Jumat, 23 Oktober 2015

Mengidolakan Tulisan Seseorang

Hilal, apa kabar?

            Rasanya aneh sekali ya kalau kutanyakan kabarmu. Setelah hari itu aku mulai berpikir untuk mengobrol juga denganmu. Meski tidak lewat lisan, tapi lewat tulisan. Hari itu aku ingin mulai bercerita banyak kepadamu? Kau tidak keberatan bukan?

            Kau pernah jadi fans akan sesuatu Hil?

            Misalkan kau menyukai seorang artis penyanyi. Kemudian karena ketertarikanmu akan artis tersebut kau begitu menantikan dirinya mengeluarkan album lagi sesegera mungkin. Penasaran lagu seperti apa lagi yang bakalan artis favoritmu ciptakan dan nyanyikan?

            Itu jikalau yang kau sukai adalah seorang penyanyi. Lalu bagaimana jija yang kusukai adalah sebuah tulisan. Dan gejalanya sama. Aku mulai menantikan dua orang itu memunculkan tulisan-tulisan baru di rumahnya.

Minggu, 11 Oktober 2015

Pesan Pak Anwar dari Malaysia


            Teringat sebuah pesan, yang mungkin saking bebalnya diriiku harus pula disampaikan di tanah Malaysia. Tak bisa kudapat dengan kesadaran diri dari sebuah renungan. Mungkin saking bengalnya, Allah harus mengirimkan ku ke sebuah kampung baru di Kuala Lumpur, mempertemukan diriku dengan seorang TKI yang bekerja sebagai tukang sol sepatu di dekat masjid.

            Meski sempat terlupa, namun malam ini seolah diingatkan kembali akan pesan beliau. Bibit-bibit ini muncul kembali, bibit berbahaya yang menggerogoti segalanya.

            Sewaktu Nagita kemarin, para Nakula membuat suatu game seharian. Dimana dari 30 orang dibagi menjadi berkelompok-kelompok. Masing-masing kelompok berjumlah 5-6 orang. Tugasnya sederhana, kita harus berjalan ke suatu tempat dan menemui TKI yang bisa kita temui dalam perjalanan tersebut. Bertanya sesuatu hal, mengambil pelajaran dari kisah hidup beliau. Serta memungut kesadaran dari apa yang TKI yang kita temukan nantinya.

Minggu, 04 Oktober 2015

Rabu, 30 September 2015

Kata Orang Cinta



Orang-orang yang pernah melancong ke luar negeri sering bilang bahwa kita akan mencintai Indonesia setibanya di negeri orang. Aku percaya begitu saja? Tentu tidak. Lagian dulu serasa tidak masuk akal. Bukankah negeri orang terlihat lebih maju daripada negeri kita sendiri? Mana bisa lebih mencintai meninggalkan sosok yang dicintai dan beranjak menemui sosok lain? Meski secara logika tidak begitu terasa benar, namun pikiran ini tidak sepenuhnya menolak statement kita akan mencintai Indonesia setibanya di negeri orang.

Hari itu, ketika gema takbir berkumandang, kami Nakula lepas landas dari Bandara Adi Chip, meninggalkan kampung halaman di kala Idul Adha menjelang. Menjadikan tahun ini satu-satunya idul Adha tanpa makan sate dan daging kurban (#ah sedih). Tapi tak apalah, demi sebuah pembuktian kecintaan akan negeri yang sering orang bilang.

Kami terbang, Nakula mengangkasa kemudian turun lagi ke tanah Malaya.

Selasa, 29 September 2015

Deklarasi Kuala Lumpur

Dengan menyebut nama Allah, semoga Gusti Allah meridhoi dan merahmati next step ini :


1.   Menghargai sholat. Karena begitu terasa disini bahwa sholat adalah suatu hal yang begitu berharga. Mungkin karena di Indonesia sholat mudah dilakukan dimana saja, jadi terlupa betapa pentingnya ibadah tersebut untuk dijalankan. Bukan karena “HARUS” tapi karena “MAU”
2.      Menghargai bahwa hidup hari ini itu indah – sumprit yang ini sulit beud
3.      Tak membenci,  benci itu kejahatan yang tidak memberikan manfaat sama sekali
4.      Menggenapi buku “Aku Sebuah Cerita”
5.      Berkunjung ke lebih banyak tempat di kawasan dengan perbedaan waktu yang lebih panjang)
6.      Punya anak asuh
7.      Dedikasi untuk Allah

Masjid Negara – Kuala Lumpur, September 2015

Dia yang ingin berubah
Irkham Maulana

Nur Khasanah - Hilal

Berapa halaman yang  sudah terpakai untuk mengutarakan perasaan kita
Entah kenapa satu baris masih kosong
Menandai buku harian
Bersama dengan kamu mengendarai sepeda kuno
Ke tempat dimana kita membangun kenangan bersama-sama

Mendaki bukit  yang dapat terlihat lautnya
Menakutkan, langit biru yang itu
Tangan kiriku di atas tangan kananmu. Selalu mencari kamu

Untuk sekarang, kau tidak perlu menatapku dengan sungguh-sungguh
Kita berdua masih dekat, ada disini
Kenapa, masih merasa rindu ingin bertemu?
Ada apa sebenarnya?