasi, jika tidak memenuhi, maka hanya akan ada rasa kecewa hati. Toh memang tak ada kewajiban mereka untuk memberikan sesuatu kepadaku.

            Hari itu, kalau saja aku tidak berharap apa-apa, aku pasti akan lebih bersyukur menerima apapun yang diberikan. Secara, harusnya malah aku nggak dapat apa-apa.

            Ah iya, sore itu rasa takjil yang bukan paling favorit itu jadi terasa berbeda.

            Terima kasih kepada beliau-beliau yang telah berbaik hati berbagi di tiap waktu berbuka kami.


Jumat, 13 Mei 2016

Sampai Mana Skripsimu?



Matahari tengah menggantung gagah tepat di atas ubun-ubun kepala. Perempuan itu berjalan menuju tempat parkiran jurusan sebelah mushola. Ia menghampiri motor matik-nya untuk bersegera pulang ke kosan.

                “Eh, Na. buru-buru amat?”
                “Eh kamu, Lin. Darimana saja kau? Kok belepotan gitu?”
                “Ah biasa ini mah, dari ngelab.”
                “Skripsi pasti ya?”

                Linda hanya meringis sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

                “Eh, Na. Skripsi sudah sampai mana?”

                Nana hanya terdiam. Memasukkan kunci ke colokan motor matiknya. Ia memakai helm dengan kepala tertunduk. Senyap. Meskipun suasana parkiran begitu ramai setelah jam kuliah usai, tapi begitu senyap antara kedua perempuan itu.

                Nana memacu motornya dengan pelan.

                “Sampai mana skripsku? Sampai lupa.”





Jumat, 22 April 2016

Menyampaikan pesan

23 April 2016

                Mereka tengah duduk melingkar, saling mengutarakan ide tentang apa yang hendak ditampilkan. Beberapa bahkan tampak nyala api berkobar di matanya. Saking semangatnya. Hanya satu orang it yang daritadi sibuk menghabiskan camilan.

                Lelaki itu sejenak berhenti, dan akhirnya dia mengeluarkan suara. Lebih tepatnya ia bertanya.

                “Jadi apa keputusannya?”
               
“Cerita nakula dan srikandi yang bisa diambil hikmahnya dan relevan dengan kehidupan kita.”

                “Hmmm…” orang yang bertanya kini hanya berekspresi datar.

                “Kira-kira hikmah yang kita ingin tampilkan apa ya?”
                Di kening lelaki itu kini mengalir bulir-bulir keringat.

                “Yang hikmahnya ngena banget. Biar penonton dapat manfaat yang waah.”
                Lelaki itu tiba-tiba jatuh pingsan. 

Malam itu - Haflah


22 April 2016

                Malam itu, aku tetap datang terlambat meskipun sudah kupacu santai kuda hitam yang kukendarai. Di jalanan aku memang tidak mau terburu-buru dalam hal apapun, kecuali untuk satu hal dan kurasa kau tidak perlu tahu satu hal itu.

                Beberapa baris anak laki-laki sudah duduk berantakan di aula, beberapa perempuan pun tampak bersender di seberang aula yang lain. Mereka tengah duduk menyimak barang satu dua patah kata yang berkepentingan di depan. Senangnya berkumpul seperti ini itu juga karena tampak serius namun diiringi dengan tawa-tawa lepas yang nadanya seperti tak tertahankan. Ya begitulah, andai sebuah kata dari tulisan ini bernada, kau pasti akan ikut tertawa juga. Tapi sayangnya tidak bernada, jadi cukup kusimpan tawa itu untuk diriku sendiri saja.

                Tawa yang membuat badan lemas, dan tentu juga lapar.

                “Kamu PJ naskah ya…”
                “Eh???” aku sempat hendak menolak. Tapi entah kenapa tidak punya ‘alasan’. Mereka berpikir orang yang bisa menulis cerpen, pasti bisa menulis naskah pentas. Nyatanya aku tidak, aku merasa kesulitan.

                “Kok jadi aku si? Duhhh. Kamu si tadi ngompor-ngomporin di awal-awal. Mulai nyebut-nyebut nama.”
                “Hehe,” yang ditanya kini justru menyungging senyum dan menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

                “Coba kalau nulis cerpen, aku bisa. Lah ini buat naskah pentas, jujur aku tidak bisa. Kenapa nggak cerpen aja si?”

“Jika Kau hanya melakukan apa yang kau bisa, kau takkan menjadi lebih dari kau yang sekarang.”





Rabu, 20 April 2016

Selasa, 12 April 2016

Aku Pikir Kau Menghilang


12 April 2016

                “Semula aku pikir kau menghilang.”
                “Eh?”
                “Iya, aku pikir kau menghilang. Pergi entah kemana.”
                “Terus?”
                “Ternyata aku salah. Aku hanya tidak bisa menemukanmu. Tidak tahu dimana dirimu berada.”

                

Minggu, 10 April 2016

3 Kata Hadiah dari Rehan


9 April 2016

                Malam itu, selepas sholat maghrib, kami melanjutkan agenda kepenulisan seribu mimpi kami. Semua peserta dikelompokkan ke dalam masing-masing peminatan. Dan seperti biasanya, aku memilih cerpen dari empat pilihan.

                Bingung mau menyampaikan apa sebagai materi (dadakan), aku meminta kawan-kawan cerpen kami untuk mengambil selembar kertas dan sebuah pulpen. Kuminta mereka menuliskan 3 kata bebas yang mereka pikirkan.

                Seperti biasa, sebagai jurus andalan aku ingin kami sama-sama menulis dengan menggunakan 3 kata yang tertera. Eits, tapi tiga kata itu bukan dari diri kita masing-masing, tapi apa yang dituliskan oleh kawan kita dan dibagi secara acak.

                Pelangi, Langit dan Matahari. Tiga kata itu yang kuterima dari seorang anak spesial bernama Rehan. Dan ini kembalianku kepadanya meski ia agak kesulitan membaca.
                ***

                Kau tahu matahari? Dari sekian banyak benda di langit, dia adalah makhluk Allah yang selalu ceria. Dan aku punya sebuah cerita tentangnya. Hari dimana matahari meneteskan air mata.

                Pagi itu, matahari berangkat ke sekolah seperti biasa. Ia selalu memaki baju kuning dan tas kuning, warna favoritnya. Tubuhnya besar dan bersinar. Tapi di perjalanan pulang, ia bertemu dengan langit. Kawan kelasnya yang begitu nakal di mata matahari.


                Langit melempari matahari dengan sesuatu yang tidak keras, berwarna gelap, pekat dan hitam. Menimpuk matahari dengan gumpalan awan-awan hitam.

                Matahari menjadi bersedih, karena gumpalan-gumpalan awan itu kini melekat di tubuhnya dan sulit untuk dibuang. Awan gelap yang kini membuat cahaya matahari terhalang. Matahari kini menangis.

                Itulah mengapa tak bisa kau temukan matahari di langit ketika hujan. Karena matahari sedang menangis tertutup oleh awan mendung hitam.
                ***

                “Ibu, Langit telah jahat kepadaku. Ia melempariku dengan gumpalan hitam jelek ini.”
                “Jangan kau bilang begitu. Barangkali Langit tidak bermaksud jahat padamu. Segeralah kau mandi, Nak.”

                Gumpalan hitam itu ikut rontok bersamaan dengan guyuran dari gayung. Matahari yang semula menangis, kemudian tersenyum.

                Ia tak menyangka, di sekitar tubuhnya sekarang muncul sesuatu yang indah dan penuh warna bernama pelangi.



               

                

Kamis, 31 Maret 2016

Percaya Pada Seseorang


31 Maret 2016

                “Percaya pada seseorang” itu kalimat yang sangat aneh bukan?
                Soalnya, jika kau benar-benar percaya pada seseorang, kau tak perlu mengatakan “Aku percaya padamu”, kan?
                Seperti kita percaya pada udara.

                Jadi maksudmu karena ada keraguan makanya kau mengatakan percaya?
                Tapi bukan berarti “percaya pada sesuatu” itu seperti berbohong.


                “Percaya” itu seperti kata kunci utama untuk ingin percaya pada sesuatu.

Selasa, 22 Maret 2016

Daripada


22 Maret 2016

                Angin dari sawah melintas melalui balkon rumah. Sejak sepulang sekolah tadi, Lana telah duduk santai menatap buku dengan sebungkus cemilan. Sesekali pandangannya terhenti dari buku, mengubah arahnya ke sawah di depan rumah. Bagi Lana, mengamati padi yang masih hijau bagai menonton tarian liuk-liuk persembahan dari alam.

                “Lana, dari tadi kakak lihat kau fokus banget dan tampak begitu nikmati baca bukunya.” Kak Rehan yang sejak daritadi bermain basket di halaman rumah sekarang mendekat. Ia pelan-pelan mengusap rambut hitam Lana.

                “Iya bagus, Kak. Lana pingin bisa menulis seperti penulis buku ini.”
                ***

                Gadis kecil berambut pony tail tampak serius menggerakkan jemari di atas kertas. Beberapa kali ia melemparkan kertas berisi tulisan yang telah diremas ke dalam tong sampah. Bahkan hampir separuh tempat sampah terisi bulatan-bulatan kertas.

                “Kamu kenapa e?”
                “Kak, coba baca ini. Bu guru mengasih tugas buat karangan. Dan ini karangan Lana.”

                Rehan menggeser kursi kemudian duduk di samping Lana. Ia mulai membaca coretan di atas kertas milik Lana.

                “Lana, tulisanmu bagus.”
                “Hmmm…”
                “Lho kok gitu?”
                “Masih jauh dan tidak mirip dengan penulis buku kemarin yang Lana baca, Kak.”

                Rehan yang daritadi menghadap meja belajar, sekarang menggeser  arah duduknya. Kakak-adik itu sekarang berhadap-hadapan. Saling memandang mata satu sama lain.

                “Daripada menulis indah seperti orang lain. Aku lebih suka kau menulis untuk dirimu sendiri. Tulisan yang sangat mewakili dirimu.” ujar Rehan sambil mengusap rambut Lana dan menepuk pundak adiknya itu.